
Harnas.id, BEKASI – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran dilakukan BRI Cabang Bekasi Harapan Indah melalui kegiatan sosialisasi pencegahan hingga penanggulangan kebakaran bersama petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar). Kegiatan tersebut digelar di Kantor BRI Cabang Bekasi Harapan Indah pada 8 Mei 2026 dan diikuti seluruh pekerja di lingkungan kantor cabang.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari langkah antisipatif perusahaan dalam memperkuat pemahaman pekerja terkait prosedur keselamatan kerja, khususnya menghadapi potensi kebakaran yang bisa terjadi sewaktu-waktu di area perkantoran. Selain teori, peserta juga diberikan penjelasan teknis mengenai langkah awal penanganan ketika muncul sumber api hingga penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Pemimpin BRI Cabang Bekasi Harapan Indah, Yan Abdillah mengatakan, edukasi terkait penanggulangan kebakaran penting dilakukan agar seluruh pekerja memiliki kesiapan dan tidak bertindak panik saat menghadapi kondisi darurat.
“Tentunya dengan adanya sosialisasi ini diharapkan semua pekerja BRI Cabang Bekasi Harapan Indah bisa sigap dalam menangani kebakaran dan tidak panik sehingga tidak terjadi kebakaran parah,” ujar Yan Abdillah.
Menurutnya, lingkungan kerja perkantoran tetap memiliki risiko terhadap potensi kebakaran, baik akibat korsleting listrik maupun faktor lainnya. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam meminimalisir dampak apabila insiden terjadi.
Dalam kegiatan tersebut, pihak Damkar Bekasi Harapan Indah turut memberikan simulasi dasar terkait prosedur penyelamatan dan tahapan penanganan awal kebakaran. Para peserta juga diarahkan memahami titik evakuasi serta langkah pengamanan sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.
Perwakilan Damkar Bekasi Harapan Indah, Umam menuturkan, edukasi semacam ini masih sangat dibutuhkan karena masih banyak masyarakat maupun pekerja kantoran yang belum memahami prosedur dasar saat menghadapi kebakaran.
Ia menyebut, kesalahan penanganan pada menit-menit awal justru sering memperbesar risiko kebakaran. Karena itu, pemahaman mengenai penggunaan APAR hingga teknik evakuasi menjadi materi penting dalam sosialisasi tersebut.
“Setiap step penanggulangan kami jabarkan, bahkan antisipasi agar tidak terjadi kebakaran juga dijelaskan sehingga mampu meminimalisir terjadinya kebakaran,” kata Umam.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada fasilitas penunjang, tetapi juga kesiapan individu dalam menghadapi situasi darurat. Dengan adanya pelatihan rutin, diharapkan budaya tanggap bencana di lingkungan kerja semakin terbentuk dan mampu menekan risiko kerugian lebih besar akibat kebakaran.
Editor: IJS










