Harnas.id, SIKKA — Bantuan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali tiba pada Senin (17/8/2026). BNPB bersama tim gabungan memanfaatkan jalur laut untuk membawa logistik dalam jumlah besar ke wilayah kepulauan yang masih menghadapi kendala akses pascabencana.
Pengiriman tersebut merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus mempercepat penanganan darurat. Sebelumnya, bantuan tahap pertama telah dikirim pada Minggu (16/8/2026) menggunakan speedboat milik Polair.
Pada pengiriman kali ini, bantuan yang dibawa mencakup berbagai kebutuhan pengungsian dan perlengkapan pendukung aktivitas warga. Rinciannya meliputi:
- 150 unit tenda keluarga;
- 400 lembar matras;
- 6 unit genset;
- 6 jerigen BBM dengan kapasitas masing-masing 20 liter;
- 10 boks peralatan listrik;
- 600 paket sembako;
- 100 dus air minum;
- 1,6 ton beras untuk kebutuhan selama satu minggu;
- 300 lembar selimut;
- 100 paket hygiene kits;
- 100 paket kidsware;
- 150 liter minyak goreng.
Ferry KMP Ile Ape yang mengangkut bantuan tersebut tiba di Pulau Palue pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 17.20 WITA. Setelah kapal bersandar, tim langsung melakukan pembongkaran terhadap berbagai logistik dan peralatan untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan diterima langsung oleh Sekretaris Camat Palue, Maria Bernadeta Roja. Dari titik penerimaan, logistik selanjutnya harus dibawa melalui jalur darat menuju sejumlah lokasi terdampak dengan kondisi jalan yang masih menjadi tantangan bagi tim di lapangan.
Kerusakan akses jalan akibat gempa M7,7 membuat proses distribusi tidak bisa dilakukan dengan mudah. Meski demikian, personel gabungan tetap menempuh jalur tersebut agar bantuan tidak berhenti di titik kedatangan dan dapat diterima langsung oleh warga terdampak.
Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa kebutuhan hunian dan pangan. Bantuan juga mencakup obat-obatan serta tenaga kesehatan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis selama masa tanggap darurat.
Sebanyak delapan tenaga medis dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Puskris Kemenkes) turut diterjunkan ke wilayah terdampak. Kehadiran tenaga medis tersebut menjadi bagian dari penanganan kebutuhan kesehatan masyarakat di tengah kondisi pascagempa.
Di sisi lain, pemulihan jaringan kelistrikan di Pulau Palue masih berlangsung. Berdasarkan data PLN UP3 Flores Bagian Timur per Senin (17/8/2026) pukul 17.00 WITA, dari enam gardu distribusi yang terdampak, empat unit sudah kembali menyala, sedangkan dua gardu lainnya masih padam.
Perbaikan terus dilakukan untuk mengembalikan seluruh layanan listrik yang terdampak gempa. Pemulihan kelistrikan menjadi salah satu kebutuhan penting karena berkaitan dengan aktivitas masyarakat, pelayanan dasar, serta operasional fasilitas pendukung di wilayah terdampak.
Pemanfaatan jalur laut menjadi pilihan penting dalam distribusi bantuan ke Pulau Palue. Moda tersebut memungkinkan pengiriman logistik dalam jumlah besar, sementara jalur udara tetap dimanfaatkan sebagai alternatif untuk mempercepat mobilisasi bantuan dan menjangkau wilayah yang membutuhkan.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan unsur terkait terus melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat di Pulau Palue. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk mengetahui kebutuhan yang masih belum terpenuhi sekaligus menentukan bentuk bantuan lanjutan.
Kondisi geografis wilayah kepulauan dan kerusakan sejumlah akses pascagempa membuat distribusi bantuan membutuhkan pengaturan tersendiri. Karena itu, keberadaan jalur laut dan dukungan moda transportasi lainnya menjadi bagian dari strategi penanganan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara bertahap.
Penyaluran bantuan ke Pulau Palue menjadi bagian dari penanganan darurat untuk memastikan warga terdampak, termasuk masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas, tetap memperoleh kebutuhan dasar. Pemerintah dan seluruh unsur terkait terus menyesuaikan distribusi dengan kondisi serta kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Informasi tersebut disampaikan Berton SP Panjaitan, Ph.D., Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Editor: IJS










