Komisi IX DPR RI dan BKKBN Jatim Dorong Penguatan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045 di Sidoarjo

Harnas.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Drh. Hj. Arzeti Bilbina, S.E., M.A.P., bersama Perwakilan BKKBN Jawa Timur dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (PPPAKB) Kabupaten Sidoarjo, mendorong penguatan pembangunan keluarga melalui kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra. Kegiatan tersebut berlangsung di SMP Negeri 2 Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2 Oktober 2026 lalu.

Kegiatan yang melibatkan Kemendukbangga/BKKBN dan DPR RI ini menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pembangunan keluarga, perencanaan kehidupan berkeluarga, pengasuhan anak, serta sinergi berbagai pihak dalam mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Drh. Hj. Arzeti Bilbina, S.E., M.A.P., selaku Anggota Komisi IX DPR RI, menyampaikan bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menjelaskan bahwa Komisi IX DPR RI memiliki lingkup tugas di bidang kesehatan, ketenagakerjaan, dan jaminan sosial. Berbagai upaya pembangunan tersebut perlu berjalan seiring dengan penguatan kualitas manusia, pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, serta peningkatan peran perempuan dan generasi muda.

“Pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, penguatan keluarga, kesehatan, pendidikan, serta peran perempuan dan generasi muda perlu menjadi perhatian bersama,” demikian pokok pesan yang disampaikan Arzeti dalam kegiatan tersebut.

Arzeti juga menekankan pentingnya pembangunan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa, pemerataan ekonomi, serta upaya pemberantasan kemiskinan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.

BKKBN Jawa Timur Sosialisasikan Risiko 4T

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Shodiqin, S.H., M.M., menjelaskan bahwa Kemendukbangga/BKKBN memiliki tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga, termasuk pengendalian penduduk serta penyelenggaraan keluarga berencana.

Dalam pemaparannya, Shodiqin menekankan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai empat kondisi kehamilan berisiko yang dikenal dengan istilah 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu banyak.

Pertama, terlalu muda, yaitu kehamilan pada perempuan berusia di bawah 20 tahun. Kedua, terlalu tua, yaitu kehamilan pada perempuan berusia di atas 35 tahun. Ketiga, terlalu rapat, yakni jarak kelahiran antara anak sebelumnya dengan kehamilan atau kelahiran berikutnya kurang dari dua tahun. Keempat, terlalu banyak, yaitu kehamilan pada perempuan yang telah memiliki lebih dari empat anak hidup.

Menurut Shodiqin, pemahaman mengenai 4T perlu terus disosialisasikan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya perencanaan kehamilan dan kesehatan ibu serta anak.

Pada sesi tanya jawab, turut dibahas mengenai usia ideal untuk menikah. Dalam pemaparan tersebut, usia ideal menikah disampaikan yakni 25 tahun bagi laki-laki dan 21 tahun bagi perempuan, dengan mempertimbangkan kesiapan fisik, mental, ekonomi, dan aspek kehidupan lainnya.

Pengasuhan Anak dan Kehadiran Ayah Jadi Perhatian

Sementara itu, Kepala Dinas PPPAKB Kabupaten Sidoarjo, Heni Kristiani, S.Pd., M.M., memaparkan pentingnya penguatan pengasuhan anak dan sinergi lintas sektor dalam pembangunan keluarga.

Ia menjelaskan bahwa Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) merupakan reformulasi Program Bina Keluarga Balita dan Anak (BKB), dengan penajaman pada kebutuhan penyediaan tempat penitipan anak di tingkat desa atau kelurahan, lingkungan perkantoran, serta kawasan industri.

Upaya tersebut ditujukan agar hak-hak anak, terutama pada usia emas pertumbuhan dan perkembangannya, dapat terpenuhi tanpa mengabaikan produktivitas ekonomi kedua orang tua.

Heni juga menyampaikan fokus kebijakan terkini yang mencakup pendampingan keluarga berbasis data serta pelaksanaan berbagai program prioritas di lapangan, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Tamasya, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), dan Lansia Berdaya (Sidaya). Ia turut menyinggung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam paparannya, Heni mengajak masyarakat memperkuat pengetahuan mengenai pembangunan keluarga dan meningkatkan kepedulian terhadap kondisi keluarga maupun lingkungan sekitar.

Ia menyinggung kasus bayi meninggal setelah dilahirkan di kamar mandi yang ramai diperbincangkan masyarakat di Bandungan sebagai pengingat pentingnya perhatian terhadap persoalan keluarga dan perlindungan anak. Menurutnya, pencegahan kejadian serupa membutuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama, bukan hanya dari pihak ibu, tetapi juga ayah dan lingkungan sekitar.

“Pembangunan keluarga bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah. Karena itu, tema Kemendukbangga, #AyahWajibHadir, perlu diterapkan di lingkungan kita,” ujar Heni dalam pemaparannya.

Ia juga menyoroti fenomena *fatherless*, yaitu kondisi ketika anak tidak memperoleh keterlibatan dan kehadiran ayah secara memadai dalam pengasuhan, meskipun sosok ayah ada dalam keluarga. Heni menyampaikan bahwa fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar anak memperoleh dukungan pengasuhan yang optimal dari kedua orang tua.

Selain itu, ia menyebut program MBG 3B yang difokuskan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak bawah dua tahun (baduta) yang tidak mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD), sebagai bagian dari dukungan terhadap program prioritas pemerintah.

Komunikasi Keluarga Penting di Era Digital

Heni menambahkan bahwa tantangan pengasuhan anak saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Pengaruh terhadap anak tidak hanya berasal dari lingkungan pergaulan, tetapi juga dari informasi dan konten digital yang dapat diakses melalui gawai.

Menurutnya, kesehatan mental anak turut dipengaruhi oleh kualitas komunikasi dan hubungan dengan orang tua, termasuk kedekatan dengan ayah. Oleh sebab itu, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga harus diwujudkan melalui keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari anak.

“Kedekatan dengan anak tidak hanya sebatas hadir secara fisik, tetapi juga harus benar-benar membersamai. Jika keluarga tangguh, keluarga akan mampu menghadapi berbagai pengaruh dari luar. Kuncinya adalah komunikasi yang terbuka dan keteladanan, bukan sekadar ucapan,” menjadi pesan utama yang disampaikan Heni.

Melalui kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra ini, penguatan pengetahuan masyarakat mengenai perencanaan keluarga, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, serta keterlibatan ayah diharapkan dapat terus ditingkatkan.

Sinergi antara DPR RI, Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang tangguh, mendukung tumbuh kembang anak, serta mempersiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.(**)