Jatim Kantongi Penghargaan Pengangguran Terendah, Khofifah Sebut Hasil Kerja Bareng Banyak Pihak

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan kategori penurunan tingkat pengangguran pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Yogyakarta. (Dok. Pemprov Jatim)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan kategori penurunan tingkat pengangguran pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Yogyakarta. (Dok. Pemprov Jatim)

Harnas.id, YOGYAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali mencatatkan capaian di sektor ketenagakerjaan. Kali ini, Jawa Timur meraih penghargaan Terbaik I Kategori Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Jawa-Bali yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara yang berlangsung di Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026) malam. Selain menerima penghargaan, Pemprov Jawa Timur juga memperoleh insentif fiskal sebesar Rp3 miliar dari pemerintah pusat sebagai bentuk apresiasi atas kinerja pembangunan yang dinilai memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Usai menerima penghargaan, Khofifah menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih Jawa Timur. Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hasil kerja satu pihak, melainkan buah kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, lembaga pendidikan, dan berbagai elemen masyarakat.

“Alhamdulillah, untuk penurunan angka pengangguran Jawa Timur mendapatkan apresiasi ini. Ini hasil kerja semua lini dan semua elemen, dunia usaha serta dunia industri,” ujar Khofifah.

Ia menjelaskan, capaian tersebut juga tidak terlepas dari implementasi berbagai program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Nawa Bhakti Satya. Berbagai indikator pembangunan yang selama ini menjadi fokus pemerintah daerah disebut berkontribusi terhadap membaiknya kondisi ketenagakerjaan.

Menurut Khofifah, strategi pembangunan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan investasi, serta penyelarasan kebutuhan dunia kerja dengan sistem pendidikan.

Hasilnya terlihat pada data ketenagakerjaan terbaru. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 3,61 persen. Capaian Jawa Timur juga berada jauh di bawah rata-rata nasional yang tercatat sebesar 4,68 persen.

Tren positif tersebut bahkan berlangsung secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Jika pada Februari 2021 angka pengangguran Jawa Timur masih berada di level 5,17 persen, maka pada Februari 2026 turun menjadi 3,55 persen.

Khofifah menilai salah satu faktor penting yang mendorong penurunan pengangguran adalah semakin baiknya keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja.

Ia secara khusus menyoroti peningkatan penyerapan tenaga kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang selama ini kerap menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran cukup tinggi.

“Penurunan pengangguran lulusan SMK sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa penguatan link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri semakin efektif,” tutur Khofifah.

Data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan SMK turun menjadi 5,73 persen pada Februari 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Februari 2025 yang berada di level 5,87 persen.

Dengan capaian itu, lulusan SMK tidak lagi menjadi kelompok penyumbang tingkat pengangguran tertinggi di Jawa Timur.

Khofifah menjelaskan, kondisi tersebut didukung berbagai program yang menghubungkan sekolah vokasi, lembaga pelatihan kerja, perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia industri.

Program yang dijalankan antara lain:

  • Link and match pendidikan vokasi dengan industri
  • Pelatihan berbasis kompetensi
  • Program magang industri
  • Perluasan akses penempatan tenaga kerja
  • Peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK

“Upaya membuka kesempatan kerja terus kami lakukan melalui kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi. Bahkan saat ini Jawa Timur telah menjalin kerja sama penempatan tenaga kerja dengan 13 negara tujuan, termasuk membuka peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari program tersebut, pada 2026 tercatat sebanyak 4.920 peserta dari 112 SMK dan lembaga kursus serta pelatihan mengikuti program magang dan peluang kerja luar negeri.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.617 peserta berhasil lolos seleksi dan telah memperoleh Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

Menurut Khofifah, angka tersebut menjadi indikator bahwa lulusan pendidikan vokasi Jawa Timur semakin mampu bersaing di pasar tenaga kerja nasional maupun internasional.

Selain penurunan angka pengangguran, kondisi pasar kerja Jawa Timur juga menunjukkan perkembangan yang positif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat naik menjadi 74,78 persen atau meningkat 0,53 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 24,25 juta orang. Angka tersebut bertambah sekitar 388 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Khofifah menegaskan penghargaan dan insentif fiskal yang diterima akan dimanfaatkan untuk memperkuat program-program pembangunan yang berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perluasan kesempatan kerja.

“Insentif fiskal yang diberikan pemerintah pusat akan kami optimalkan untuk memperkuat program-program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat, terutama peningkatan kualitas SDM, pengembangan kewirausahaan, perluasan kesempatan kerja, dan penguatan ekosistem investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas,” tegasnya.

Ia menambahkan, tantangan ketenagakerjaan ke depan diperkirakan akan semakin kompleks. Karena itu, inovasi dan kolaborasi lintas sektor harus terus diperkuat agar peluang kerja semakin terbuka dan kualitas tenaga kerja semakin meningkat.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan ketenagakerjaan. Kolaborasi dan inovasi harus terus diperkuat agar kesempatan kerja semakin terbuka dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” katanya.

Di akhir keterangannya, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam pembangunan ekosistem ketenagakerjaan di Jawa Timur, mulai dari pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, industri, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

“Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Jawa Timur. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari sinergi besar dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang semakin kuat, produktif, dan berdaya saing,” pungkasnya.

Editor: IJS