
Harnas.id, SURABAYA — Timbulan sampah plastik, khususnya Polyethylene Terephthalate (PET) dari botol minuman, masih menjadi tantangan lingkungan dan ekonomi di Pulau Jawa.
Menjawab persoalan tersebut, Dr Hilyatun Nuha, ST MT, lulusan Program Doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mengembangkan model Reverse Logistics Network berbasis kolaborasi untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dan daur ulang sampah PET.
Hilyatun Nuha, yang merupakan dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, mengungkapkan bahwa sekitar 88,17 persen sampah plastik di Pulau Jawa masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tanpa melalui proses daur ulang. Padahal, pengelolaan botol PET yang optimal berpotensi mendukung rantai pasok berkelanjutan sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular.
“Penumpukan sampah ini salah satunya dipicu oleh belum optimalnya integrasi sistem pengumpulan sampah, mulai dari tingkat rumah tangga,” jelas perempuan kelahiran Gresik yang akrab disapa Hilya tersebut.
Untuk mengatasi persoalan itu, Hilya merancang dan membandingkan tiga skema pemodelan matematika kuantitatif secara bertahap. Ketiganya meliputi model konvensional, model integrasi masyarakat dan pemerintah, serta model kolaborasi antarkolektor sampah melalui konsep endogenous cost sharing atau pembagian biaya secara endogen.
“Kebaruan model ketiga terletak pada mekanisme pembagian biaya penyimpanan antara bank sampah dan dinas lingkungan hidup. Dengan pendekatan ini, kolaborasi antarpihak dapat dioptimalkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah,” paparnya.
Hasil perbandingan ketiga skema dalam penelitian yang dibimbing oleh Prof Nurhadi Siswanto, ST MSIE PhD, dan Dr Eng Erwin Widodo, ST MEng, menunjukkan bahwa model kolaborasi memberikan hasil yang lebih baik.
Pada skema integrasi tanpa kolaborasi, sampah PET yang tidak terangkut masih mencapai 21 persen. Sementara itu, melalui skema kolaborasi, jumlah sampah PET yang tidak terangkut berhasil ditekan hingga nol persen.
Selain meningkatkan efektivitas pengangkutan, model tersebut juga mampu menekan biaya lingkungan secara signifikan, dari Rp1,813 miliar menjadi Rp182 juta.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi dalam jaringan pengumpulan sampah tidak hanya membantu memastikan sampah PET terangkut, tetapi juga berpotensi menurunkan biaya lingkungan,” tambah Hilya.
Kualitas dan kebaruan penelitian ini turut dibuktikan melalui publikasi pada jurnal internasional bereputasi Supply Chain Analytics yang diterbitkan oleh Elsevier. Selain dirancang dengan mempertimbangkan kondisi praktis di lapangan, model matematika yang dikembangkan juga memanfaatkan perangkat lunak yang mudah diakses.
“Seluruh proses optimasi kami jalankan menggunakan perangkat lunak yang dapat diakses secara luas. Dengan demikian, model ini diharapkan dapat menjadi referensi yang aplikatif bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah,” ungkapnya.
Melalui penelitian tersebut, Hilya berharap pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dapat memperluas penyediaan fasilitas pengumpulan sampah terpadu serta memberikan insentif langsung kepada industri daur ulang.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok daur ulang, mengurangi sampah yang berakhir di TPA, dan mendorong penerapan ekonomi sirkular secara berkelanjutan.
Inovasi ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. (*)
Editor: Erk










