Pakar ITS Ingatkan Dampak Konsumsi Air dan Energi akibat Ekspansi Data Center AI

Pakar lingkungan ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD menjelaskan mengenai neraca air terkait rencana pembangunan data center untuk AI di Indonesia

Harnas.id, SURABAYA – Rencana pembangunan pusat data (data center) untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air dan energi. Menanggapi fenomena tersebut, pakar lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. Joni Hermana, MScES, PhD, mengingatkan pentingnya memperhitungkan dampak lingkungan sejak tahap perencanaan pembangunan.

Joni menjelaskan bahwa data center AI harus beroperasi selama 24 jam tanpa henti untuk menjamin keberlangsungan layanan. Selain membutuhkan pasokan listrik yang stabil, fasilitas tersebut juga memerlukan air untuk menjaga suhu perangkat agar tetap berada pada kondisi optimal.

“Artinya, untuk menyokong infrastruktur tersebut, pasokan air maupun listrik tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut, kebutuhan air untuk operasional data center perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, sektor ini bukan satu-satunya pengguna sumber daya air. Di tengah kebutuhan masyarakat, industri, dan pertanian, tambahan konsumsi air untuk operasional data center berpotensi semakin memperbesar tekanan terhadap ketersediaan pasokan.

Lebih lanjut, Joni menegaskan bahwa kebutuhan air data center tidak cukup dinilai berdasarkan rata-rata ketersediaan air tahunan. Perhitungan juga harus mempertimbangkan fluktuasi pasokan, khususnya saat musim kemarau, ketika kebutuhan air masyarakat cenderung meningkat.

“Adapun rasio kebutuhan terhadap ketersediaan air di Pulau Jawa telah mendekati 0,4 yang menandakan kondisi rawan krisis air,” ungkapnya.

Alumnus program doktoral University of Newcastle, Inggris, tersebut menambahkan bahwa ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan air dapat berdampak langsung terhadap masyarakat apabila sumber daya yang tersedia tidak mencukupi. Karena itu, kapasitas air yang secara nominal masih tersedia belum tentu seluruhnya dapat dimanfaatkan, terutama ketika terjadi penurunan pasokan pada musim kemarau.

Selain tekanan terhadap sumber daya air, Joni juga menyoroti potensi peningkatan emisi karbon akibat tingginya konsumsi listrik pada operasional data center AI. Menurutnya, perhitungan dampak lingkungan harus mencakup emisi langsung maupun tidak langsung.

“Termasuk emisi dari pembangkitan listrik yang memasok fasilitas tersebut serta aktivitas pendukung operasionalnya,” imbuh Rektor ITS periode 2015–2019 tersebut.

Menutup penjelasannya, Joni menekankan pentingnya kajian komprehensif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebelum pembangunan data center dilanjutkan. Menurutnya, pertimbangan ekonomi harus diseimbangkan dengan kemampuan sumber daya alam dalam menopang kebutuhan operasional fasilitas tersebut.

“Jangan sampai kita tersandera oleh kebijakan sendiri hingga mengorbankan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Editor: Erk