Pencak Silat Tak Sekadar Bertanding, Kebun Raya Bogor Jadi Ruang Regenerasi Budaya

Ratusan pesilat mengikuti Festival Pencak Silat Seni Tradisi Kebun Raya Bogor Cup IV 2026 di Kebun Raya Bogor, 25–27 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang kompetisi sekaligus regenerasi pencak silat lintas generasi. Foto: Harnas.id
Ratusan pesilat mengikuti Festival Pencak Silat Seni Tradisi Kebun Raya Bogor Cup IV 2026 di Kebun Raya Bogor, 25–27 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang kompetisi sekaligus regenerasi pencak silat lintas generasi. Foto: Harnas.id

Harnas.id, BOGOR — Suara hentakan kaki dan gerakan khas pencak silat mewarnai kawasan Kebun Raya Bogor pada 25–27 September 2026. Ratusan pesilat dari berbagai perguruan berkumpul bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi juga menjaga agar tradisi pencak silat tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Momen tersebut hadir melalui Festival Pencak Silat Seni Tradisi Kebun Raya Bogor Cup IV 2026 yang mengusung tema “Pencak Silat untuk Memperkuat Martabat Bangsa.”

Perguruan pencak silat dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Lebih dari 400 pesilat dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup kompetisi sekaligus pertunjukan seni pencak silat tradisi.

Namun, ada hal lain yang menjadi bagian penting dari festival tersebut: regenerasi.

Peserta tidak hanya berasal dari kelompok usia dewasa. Kategori yang dipertandingkan mencakup prausia dini, usia dini, praremaja, remaja, dewasa, pembina hingga sesepuh.

Artinya, arena Kebun Raya Bogor dalam festival ini menjadi ruang pertemuan berbagai generasi. Pesilat muda berhadapan dengan pengalaman para senior, sementara nilai dan pengetahuan pencak silat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Ketua Panitia Festival Pencak Silat Seni Tradisi Kebun Raya Cup IV, Drs. H. M. Helmi Sutikno, M.M., M.B.A. atau Apih Helmi, mengatakan pencak silat tidak berhenti pada kemampuan bertanding.

“Pencak silat memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan bertanding. Di dalamnya ada disiplin, penghormatan, persaudaraan, sportivitas, dan karakter. Nilai-nilai seperti ini yang penting untuk terus diwariskan,” ujarnya.

Kategori penampilan yang terdiri atas tunggal, ganda, regu, dan cerita pencak silat membuat festival tidak semata berorientasi pada hasil pertandingan.

Gerakan, teknik, disiplin, hingga nilai yang terkandung dalam pencak silat menjadi bagian dari proses yang ditampilkan para peserta.

Semangat persaudaraan dan persatuan juga tercermin dalam Prasetya Pesilat Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Pesan yang dibawa bukan hanya mengenai kemampuan bela diri, tetapi juga kecintaan terhadap bangsa dan tanah air serta nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

Pencak silat sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019. Status tersebut menjadi bagian dari pengakuan internasional terhadap pencak silat sebagai tradisi yang memiliki nilai budaya dan perlu terus diwariskan.

Pemilihan Kebun Raya Bogor sebagai lokasi festival memberikan suasana berbeda. Kawasan yang didirikan pada 1817 itu selama ini dikenal sebagai ruang konservasi, penelitian, pendidikan, dan wisata berbasis lingkungan.

Kini, lanskap tersebut juga menjadi tempat masyarakat mengenal dan menyaksikan secara langsung salah satu tradisi budaya Indonesia.

Bagi PT Mitra Natura Raya (MNR) selaku mitra pengelolaan pelayanan publik Kebun Raya Bogor, penyelenggaraan festival menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan yang memiliki nilai edukasi, budaya, dan keterlibatan masyarakat.

Kehadiran ratusan pesilat di kawasan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung di ruang-ruang formal.

Tradisi dapat tumbuh di ruang publik ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk melihat, mempelajari, dan terlibat di dalamnya.

Festival Pencak Silat Seni Tradisi Kebun Raya Bogor Cup IV 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.

Di tengah pepohonan dan lanskap bersejarah Kebun Raya Bogor, festival tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat terus menemukan ruang untuk hidup—dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Editor: IJS