GERD Tak Picu Kematian Mendadak, Dokter Ingatkan Risiko Komplikasi yang Sering Diabaikan

Ilustrasi gangguan asam lambung atau GERD.
Ilustrasi gangguan asam lambung atau GERD.

Harnas.id, JAKARTA – Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dikaitkan dengan risiko fatal. Namun, ahli gastroenterologi Prof Ari Fahrial Syam menegaskan bahwa GERD pada dasarnya tidak menyebabkan kematian secara langsung maupun mendadak.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa GERD yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi pasien ketika disertai komplikasi atau infeksi lain. Dalam situasi tertentu, peradangan pada saluran cerna dapat berkontribusi terhadap infeksi yang lebih serius hingga menyebar ke seluruh tubuh.

“Yang paling dekat itu bisa menyebabkan kondisi infeksi. Jika berkembang menjadi infeksi sistemik atau sepsis, memang bisa berujung pada kematian. Kondisi lain itulah yang kemudian memperberat keadaan pasien,” ujar Ari, Sabtu (24/1).

Ia menjelaskan, pasien dengan riwayat GERD kerap memerlukan pemberian antibiotik dan obat pereda nyeri saat mengalami gangguan kesehatan lain. Namun, konsumsi obat-obatan tersebut tidak jarang justru memicu kekambuhan asam lambung.

Efek lanjutan yang sering muncul adalah penurunan nafsu makan, mual berkepanjangan, hingga muntah berulang. Kondisi ini dapat membuat pemulihan pasien menjadi lebih lambat, bahkan ketika sudah menjalani perawatan di rumah sakit.

“Pasien yang sudah memiliki GERD, kemudian diberikan antibiotik atau obat nyeri karena keluhan lain, bisa saja GERD-nya kambuh. Nafsu makan menurun dan akhirnya kondisi tubuh makin memburuk,” jelasnya.

Menurut Ari, keluhan mual dan muntah yang tidak kunjung membaik perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih mendalam. Evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan endoskopi, penting dilakukan untuk memastikan penyebab dan tingkat keparahan gangguan lambung.

“Kalau ada masalah GERD atau maag, sebaiknya dievaluasi secara tuntas sampai dengan endoskopi agar jelas apa yang sebenarnya terjadi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pengobatan GERD tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Terapi yang tidak teratur berisiko membuat penyakit mudah kambuh dan memperberat kondisi ketika muncul gangguan kesehatan lain.

“Bagi yang memiliki GERD, berobatlah secara teratur dan pastikan kondisinya terkontrol. Tujuannya agar saat timbul masalah kesehatan lain, GERD tidak ikut memperburuk keadaan,” pungkasnya.

Editor: IJS