Ia menambahkan, penguatan pemahaman tenaga pendidik diperlukan agar mereka mampu mengenali indikasi awal penyebaran paham ekstremisme maupun perilaku perundungan, termasuk yang terjadi di ruang digital.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya pencegahan dan penanganan secara tepat di lingkungan sekolah.
“Melalui workshop ini, kami berharap para tenaga pendidik semakin memahami pentingnya deteksi dini, edukasi, dan langkah pencegahan yang tepat. Dengan kolaborasi berkelanjutan antara Densus 88 AT Polri dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, kita dapat bersama-sama mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak,” tambahnya.
Selain membahas pencegahan IRET, workshop ini menyoroti dampak cyberbullying terhadap peserta didik. Perundungan siber dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, kenyamanan dalam belajar, hingga perkembangan psikologis anak.
Karena itu, tenaga pendidik diharapkan mampu mengenali tanda-tanda peserta didik yang membutuhkan bantuan serta memahami mekanisme penanganan dan pendampingan yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan perlindungan anak.
Penguatan literasi digital juga menjadi salah satu aspek penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menyikapi informasi secara kritis, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghormati orang lain di ruang digital.
Dengan demikian, mereka diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mendorong kebencian, intoleransi, maupun kekerasan.
Melalui workshop ini, Ditcegah Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memperkuat sinergi untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dalam melakukan pencegahan sejak dini. Upaya tersebut diwujudkan melalui edukasi, komunikasi yang sehat dengan peserta didik, serta pendekatan yang mengedepankan dialog dan kepedulian.
Pendekatan tersebut juga menekankan pentingnya menghindari stigma dan pelabelan secara prematur terhadap siswa, dengan tetap mengedepankan pembinaan serta penanganan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Kolaborasi ini diharapkan terus berlanjut melalui edukasi dan peningkatan kapasitas tenaga pendidik secara berkesinambungan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga ruang yang aman dan inklusif bagi anak untuk tumbuh, membangun karakter, serta belajar menghargai keberagaman.
Editor: Erk











