
Harnas.id, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi edukasi kebencanaan berbasis virtual reality bertajuk RRekon VR. Aplikasi ini dikembangkan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur(BPBD Jatim) dan telah diuji coba kepada siswa SMPN 32 Surabaya, Rabu (25/2/2026).
Ketua Tim Peneliti RRekon VR ITS, Okta Putra Setio Ardianto, menjelaskan inovasi ini lahir dari kebutuhan edukasi rekonstruksi pascabencana yang selama ini belum banyak disentuh. Menurutnya, teknologi virtual reality dinilai efektif karena melibatkan unsur audio, visual, sekaligus gerak (kinetis).
“Keterlibatan berbagai indra ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara lebih mendalam,” ujarnya.
Dalam simulasi tersebut, pengguna VR berperan sebagai petugas BPBD Jawa Timur yang bertugas menyusun langkah rekonstruksi pascabencana. Okta menekankan bahwa proses rekonstruksi membutuhkan perencanaan matang, mengingat besarnya anggaran yang terlibat.
“Oleh karena itu, RRekon VR hadir guna memberikan edukasi untuk membantu menentukan urutan prioritas sektor,” jelas dosen Departemen Desain Interior ITS itu.
Aplikasi ini mengusung konsep gamifikasi dengan dua mode utama, yakni mode observasi dan mode maket. Pada mode observasi, pengguna seolah turun langsung ke lokasi bencana untuk menilai kondisi lapangan.
Sementara pada mode maket, pengguna dapat melihat gambaran menyeluruh wilayah terdampak. Pendekatan ini dirancang agar peserta memahami keterkaitan antar sektor sebelum menentukan prioritas pemulihan.
Okta berharap, kolaborasi dengan BPBD Jatim dan SMPN 32 Surabaya mampu menyempurnakan aplikasi sebelum dirilis resmi di Taman Pendidikan Bencana (Tenpina) BPBD Jawa Timur. Uji coba kepada siswa dinilai penting untuk mengukur efektivitas sekaligus respons pengguna muda.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Timur, Dhany Aribowo, menyambut positif inovasi tersebut. Ia menyebut edukasi rekonstruksi masih minim dibandingkan edukasi mitigasi dan evakuasi.
“Selama ini edukasi yang ada masih berfokus pada pencegahan bencana dan proses evakuasi saat bencana terjadi,” ungkapnya.
Dhany menambahkan, banyak masyarakat berhenti pada tahap tanggap darurat, padahal fase rehabilitasi dan rekonstruksi memegang peran penting dalam pemulihan daerah terdampak. Ia menilai media edukasi seperti RRekon VR dapat membuka perspektif baru bagi masyarakat.
Dalam jangka panjang, aplikasi ini juga diproyeksikan menjadi sarana pelatihan internal bagi petugas BPBD. Melalui simulasi berbasis data nyata, petugas diharapkan mampu mengidentifikasi tingkat kerusakan dan menentukan prioritas penanganan secara lebih terstruktur.
Kepala SMPN 32 Surabaya, Moh Bisri, menilai penggunaan VR dalam pembelajaran relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, integrasi teknologi dapat meningkatkan literasi sekaligus daya tarik pembelajaran bagi siswa.
“Harapannya, inovasi dan kegiatan serupa tidak berhenti di sini dan selalu ada keberlanjutan,” tegasnya.
Kolaborasi lintas departemen di ITS bersama BPBD Jatim dan sekolah ini juga selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Inovasi RRekon VR mendukung tujuan Kota dan Komunitas Berkelanjutan, Pendidikan Berkualitas, serta penguatan Kemitraan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Editor: IJS





