
Harnas.id, SURABAYA — Di tengah ribuan wisudawan yang memenuhi Grha Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan dua kisah kontras soal usia dan semangat belajar. Rochman Sugiarto dan Siens Harianto menjadi sorotan sebagai wisudawan termuda dan tertua pada Wisuda ke-133 ITS, Minggu (19/4).

Rochman dinobatkan sebagai wisudawan termuda dengan usia 20 tahun 1 bulan. Perjalanan akademiknya terbilang cepat, dimulai sejak mengikuti program akselerasi saat duduk di bangku SMP.
Program tersebut memangkas masa studi menjadi dua tahun. Hasilnya memuaskan, dan ia melanjutkan jalur akselerasi yang sama saat SMA dengan dukungan penuh dari keluarga.
“Karena saya bisa survive selama SMP, orang tua pun mendukung untuk ikut akselerasi juga di SMA,” jelasnya.
Dengan jalur percepatan itu, Rochman menuntaskan pendidikan menengah hanya dalam empat tahun. Di usia 16 tahun, ia sudah resmi menjadi mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS.
Pilihan jurusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Rochman melihat sektor material dan metalurgi memiliki peluang besar di dunia industri, khususnya untuk kebutuhan energi dan manufaktur.
Selama kuliah, ia tidak hanya fokus pada akademik. Mahasiswa asal Sidoarjo ini aktif di organisasi, kepanitiaan, serta menjadi asisten laboratorium.
“Tantangan utamanya memang ada pada cara membagi waktu, tapi saya enjoy dengan proses yang saya jalani,” kenangnya.
Di akhir masa studi, Rochman mengangkat penelitian tentang material fotokatalis. Ia meneliti cara mengonversi karbon dioksida (CO2) menjadi metanol menggunakan kombinasi cellulose nanocrystals, ZIF-8, dan CuO.
Riset tersebut berangkat dari kekhawatirannya terhadap polusi karbon. Hasilnya, ia lulus dengan predikat magna cumlaude dan meraih IPK 3,77.
Di sisi lain, Siens Harianto menunjukkan perjalanan yang berlawanan. Ia menjadi wisudawan tertua dengan gelar doktor di usia 65 tahun.
Pria kelahiran Bandung itu memulai studi doktoral di bidang Manajemen Teknologi, Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS, saat berusia 59 tahun. Ia juga tercatat sebagai bagian dari angkatan pertama program tersebut.
Meski berada di usia yang tidak lagi muda, Siens memiliki motivasi kuat untuk terus belajar. Ia menyebut pendidikan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tidak berhenti.
“Saya juga ingin memberikan legacy bagi anak dan cucu,” ujarnya.
Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Sebagai Technical Advisor di PT Indal Steel Pipe, ia harus menghadapi tantangan dalam menentukan topik disertasi.
Bahkan, tema disertasinya beberapa kali berubah di setiap tahapan ujian. Kondisi fisik yang mulai menurun, termasuk motorik dan daya ingat, turut menjadi tantangan tersendiri.
“Dengan tertatih-tatih saya mengumpulkan argumen demi argumen sehingga tersusunlah menjadi disertasi,” ungkapnya.
Kisah Rochman dan Siens menjadi potret bahwa pendidikan tidak dibatasi usia. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya konsistensi dan semangat dalam menempuh studi.
Cerita ini juga sejalan dengan upaya mendorong pendidikan berkualitas dan inovasi, sebagaimana tertuang dalam target pembangunan berkelanjutan atau SDGs.
Di tengah dinamika dunia pendidikan, ITS menghadirkan dua contoh berbeda yang berujung pada pesan serupa: kesempatan belajar terbuka bagi siapa saja, selama ada kemauan untuk menjalaninya.
Editor: IJS










