
Harnas.id, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merespons cepat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan Tim Satuan Tugas (Satgas) Bencana ke wilayah terdampak. Sejak Senin (17/8), tim melakukan peninjauan dan asesmen terhadap sejumlah infrastruktur vital, termasuk fasilitas Pelabuhan Lorens Say di Maumere, yang menjadi jalur penting bagi distribusi bantuan logistik.
Ketua Tim Satgas Bencana ITS Dr. Ir. Mudji Irmawan, M.T. mengatakan, hasil tinjauan lapangan menunjukkan dampak gempa di Maumere cukup signifikan. Sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan, terutama gedung terminal penumpang di kawasan pelabuhan yang mengalami kerusakan struktural akibat guncangan gempa.
Meski demikian, kondisi dermaga Pelabuhan Lorens Say masih dinilai cukup kokoh dan dapat digunakan untuk melayani kapal-kapal berukuran besar. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama tim ITS karena pelabuhan berperan sebagai salah satu pintu masuk utama bantuan bagi masyarakat terdampak.
“Stabilitas dermaga ini menjadi poin krusial, karena pelabuhan saat ini berfungsi sebagai jalur utama pengiriman logistik bantuan sembako,” ujar Mudji, yang merupakan ahli forensik teknik dan investigasi kerusakan struktur bangunan.
Selain pelabuhan, Tim Satgas Bencana ITS juga memantau kondisi jalan dan jembatan yang menjadi akses penting untuk mendukung distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Namun, tim masih menghadapi kendala akses menuju Nagekeo yang dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah.
Hingga Kamis (20/8) pagi, gempa susulan masih dilaporkan terjadi di wilayah terdampak. Meski demikian, Mudji memastikan belum ditemukan kerusakan tambahan pada struktur bangunan di Maumere berdasarkan pemantauan yang dilakukan tim.
Kondisi tersebut membuat tim tetap meningkatkan kewaspadaan sekaligus memprioritaskan pemulihan infrastruktur yang bersifat mendesak, terutama fasilitas yang berkaitan langsung dengan distribusi bantuan.
“Hal itu kami upayakan guna menjamin kelancaran distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang lebih terisolasi dan terdampak,” jelasnya.
Saat ini, tim memprioritaskan pemeriksaan kelayakan fungsi dermaga agar tetap dapat melayani kapal pengangkut bantuan logistik. Tim juga terus melakukan koordinasi serta memastikan tersedianya data teknis mengenai kondisi infrastruktur pelabuhan.
Untuk memastikan kondisi struktur secara menyeluruh, ITS juga menyiapkan inspeksi bawah air guna memeriksa kemungkinan kerusakan pada bagian pondasi dermaga.
Tim Satgas Bencana ITS yang terdiri atas dosen dari Departemen Teknik Sipil, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), serta bidang terkait di ITS telah menyusun strategi pemulihan infrastruktur terdampak.
Mudji menjelaskan, strategi tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari perbaikan jangka pendek hingga rencana pemulihan jangka panjang.
“Akselerasi pemulihan fasilitas umum menjadi penting, karena diharapkan menjadi salah satu cara dalam pemulihan ekonomi lokal,” ungkapnya.
Untuk memperkuat asesmen, ITS juga menjalin kerja sama dengan PT Pelindo dalam melakukan pemeriksaan lebih mendalam terhadap fasilitas pelabuhan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan kegiatan operasional pelabuhan tetap berjalan di tengah kondisi darurat pascabencana.
Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya serta Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi NTT. Langkah tersebut dilakukan agar proses asesmen dan pemulihan infrastruktur dapat berjalan terukur dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Tim Satgas Bencana ITS diperkirakan akan berada di lokasi bencana selama sekitar satu minggu ke depan untuk menuntaskan pemeriksaan kondisi dermaga dan infrastruktur terkait.
Sebelumnya, ITS juga telah melakukan penggalangan dana serta menyalurkan bantuan secara langsung kepada masyarakat terdampak gempa.
Mudji menegaskan, seluruh rangkaian asesmen dan pemulihan yang dilakukan ITS merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat agar dapat kembali beraktivitas dan memulihkan kondisi kehidupan pascabencana.
Komitmen tersebut sejalan dengan kontribusi ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan, serta tujuan ke-15 mengenai ekosistem daratan.
Editor: Erk










