Eks Napiter Banten Belajar Servis AC, Densus 88 Dorong Jalan Pulang Lewat Keterampilan

Pelatihan teknisi AC bagi eks napiter di BPSDMD Banten. Foto: Ist
Pelatihan teknisi AC bagi eks napiter di BPSDMD Banten. Foto: Ist

Harnas.id, PANDEGLANG Upaya reintegrasi sosial bagi mantan narapidana terorisme (napiter) di Banten kembali digerakkan melalui jalur keterampilan kerja. Sebanyak 20 eks napiter mengikuti pelatihan teknisi Air Conditioner (AC) di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Banten, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang.

Program ini menjadi bagian dari fase lanjutan setelah para peserta menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Langkah tersebut sekaligus menandai komitmen mereka untuk meninggalkan paham lama dan kembali ke kehidupan sosial yang lebih inklusif.

Peserta pelatihan diketahui berasal dari eks anggota Jamaah Islamiyah. Mereka kini diarahkan untuk membangun kembali kehidupan melalui jalur produktif, salah satunya dengan membekali diri keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Densus 88 Antiteror Polri dan didukung oleh PT Astra International sebagai bagian dari implementasi pencegahan tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018.

Dept Head Strategic Business Intelligent PT Astra International, Jaka Fernando, menyebut pelatihan ini bukan program pertama. “Ini merupakan kali keenam pelatihan teknisi AC yang kami selenggarakan bersama Densus 88 untuk para eks napiter dan jaringan teror di Indonesia,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Ia menambahkan, pemilihan bidang teknisi AC bukan tanpa alasan. Tingginya kebutuhan layanan perawatan pendingin udara di sektor rumah tangga hingga perkantoran dinilai membuka peluang kerja yang luas dan berkelanjutan.

Dalam pelatihan kali ini, sebanyak 19 peserta berasal dari kalangan eks napiter. Program juga melibatkan unsur organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di wilayah Banten. Kolaborasi ini dipandang penting untuk mempercepat proses penerimaan sosial sekaligus membangun interaksi lintas kelompok.

Tak hanya pelatihan, peserta juga dibekali perlengkapan servis AC agar dapat langsung bekerja setelah program selesai. Skema ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi serta memutus potensi keterhubungan kembali dengan jaringan lama.

Program ini turut melibatkan alumni yang telah berhasil, seperti Kusnadi asal Serang dan Kartono dari Bogor, yang kini berperan sebagai asisten pelatih. Kehadiran mereka menjadi contoh konkret bahwa proses deradikalisasi dapat berjalan efektif bila diikuti dengan pendampingan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, pelatihan teknisi AC ini telah memasuki angkatan ke-6. Konsistensi program menunjukkan adanya pola pembinaan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada aspek ideologi, tetapi juga ekonomi dan sosial.

Di sisi lain, Densus 88 kini mengedepankan strategi soft approach dalam penanggulangan terorisme. Pendekatan ini menitikberatkan pada aspek kemanusiaan, dialog terbuka, serta pendampingan terhadap individu yang sebelumnya terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme.

Strategi tersebut dinilai menunjukkan hasil. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat capaian zero attack serta penurunan angka penangkapan kasus terorisme. Kondisi ini menjadi indikator bahwa pendekatan non-represif mulai memberi dampak signifikan.

Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga tren positif ini. Melalui kolaborasi berkelanjutan, diharapkan upaya penanggulangan terorisme di Indonesia semakin efektif dan mampu menciptakan kondisi yang aman serta stabil.

Editor: IJS