Harnas.id, BOGOR – IPB University melalui Lembaga Riset Internasional (LRI) menggelar Workshop Sharing Lesson Learned di Ballroom Gedung Startup Center Kampus IPB Taman Kencana pada 28 Januari. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi antar pusat studi untuk memperkuat tata kelola program riset internasional.
LRI memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan pusat-pusat studi di lingkungan IPB. Struktur LRI mencakup lima klaster utama, yakni kemaritiman dan perikanan, teknologi maju, lingkungan dan perubahan iklim, pangan dan kesehatan, serta pembangunan sosial ekonomi dan kawasan.
Workshop ini dirancang sebagai forum berbagi praktik baik dan pembelajaran penting dalam pengelolaan kerja sama global. Setiap pusat studi memaparkan pengalaman yang dinilai dapat direplikasi dan diadaptasi untuk memperkuat kinerja kolektif.
Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB, Prof Ernan Rustiadi, menegaskan arah kebijakan ke depan. “Tata kelola berdasarkan best practice di pusat-pusat studi akan diformalkan sebagai regulasi bersama,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan regulasi menjadi kunci agar praktik baik tidak berhenti pada level inisiatif individu. Standarisasi tata kelola diharapkan mampu menciptakan sistem riset yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Wakil Rektor bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, menambahkan sejumlah regulasi yang tengah dikembangkan. Di antaranya Global Engagement, Management and Knowledge Cooperation, Legislative Alliance, serta Transactional International Exposure.
Regulasi tersebut diarahkan untuk memperjelas mekanisme kerja sama internasional. Dengan kerangka yang lebih sistematis, IPB menargetkan peningkatan eksposur global sekaligus akuntabilitas program.
Dalam sesi berbagi pengalaman, Kepala Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS), Prof Damayanti Buchori, memaparkan strategi memperluas jejaring riset. Ia menyoroti pentingnya perekrutan research fellows, pemanfaatan media sosial, serta menjadikan pusat studi sebagai rujukan informasi ilmiah yang tetap mudah diakses publik.
Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL), Prof Yonvitner, menekankan pembangunan kapasitas peneliti secara inklusif. “Pusat studi membangun kapasitas peneliti yang inklusif lintas senior dan junior research fellows, mendukung penelitiannya, mengadakan research bootcamp dan fasilitasi beasiswa,” jelasnya.
Pengalaman kerja sama internasional juga dibagikan oleh Pusat Studi Agraria (PSA) melalui Dr Dyah Ita Mardiyaningsih. Sementara itu, praktik hosting international researchers dipresentasikan oleh Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) drh Fitriya Nur Annisa Dewi, PhD.
Sekretaris Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Prita Ayu Permatasari, memaparkan strategi pengelolaan mitra jangka panjang. Adapun Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) melalui Kusuma Darma menyoroti aspek hak kekayaan intelektual dalam kolaborasi riset.
Diskusi juga mengangkat isu publikasi ilmiah bereputasi internasional yang disampaikan Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika (TropBRC), Prof Mohamad Rafi. Dari sisi pengembangan masyarakat, Sekretaris Pusat Kajian Resolusi Konflik (CARE), Dr Agit Kriswantriyono, memaparkan pendekatan kolaboratif yang telah dijalankan.
Menutup kegiatan, Kepala LRI Teknologi Maju, Prof Anas Miftah Fauzi, menekankan pentingnya sistem pendukung yang kuat. “Pusat studi yang sudah berhasil agar menjadi referensi oleh pusat studi lain didukung dengan peraturan tata kelola dan ekosistem riset serta sistem informasi dengan membangun pangkalan data yang selalu diperbarui,” tegasnya.
Workshop ini menandai langkah konsolidasi internal IPB dalam memperkuat tata kelola riset internasional. Dengan ekosistem yang lebih terstruktur, IPB menargetkan posisi yang lebih kompetitif dalam jejaring riset global.
Editor: IJS











