Harnas.id, SURABAYA — Cuaca panas ekstrem dengan suhu yang dapat mencapai 40 derajat Celsius berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari dehidrasi hingga kerusakan kulit. Menyikapi kondisi tersebut, pakar kesehatan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dr. Edwin Nugroho Njoto, SpPD, MIPH, MHM, membagikan sejumlah langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan di tengah cuaca panas.
Dokter spesialis penyakit dalam tersebut menjelaskan bahwa peningkatan suhu lingkungan perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan panas. Kelompok lanjut usia (lansia) serta orang dengan penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak cuaca ekstrem.
“Kelompok rentan ini sebaiknya menghindari paparan panas matahari terlalu lama,” ujar dosen Program Studi Kedokteran ITS tersebut.
Edwin menambahkan, dampak gelombang panas atau heatwave tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Suhu panas yang berlangsung dalam waktu lama, terutama di lingkungan tanpa akses pendingin ruangan, dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas tidur serta memengaruhi suasana hati.
“Lingkungan yang panas dan lembap dapat membuat seseorang sulit tertidur dan menjadi mudah marah,” jelasnya.
Panas Ekstrem Juga Mengancam Kesehatan Kulit
Selain berdampak pada kondisi fisik dan mental, cuaca panas juga dapat memengaruhi kesehatan kulit. Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, dr. Desiana Widityaning Sari, SpDVE, MKedKlin, mengingatkan bahwa paparan panas dan sinar ultraviolet (UV) dapat memperburuk kondisi kulit serta meningkatkan risiko berbagai gangguan dermatologis.
Paparan tersebut dapat memicu sejumlah masalah kulit, seperti biang keringat, infeksi jamur, kulit terbakar akibat sinar matahari (sunburn), hingga kekambuhan jerawat. Kondisi kulit yang mengalami gangguan perlindungan juga dapat menjadi lebih rentan terhadap iritasi dan faktor lingkungan.
“Penurunan kelembapan kulit membuat paparan bakteri dan virus menjadi jauh lebih mudah,” terang Desiana.
Lebih lanjut, Desiana menjelaskan bahwa paparan sinar UV secara berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko photoaging atau penuaan dini akibat paparan cahaya, serta kanker kulit.
Meski melanin pada kulit memberikan perlindungan alami terhadap sebagian dampak radiasi UV, perlindungan tersebut tidak sepenuhnya mencegah kerusakan akibat paparan matahari. Karena itu, masyarakat tetap perlu menerapkan perlindungan kulit secara konsisten.
“Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” tegasnya.
Tips Menjaga Kesehatan saat Cuaca Panas
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas, Edwin menganjurkan masyarakat menjaga kecukupan asupan cairan, membatasi aktivitas di bawah terik matahari, serta memperhatikan kondisi tubuh, terutama bagi kelompok rentan.
Ia menyarankan konsumsi air putih yang cukup setiap hari. Kebutuhan cairan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, dan paparan panas. Orang yang mengalami penyakit tertentu atau memiliki pembatasan asupan cairan perlu mengikuti anjuran tenaga medis.
Sementara itu, untuk menjaga kesehatan kulit, Desiana menganjurkan penggunaan tabir surya serta kebiasaan menjaga kebersihan diri. Masyarakat juga disarankan segera mengganti pakaian yang basah atau lembap dan menjaga kulit tetap bersih untuk membantu mengurangi risiko iritasi serta infeksi jamur.
“Dengan menerapkan pola hidup bersih dan terlindungi, risiko kesehatan akibat heatwave dapat ditekan,” tuturnya.
Masyarakat juga perlu mewaspadai tanda gangguan akibat panas, seperti pusing, kelemahan, mual, kram otot, atau tanda dehidrasi. Apabila muncul gejala berat, seperti kebingungan, penurunan kesadaran, atau suhu tubuh sangat tinggi, segera cari pertolongan medis darurat.
Melalui pemahaman mengenai risiko kesehatan dan penerapan langkah pencegahan yang tepat, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi cuaca panas ekstrem di tengah perubahan iklim global. Upaya menjaga kecukupan cairan, membatasi paparan panas, dan melindungi kulit menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Edukasi kesehatan yang dilakukan para pakar ITS ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
(HUMAS ITS)











