Tiga Cessna Caravan Dikerahkan, BNPB Semai 6,6 Ton NaCl untuk Hujan Buatan di Kalsel-Kalteng

Tim OMC PK-SNK memuat bahan semai ke dalam pesawat sebelum melakukan penerbangan pada Rabu (23/9). Foto: Istimewa
Tim OMC PK-SNK memuat bahan semai ke dalam pesawat sebelum melakukan penerbangan pada Rabu (23/9). Foto: Istimewa

Harnas.id, BANJARBARU – Upaya mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah terus dilakukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan tiga pesawat Cessna Caravan untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyemai bahan Natrium Klorida (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Penguatan armada OMC tersebut mulai dilakukan sejak Selasa (22/9). Tiga pesawat ditempatkan di tiga pangkalan berbeda, yakni Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya dan Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, serta Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Langkah ini dilakukan di tengah kondisi sejumlah wilayah yang terdampak asap karhutla. Daratan Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, misalnya, sempat diselimuti asap pekat yang membumbung dari kawasan lahan gambut yang terbakar.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M. mengatakan optimalisasi OMC merupakan bagian dari arahan dalam rapat evaluasi dan koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

“Asap ini tidak ada teknologi untuk menghilangkannya, hanya ada dua cara. Yang pertama angin, yang kedua hujan,” ujar Suharyanto.

Ia mengatakan potensi awan hujan yang muncul akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan hujan melalui modifikasi cuaca.

“Sekecil apapun potensi adanya awan hujan, kita akan maksimalkan untuk modifikasi cuaca, untuk mendatangkan hujan buatan,” tegasnya.

Salah satu armada yang digunakan dalam operasi ini adalah pesawat dengan registrasi PK-FPU yang beroperasi dari Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Pesawat tersebut menjalankan satu sortie pada Selasa (22/9) dan kembali melakukan satu sortie pada Rabu (23/9).

Pada sortie pertama, PK-FPU melakukan penerbangan dengan waktu Engine On/Off mulai pukul 14.10 WIB hingga 16.24 WIB. Penyemaian awan dilakukan di wilayah Kabupaten Murung Raya pada ketinggian sekitar 11.000 hingga 12.000 kaki.

Dalam penerbangan tersebut, sebanyak 1.000 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) digunakan untuk mendukung proses pembentukan hujan.

Armada lainnya, PK-YNA, berangkat dari Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pesawat ini menjalankan operasi penyemaian awan dari sektor selatan wilayah Kalimantan Tengah.

Selama dua hari operasi, PK-YNA telah melakukan dua sortie dengan total penggunaan bahan semai mencapai 1.600 kilogram NaCl.

Pada penerbangan Rabu (23/9), penyemaian diarahkan ke wilayah Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dan Tabalong, Kalimantan Selatan. Pesawat beroperasi pada ketinggian 10.000 hingga 11.000 kaki.

Dalam pemantauan penerbangan tersebut, tim menemukan awan jenis Cumulus dan Cumulus Congestus. Dasar awan berada pada kisaran 6.000 hingga 7.000 kaki, sedangkan puncak awan berada pada ketinggian sekitar 14.000 hingga 16.000 kaki.

Sebanyak 800 kilogram NaCl digunakan dalam proses penyemaian. Selama operasi berlangsung, arah angin dominan bergerak dari tenggara dengan kecepatan sekitar 6 hingga 7 knot.

Sementara itu, pesawat Cessna Caravan dengan registrasi PK-SNK menjalankan operasi dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Hingga Rabu (23/9), pesawat tersebut telah melakukan empat sortie penerbangan.

Total bahan semai yang digunakan PK-SNK mencapai 4.000 kilogram Natrium Klorida. Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, yakni Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, dan Tapin.

Jika digabungkan, tiga pesawat Cessna Caravan yang dikerahkan BNPB telah menggunakan 6.600 kilogram NaCl dalam rangkaian operasi modifikasi cuaca sejak penguatan armada dilakukan.

Upaya modifikasi cuaca tersebut diikuti laporan turunnya hujan dengan intensitas sedang di sejumlah wilayah. Hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, serta Desa Gunung Batu dan Desa Padangin di Kalimantan Selatan.

BNPB menyatakan operasi modifikasi cuaca masih akan dilakukan secara terkoordinasi dengan mempertimbangkan informasi cuaca terbaru. Pelaksanaan penyemaian akan disesuaikan dengan kondisi atmosfer, hasil pemantauan di lapangan, serta kebutuhan penanganan di wilayah yang terdampak karhutla.

Dengan pendekatan tersebut, keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan lokasi dan waktu pelaksanaan OMC. BNPB terus memantau perkembangan cuaca untuk menentukan sasaran penyemaian berikutnya di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Editor: IJS