TEP ITS Olah Pecahan Beras Menjadi Tepung Bernilai Ekonomi di Papua Barat

Proses perakitan mesin penepung (Diskmill) di rumah produksi BUMDes Margorukun, Distrik Oransbari

Harnas.id, MANOKWARI — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengolah pecahan beras menjadi tepung beras dalam kemasan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.

Melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG), program yang dipimpin Prof. Dr. Sholiq, S.T., M.Kom., MSA. ini bertujuan memperkuat perekonomian masyarakat transmigran melalui diversifikasi produk pertanian.

Sholiq menjelaskan bahwa Oransbari merupakan salah satu sentra produksi padi di Provinsi Papua Barat. Namun, pengolahan hasil panen di wilayah tersebut masih berorientasi pada produksi beras medium. Sementara itu, sekitar 15 persen hasil penggilingan berupa pecahan beras masih memiliki nilai jual yang relatif rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat tahun 2025, produksi padi di Kabupaten Manokwari Selatan mencapai 4.854 ton. Produksi tersebut berasal dari luas panen 822 hektare dengan produktivitas 59,04 kuintal per hektare.

“Terdapat potensi surplus produksi sekitar 1.212 ton per tahun atau sekitar 33 persen di atas kebutuhan konsumsi lokal,” ungkap Sholiq.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang pengembangan hilirisasi pertanian melalui diversifikasi produk yang dapat dipasarkan ke berbagai wilayah di Papua Barat.

Melihat peluang tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 9 ITS mengusung program bertajuk Integrated Rice Value: Inovasi Produksi Beras Premium dan Tepung Beras Berkemasan dari Pemanfaatan Pecahan Beras. Program ini dirancang untuk meningkatkan nilai ekonomi pecahan beras sekaligus memperluas pilihan produk olahan padi yang berpotensi dipasarkan kepada masyarakat.

Melalui program tersebut, tim menghadirkan mesin penepung (disk mill) untuk mengolah pecahan beras serta mesin pengemas guna mendukung kesiapan produk memasuki pasar. Inovasi ini juga diarahkan untuk memperkuat usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margorukun melalui unit usaha Mandiri Sejahtera.

“Berdasarkan pengamatan pasar, toko dan pemasok di Oransbari belum menyediakan produk tepung beras lokal,” ujar Guru Besar Sistem Informasi ITS tersebut.

Untuk memastikan kelayakan proses produksi, Sholiq bersama tim telah melakukan pengujian pembuatan tepung beras menggunakan sampel beras yang berbeda. Tahapan pengujian meliputi pembersihan bahan baku, pencucian, variasi waktu perendaman, penggilingan, pengayakan, hingga pengeringan.

“Hasil pengamatan menunjukkan bahwa beras lokal berpotensi menjadi bahan baku tepung setelah melalui proses pembersihan yang menyeluruh,” terangnya.

Pengujian tersebut juga menunjukkan bahwa durasi perendaman memengaruhi hasil produksi. Perendaman yang lebih lama cenderung menghasilkan tepung dalam jumlah lebih banyak dengan tekstur lebih halus. Namun, proses tersebut membutuhkan pengeringan yang lebih intensif.

Hasil pengujian ini menjadi dasar pengembangan diversifikasi produk dari hasil penggilingan padi. Dengan strategi tersebut, pecahan beras yang sebelumnya memiliki nilai jual lebih rendah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah untuk menyasar segmen pasar yang berbeda.

Dalam jangka panjang, penerapan TTG diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas padi sekaligus memperkuat usaha lokal, termasuk unit pengolahan hasil pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sholiq menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan peralatan produksi, tetapi juga pada pembangunan fondasi usaha lokal yang berkelanjutan. Untuk mendukung strategi pemasaran, tim telah melakukan survei dengan melibatkan toko, pemasok, dan pelaku UMKM setempat.

“Respons awal menunjukkan ketertarikan masyarakat untuk mencoba tepung beras produksi lokal,” paparnya.

Ke depan, tepung beras lokal diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan yang berkelanjutan melalui penguatan kapasitas pengelola, pemenuhan aspek legalitas, dan perluasan jejaring pasar.

Sebagai tindak lanjut, tim telah merencanakan pembekalan dan pelatihan yang mencakup pengoperasian mesin produksi, pemanfaatan tepung beras sebagai bahan baku berbagai produk pangan, serta pendampingan usaha dan pemasaran.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga memahami peluang ekonomi dari pemanfaatan potensi lokal. Pengelolaan usaha juga akan diarahkan melalui kelembagaan lokal, seperti BUMDes, dengan dukungan sistem pengelolaan keuangan dan pemeliharaan peralatan yang memadai.

Pengembangan inovasi TTG di kawasan transmigrasi oleh TEP ITS ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut mendukung Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain itu, pemberdayaan kelembagaan lokal dan penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan turut mendukung Tujuan 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Editor: Erk