
Harnas.id, SURABAYA – Upaya mewujudkan kemandirian energi nasional terus mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Salah satunya datang dari Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., yang mengembangkan teknologi energi surya terintegrasi atau Integrated Solar Cell untuk meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan.
Inovasi tersebut dipaparkan dalam orasi ilmiah bertajuk Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi. Dalam paparannya, Bambang menekankan bahwa pengembangan energi bersih tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
“Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa,” ujar Bambang.
Guru Besar ke-254 ITS itu menjelaskan, salah satu teknologi yang dikembangkannya adalah Solar Chimney Power Plant (SCPP), yakni pembangkit listrik yang memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara alami yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin.
Teknologi tersebut bekerja layaknya cerobong raksasa yang mengubah energi panas menjadi energi listrik tanpa menghasilkan emisi selama proses pembangkitan. Melalui kombinasi penelitian eksperimental dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD), Bambang melakukan berbagai penyempurnaan pada desain absorber serta geometri cerobong untuk meningkatkan performa sistem.
Hasil riset menunjukkan peningkatan daya listrik yang signifikan. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, konfigurasi yang dikembangkan mampu menghasilkan daya lebih dari 750 persen dibandingkan model konvensional yang digunakan sebelumnya.
Menurut Bambang, capaian tersebut membuktikan bahwa peningkatan efisiensi pembangkit listrik tidak selalu harus dilakukan dengan memperbesar ukuran sistem. Inovasi desain yang tepat justru dapat menghasilkan peningkatan performa yang jauh lebih efektif.
“Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia,” katanya.
Selain mengembangkan teknologi Solar Chimney, Bambang juga merancang sistem pendingin pasif untuk panel surya dengan memanfaatkan limbah biomassa lokal seperti serat kelapa sawit dan ampas tebu. Material tersebut digunakan untuk menjaga suhu panel tetap stabil sehingga kinerja panel surya dapat lebih optimal tanpa memerlukan tambahan konsumsi listrik.
Pemanfaatan limbah pertanian tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular atau circular economy, di mana material sisa produksi dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai.
Tak hanya itu, alumnus National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) tersebut juga mengembangkan teknologi solar tracking pada pembangkit listrik tenaga surya terapung serta sistem PLTS hibrida yang dilengkapi Energy Management System (EMS).
Berbagai inovasi tersebut kemudian disatukan dalam konsep Integrated Sustainable Solar Energy System. Sistem ini mengintegrasikan teknologi panel surya, penyimpanan energi, hingga pengelolaan distribusi daya agar berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Ke depan, Bambang berencana mengembangkan teknologi Solar Chimney dengan mengintegrasikan thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain pembangkit berskala lebih besar guna meningkatkan efisiensi konversi energi.
Ia berharap inovasi yang lahir dari lingkungan kampus tersebut dapat mempercepat transisi energi nasional menuju sistem yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Pengembangan teknologi energi surya yang dilakukan ITS juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals(SDGs), khususnya poin energi bersih dan terjangkau, industri dan inovasi, serta penanganan perubahan iklim. Melalui riset yang memanfaatkan potensi energi matahari dan sumber daya lokal, ITS berupaya menghadirkan solusi teknologi yang relevan bagi kebutuhan pembangunan Indonesia di masa depan.
Editor: IJS










