
Harnas.id, Takalar – Kebakaran melanda lahan perkebunan tebu milik Pabrik Gula Takalar di Dusun Maccini Baji, Desa Balangtanaya, Kecamatan Polongbangkeng Timur (Poltim), Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8/2026).
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 12.30 Wita. Api membakar lahan tebu dengan luas kurang lebih 7 hektare yang lokasinya berjarak sekitar 100 meter dari permukiman warga.
Kobaran api diketahui berasal dari titik api di Blok C1 Petak 6. Api kemudian merambat menuju Blok 1 Petak 1 dan Petak 2 hingga area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 7 hektare.
Upaya penanganan dilakukan secara bertahap. Sekitar pukul 13.00 Wita, satu unit mobil pemadam kebakaran milik Pabrik Gula Takalar tiba di lokasi untuk melakukan pemadaman.
Setengah jam kemudian, sekitar pukul 13.30 Wita, satu unit mobil pemadam kebakaran dari Pemerintah Daerah Takalar juga tiba. Proses pemadaman kemudian dilakukan bersama karyawan Pabrik Gula Takalar dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, pihak Pabrik Gula Takalar diperkirakan mengalami kerugian material sekitar Rp50 juta akibat lahan dan tanaman tebu yang terbakar.
Pada sekitar pukul 13.40 Wita, proses pemadaman masih berlangsung. Penanganan kemudian terus dilanjutkan hingga siang hari dengan melibatkan personel pengamanan Pabrik Gula Takalar.
Hingga pukul 14.50 Wita, petugas masih melakukan upaya pemadaman dan pengendalian api. Personel pengamanan pabrik turut membantu proses tersebut di bawah pimpinan Pakam Ipda H. Syamsuddin, S.H.
Adapun catatan sementara terkait kejadian tersebut sebagai berikut:
• Korban jiwa: Nihil.
• Kerugian material pihak Pabrik Gula Takalar diperkirakan sekitar Rp50 juta.
• Proses pemadaman hingga pukul 14.50 Wita masih berlangsung dengan bantuan personel pengamanan Pabrik Gula Takalar.
Di sisi lain, muncul dugaan bahwa kebakaran tersebut tidak terjadi secara alami. Berdasarkan informasi awal, kebakaran lahan tebu itu disinyalir melibatkan unsur kesengajaan oleh orang yang belum diketahui identitasnya.
Dugaan tersebut masih memerlukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran. Terlebih, kebakaran terjadi ketika masyarakat sekitar tengah melaksanakan ibadah salat Jumat, sehingga kondisi di sekitar lokasi disebut relatif sepi dan tidak banyak warga yang melintas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang dicatat dalam penanganan awal peristiwa. Namun, penyebab pasti kebakaran maupun ada atau tidaknya unsur kesengajaan tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.
Editor: IJS










