Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Fluktuatif, Erupsi Susulan Perlu Diwaspadai

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Foto: Istimewa
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Foto: Istimewa

Harnas.id, LAMPUNG SELATAN – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, masih tergolong tinggi hingga Rabu, 26 Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat aktivitas gunung api masih terus dipantau secara intensif oleh otoritas terkait.

Rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya kembali terpantau sejak Senin malam, 24 Agustus 2026. Aktivitas tersebut berlanjut pada Selasa, 25 Agustus 2026, dengan kemunculan kolom abu dan sejumlah aktivitas kegempaan.

Berdasarkan hasil pemantauan pada 25 Agustus 2026, kolom abu erupsi teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal. Tinggi kolom abu tercatat sekitar 50 hingga 300 meter di atas puncak Gunung Anak Krakatau.

Selain aktivitas erupsi, instrumen pemantauan juga merekam beragam jenis gempa vulkanik. Data kegempaan yang tercatat meliputi:

  • 8 kali gempa letusan/erupsi;
  • 60 kali gempa hembusan;
  • 6 kali gempa harmonik;
  • 3 kali gempa low frequency;
  • 16 kali gempa hybrid/fase banyak; dan
  • 1 kali tremor menerus.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga telah beberapa kali menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Pada 17 Agustus 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sebanyak 20 kali erupsi.

Sementara pada 22 Agustus 2026, PVMBG kembali mencatat sembilan kali letusan. Saat itu, tinggi kolom erupsi berada pada kisaran 200 hingga 400 meter dari puncak gunung.

Rangkaian catatan tersebut menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Karena itu, kondisi gunung api belum dapat dianggap sepenuhnya stabil dan pemantauan visual maupun instrumental tetap dilakukan secara berkelanjutan.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, serta nelayan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Pembatasan tersebut berkaitan dengan potensi lontaran material vulkanik maupun bahaya lain yang dapat muncul ketika aktivitas erupsi meningkat. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda juga perlu memperhatikan setiap perubahan rekomendasi dari otoritas terkait.

Dalam jangka pendek, kemungkinan terjadinya erupsi susulan masih terbuka. Hal ini berkaitan dengan pola aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif dan ditandai oleh erupsi serta berbagai jenis gempa.

Peningkatan ancaman perlu segera diantisipasi apabila terjadi perubahan signifikan pada parameter gunung api. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain peningkatan gempa vulkanik, perubahan tinggi kolom erupsi, tremor, maupun perubahan visual pada tubuh gunung.

Wilayah pesisir Lampung Selatan dan Banten serta perairan Selat Sunda menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian. Aktivitas masyarakat, wisatawan, pelayaran, dan nelayan di kawasan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan rekomendasi resmi.

Khusus bagi nelayan dan pengguna perairan Selat Sunda, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu dipantau bersamaan dengan kondisi cuaca dan gelombang. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan.

Di sisi lain, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menunjukkan bahwa tsunami besar akan terjadi. Sampai informasi yang telah terverifikasi saat ini, belum terdapat indikasi bahwa aktivitas GAK secara otomatis berarti akan terjadi tsunami besar.

Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dan potensi bencana di sekitarnya sebaiknya mengacu pada keterangan resmi PVMBG/Badan Geologi dan BMKG.

Editor: IJS