INDEF Beberkan Alarm Ekonomi 2026, Gejolak Global Dinilai Mulai Menekan Ketahanan Nasional

Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertema "Menavigasi Guncangan Global" yang digelar INDEF. (Dok. INDEF)
Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertema "Menavigasi Guncangan Global" yang digelar INDEF. (Dok. INDEF)

Harnas.id, JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia sepanjang semester pertama 2026 menghadapi tekanan yang tidak ringan. Berbagai gejolak global, mulai dari konflik geopolitik, kenaikan harga energi, perubahan kebijakan moneter global, hingga tantangan iklim dinilai memberi dampak terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertajuk “Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim” yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Dalam paparannya, INDEF menjelaskan bahwa konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, telah meningkatkan ketidakpastian global. Di saat yang sama, sinyal kenaikan suku bunga acuan The Fed, perubahan penilaian MSCI terhadap pasar keuangan, hingga prospek negatif dari lembaga pemeringkat investasi turut memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.

Tekanan tersebut dinilai mulai memengaruhi ruang fiskal pemerintah, daya beli masyarakat, serta daya saing sektor riil yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen, INDEF menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang kuat. Pertumbuhan masih banyak ditopang konsumsi selama momentum Lebaran, efek basis rendah, serta peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun.

Di sisi lain, sejumlah indikator mulai menunjukkan pelemahan konsumsi masyarakat. Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen dan melambatnya Indeks Penjualan Riil menjadi sinyal bahwa daya beli rumah tangga mulai mengalami tekanan.

Kondisi tersebut turut diperberat oleh tingginya volatilitas harga pangan global serta kesenjangan harga antarwilayah yang disebut mencapai hampir empat kali lipat. Situasi ini dinilai semakin menggerus kemampuan belanja masyarakat.

Pada saat bersamaan, ruang fiskal pemerintah juga semakin terbatas. Hingga lima bulan pertama 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp203,7 triliun atau sekitar 45,6 persen dari total pagu APBN. INDEF juga menilai masih terdapat tantangan dalam penyaluran subsidi karena sebagian manfaatnya dinikmati kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak menjadi sasaran utama.

Sektor industri pun menghadapi tekanan yang tidak kalah besar. Ketergantungan terhadap bahan baku impor, yang mencapai sekitar seperempat dari total kebutuhan produksi, membuat berbagai industri rentan terhadap kenaikan harga energi maupun gangguan rantai pasok global.

Menurut INDEF, industri alat angkutan, tekstil, elektronik, hingga industri berbasis energi fosil menjadi sektor yang paling terdampak akibat meningkatnya biaya produksi.

Di sektor perdagangan luar negeri, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya sebesar US$0,09 miliar atau menjadi yang terendah sejak Mei 2020. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, meningkatnya biaya produksi dikhawatirkan akan mempersempit margin usaha dan berpotensi memengaruhi kondisi ketenagakerjaan.

Untuk mengukur dampak guncangan global, INDEF melakukan simulasi menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) melalui tiga skenario utama.

Skenario 1: Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi Global

Dengan asumsi harga minyak mentah naik 30 persen dari baseline US$70 per barel, dampak yang diproyeksikan meliputi:

  • Pertumbuhan ekonomi melambat 0,21 persen
  • Ekspor turun 2,44 persen
  • Upah riil turun 0,28 persen
  • Inflasi meningkat 0,28 persen
  • Impor naik 7,8 persen

Skenario 2: Perlambatan Ekonomi Negara Mitra Dagang

Jika permintaan impor dari negara mitra utama turun 5 persen, dampaknya diperkirakan berupa:

  • Pertumbuhan ekonomi melambat 0,24 persen
  • Ekspor turun 5,05 persen
  • Impor turun 0,23 persen
  • Upah riil turun 0,29 persen

INDEF menilai perlambatan tersebut berpotensi membuat perusahaan menahan kenaikan upah, mengurangi bonus, memangkas jam kerja, hingga membatasi perekrutan tenaga kerja.

Skenario 3: Fragmentasi Perdagangan Global dan Disrupsi Rantai Pasok

Dalam skenario ini, peningkatan biaya perdagangan dan terganggunya pasokan global diproyeksikan menyebabkan:

  • Pertumbuhan ekonomi melambat 0,17 persen
  • Ekspor turun 1,16 persen
  • Impor turun 0,30 persen
  • Upah riil turun 0,23 persen

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, INDEF menilai Indonesia masih memiliki modal untuk mempertahankan ketahanan ekonominya. Namun, diperlukan langkah transformasi agar krisis energi dapat menjadi momentum mempercepat transisi menuju energi bersih dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil maupun impor bahan bakar.

INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2026 berada di kisaran 5 persen secara tahunan. Karena itu, kebijakan ekonomi dinilai perlu bergeser dari pendekatan yang bersifat responsif menjadi lebih transformasional agar mampu menciptakan ketahanan ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari hasil kajian, INDEF juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan, yakni:

  1. Memperkuat stabilisasi makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal.
  2. Melindungi daya beli masyarakat serta memperkuat kelas menengah.
  3. Mereformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran dan produktif.
  4. Mempercepat transisi energi serta mengurangi ketergantungan impor BBM.
  5. Membangun sistem ketahanan pangan berbasis produksi, distribusi, dan adaptasi iklim.
  6. Memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku.
  7. Mendorong diversifikasi pasar ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Menurut INDEF, berbagai rekomendasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional agar lebih tangguh menghadapi dinamika global yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Editor: IJS

3. Meta Deskripsi

 

4. Meta Tag

 

5. Keyword Utama

 

6. Judul Foto

Paparan hasil Kajian Tengah Tahun 2026 dalam Seminar Nasional INDEF di Jakarta mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global. (Dok. INDEF)