
Harnas.id, JAKARTA — Penanganan darurat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki tahap distribusi bantuan dalam skala besar. BNPB bersama TNI dan sejumlah mitra kemanusiaan mengoperasikan jalur udara dan laut untuk mengirim kebutuhan dasar masyarakat ke sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut diawali dengan koordinasi Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Dra. Andi Eviana, M.Si., bersama Plt. Direktur Optimasi Jaringan Logistik dan Peralatan BNPB Brigjen TNI Herry Setiono dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Posko TNI AU Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Senin (17/8/2026).
Koordinasi dilakukan untuk memastikan dukungan logistik sekaligus transportasi udara dapat bergerak sesuai kebutuhan di lapangan. Hasil koordinasi kemudian ditindaklanjuti melalui penguatan operasi distribusi dari Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma.
Operasi distribusi bantuan berskala besar tersebut telah berlangsung sejak Sabtu (15/8/2026). Pemerintah, TNI, dan berbagai mitra kemanusiaan terlibat dalam proses pengumpulan, konsolidasi, hingga pengiriman bantuan ke wilayah terdampak gempa.
Pada Senin (17/8/2026), tiga penerbangan pesawat angkut berat TNI AU diberangkatkan menuju wilayah NTT. Total muatan yang dibawa mencapai 40.567 kilogram atau sekitar 40,5 ton logistik.
Penerbangan pertama menggunakan pesawat Hercules A-1328 dengan rute Halim Perdanakusuma (HLM)-Labuan Bajo (LBJ)-Halim Perdanakusuma (HLM). Pesawat tersebut membawa 13.504 kg bantuan untuk kebutuhan darurat di wilayah barat NTT.
Muatan penerbangan pertama terdiri atas paket sembako dari Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres) seberat 3.019 kg atau sebanyak 549 koli. Selain itu, terdapat dua unit tenda rumah sakit lapangan dari Pusat Krisis Kesehatan (Puskris) dengan total berat 10.485 kg.
Bantuan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendukung pelayanan kesehatan bagi warga terdampak yang masih membutuhkan penanganan di tengah kondisi darurat.
Distribusi berikutnya menyasar wilayah tengah dan timur NTT. Penerbangan kedua menggunakan Hercules A-1344 dengan rute Halim Perdanakusuma (HLM)-Maumere (MOF)-Halim Perdanakusuma (HLM) dan membawa 13.563 kg logistik.
Sebagian besar muatan berupa 13.500 kg paket sembako dalam 2.454 koli yang berasal dari Setmilpres. BNPB juga mengirimkan bantuan nonpangan berupa 200 potong kaos dengan berat 48 kg.
Kementerian Pertahanan turut menyertakan bantuan obat-obatan sebanyak 15 kg dalam enam koli. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di lokasi pengungsian.
Sementara itu, penerbangan ketiga kembali menggunakan rute Halim Perdanakusuma-Labuan Bajo-Halim Perdanakusuma dengan pesawat Hercules A-1339. Pesawat tersebut membawa total 13.500 kg logistik.
Muatan penerbangan ketiga terdiri atas 13.100 kg paket sembako dalam 2.380 koli dari Setmilpres. Selain itu, Rumah Zakat mengirimkan 400 kg kornet kaleng dalam 40 koli untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdampak.
Pengiriman melalui udara menjadi salah satu pilihan untuk menjangkau wilayah yang aksesnya masih terbatas setelah gempa. Distribusi bantuan juga dilakukan melalui jalur laut sebagai bagian dari sistem logistik terpadu selama masa tanggap darurat.
Posko Bantuan NTT di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma menjadi pusat kendali untuk menerima dan mengonsolidasikan bantuan dari berbagai pihak. Sumber bantuan berasal dari lembaga dan organisasi kemanusiaan, pemerintah pusat dan daerah, hingga pihak swasta.
Untuk jalur udara, bantuan diberangkatkan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo dan Maumere. Sementara jalur laut memanfaatkan KRI dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju sejumlah pelabuhan di NTT.
Pelabuhan yang menjadi tujuan distribusi melalui jalur laut antara lain Pelabuhan Laurentius di Maumere, Pelabuhan Soekarno-Hatta di Ende, dan Pelabuhan Reo di Manggarai. Penggunaan dua moda transportasi tersebut disesuaikan dengan kondisi akses dan kebutuhan wilayah yang menjadi tujuan bantuan.
Dalam periode 15-17 Agustus 2026, tercatat tujuh sortie penerbangan telah dilakukan dengan total muatan logistik mencapai 101.494 kg. Operasi tersebut didukung dua unit pesawat A-400M Atlas dan empat unit pesawat C-130 Hercules, selain armada KRI untuk pengiriman melalui laut.
Tidak hanya mengandalkan armada angkut, operasi tersebut juga melibatkan ratusan personel. Sebanyak 710 personel gabungan ditempatkan di Pangkalan Aju Halim Perdanakusuma untuk menangani proses penerimaan, konsolidasi, pemuatan, hingga pemberangkatan bantuan.
BNPB mengingatkan masyarakat maupun mitra kemanusiaan yang ingin mengirimkan bantuan agar terlebih dahulu berkoordinasi dengan Koordinator Posko Halim. Langkah ini diperlukan agar pengiriman dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual masyarakat di wilayah terdampak.
Koordinasi juga diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan jumlah bantuan, waktu pengiriman, serta moda transportasi yang digunakan. Dengan demikian, bantuan yang terkumpul dapat dikirim secara efektif dan tiba di wilayah yang membutuhkan tanpa menambah persoalan dalam rantai distribusi.
Informasi tersebut disampaikan Berton SP Panjaitan, Ph.D., Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Editor: IJS










