
Harnas.id, BOGOR – Keluhan asam lambung yang sering muncul dalam bentuk nyeri ulu hati, sensasi panas di dada hingga rasa asam yang naik ke tenggorokan masih kerap dianggap sebagai masalah kesehatan ringan. Padahal, kondisi yang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tersebut dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius apabila tidak ditangani secara tepat.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan saluran cerna menjadi perhatian sejumlah tenaga medis. Tidak sedikit penderita yang baru memeriksakan diri ketika gejala sudah berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sebagai bagian dari peringatan World Digestive Day 2026, Siloam Hospitals Bogor menggelar seminar kesehatan bertema “Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)” di Savero Style Hotel, Bogor, pada 25 Mei 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sistem pencernaan sekaligus mengenali gejala penyakit saluran cerna sejak dini.
Seminar tersebut menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, dr. Agus Taolin, Sp.PD, Subsp.GEH. Dalam pemaparannya, dr. Agus menjelaskan berbagai aspek terkait GERD, mulai dari penyebab, gejala yang umum dialami pasien, faktor risiko, hingga langkah penanganan yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi semakin memburuk.
Menurutnya, masalah pada saluran pencernaan masih sering luput dari perhatian karena banyak orang menganggap gejalanya akan hilang dengan sendirinya tanpa pemeriksaan medis.
“Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan saluran cerna perlu terus ditingkatkan karena keluhan pencernaan sering kali dianggap sepele. Skrining saluran cerna penting dilakukan terutama pada individu berusia di atas 50 tahun, mereka yang memiliki gejala yang mengganggu, atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker saluran cerna seperti kanker usus,” ujar dr. Agus.
Ia menegaskan bahwa deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah munculnya komplikasi yang lebih berat. Pemeriksaan yang dilakukan sejak awal dapat membantu dokter mengetahui kondisi saluran cerna secara lebih akurat sehingga penanganan bisa diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Agus juga menyoroti pentingnya pemeriksaan endoskopi sebagai salah satu metode diagnostik yang berperan dalam evaluasi kasus GERD. Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat langsung kondisi saluran cerna bagian atas guna mendeteksi adanya peradangan, iritasi, luka, maupun gangguan lain yang berpotensi muncul akibat refluks asam lambung yang berlangsung terus-menerus.
Selain membahas aspek medis, seminar juga memberikan edukasi mengenai perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengendalikan gejala GERD. Peserta mendapatkan informasi mengenai pentingnya menjaga pola makan, menghindari makanan yang dapat memicu peningkatan produksi asam lambung, serta menerapkan pola tidur yang lebih baik.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membantu mengurangi frekuensi kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Kombinasi antara terapi medis dan perubahan gaya hidup menjadi pendekatan yang banyak direkomendasikan dalam penanganan GERD.
Siloam Hospitals Bogor menyampaikan bahwa layanan endoskopi yang tersedia di rumah sakit didukung fasilitas medis modern serta tenaga kesehatan berpengalaman. Dukungan tersebut diharapkan mampu membantu proses diagnosis secara lebih akurat sekaligus mendukung penanganan pasien secara optimal.
Melalui momentum World Digestive Day 2026, rumah sakit tersebut berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan saluran cerna dan tidak menunda pemeriksaan ketika gejala mulai muncul. Kesadaran untuk melakukan deteksi dini dinilai menjadi salah satu kunci dalam mencegah komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.
Meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit saluran cerna, termasuk GERD, juga diharapkan dapat menekan angka keterlambatan diagnosis. Dengan demikian, proses penanganan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.
Editor: IJS










