Dikukuhkan Jadi Guru Besar IBI Kesatuan, Prof. Budi Setiawan Soroti Tantangan Perubahan Perilaku Lingkungan

Prof. Dr. Budi Setiawan, S.E., M.Si. Foto: Harnas.id
Prof. Dr. Budi Setiawan, S.E., M.Si. Foto: Harnas.id

Harnas.id, BOGOR — Persoalan lingkungan hidup—mulai dari krisis sampah makanan hingga limbah plastik global—tidak akan pernah tuntas hanya dengan mengandalkan teknologi pengolahan semata. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat yang didukung penuh oleh fasilitas, regulasi, serta lingkungan sosial yang kondusif.

Poin penting tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Budi Setiawan, S.E., M.Si., saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Pemasaran Sosial di Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan, Bogor, Rabu (21/10/2026).

Sidang senat terbuka pengukuhan tersebut berlangsung khidmat di Aula Gedung A Lantai 6 IBI Kesatuan, Bogor, dengan mengusung orasi ilmiah bertajuk “Pemasaran Sosial untuk Perubahan Perilaku Berkelanjutan: Dari Norma, Intensi, hingga Praktik Nyata”.

Prof. Dr. Budi Setiawan, S.E., M.Si. (tengah) berfoto bersama dan menerima ucapan selamat dari para mahasiswa usai Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Ilmu Pemasaran Sosial di IBI Kesatuan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2026). Foto: dok. IBI Kesatuan
Prof. Dr. Budi Setiawan, S.E., M.Si. (tengah) berfoto bersama dan menerima ucapan selamat dari para mahasiswa usai Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Ilmu Pemasaran Sosial di IBI Kesatuan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2026). Foto: dok. IBI Kesatuan

Mengubah Niat Menjadi Aksi Nyata

Dalam pemaparannya, Prof. Budi menekankan pentingnya pendekatan pemasaran sosial (social marketing) untuk menjembatani jarak antara pemahaman masyarakat, niat baik, hingga terwujudnya kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, imbauan atau kampanye moral semata sering kali berhenti pada tataran pengetahuan, tanpa berbuah menjadi aksi berkelanjutan. Pemasaran sosial hadir untuk memahami faktor-faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi pola pikir masyarakat, sekaligus menciptakan ekosistem pendukung agar perubahan perilaku dapat diimplementasikan dengan mudah.

Krisis Sampah Makanan dan Plastik Global

Sebagai pengantar dalam orasinya, Prof. Budi menyoroti sejumlah data internasional yang mengkhawatirkan terkait krisis lingkungan:

  • Sampah Makanan (Food Loss and Waste): Merujuk data United Nations Environment Programme (UNEP),sebanyak 1,05 miliar ton makanan terbuang secara global pada tahun 2022. Angka ini mencakup sekitar 19 persen dari total ketersediaan makanan di tingkat konsumen, serta menyumbang 8 hingga 10 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

  • Limbah Plastik: Berdasarkan data Bank Dunia, kurang lebih 93 juta ton atau sekitar 29 persen sampah plastik global setiap tahunnya gagal dikelola dengan baik dan mencemari lingkungan.

Data tersebut mempertegas bahwa akar permasalahan lingkungan berpulang pada pola konsumsi, gaya hidup, serta perilaku harian manusia yang memerlukan intervensi terstruktur.

Editor: IJS