
Harnas.id, JAKARTA – Di tengah gempuran hiburan digital dan konten cepat media sosial, pertunjukan teater tradisional ternyata belum kehilangan tempat di hati masyarakat urban, khususnya generasi muda Jakarta.
Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat terhadap pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 bertajuk “Tumbal” yang digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).

Pementasan yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) bekerja sama dengan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 tersebut sukses menyedot perhatian publik.
Meski kapasitas gedung hanya tersedia untuk 252 penonton, jumlah pendaftar pertunjukan justru mencapai 1.358 orang.
Fenomena itu menjadi sinyal bahwa pertunjukan seni tradisional masih memiliki pasar kuat di Jakarta, bahkan mulai dilirik generasi muda yang sebelumnya lebih akrab dengan hiburan digital.
Kepala UP GPSB, Rinaldi mengatakan tren pertunjukan seni budaya saat ini memang mengalami peningkatan cukup signifikan.
Menurutnya, animo masyarakat terhadap Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 terus mengalami kenaikan dalam beberapa pementasan terakhir.
“Kami mengapresiasi animo masyarakat terhadap pertunjukan seni budaya yang begitu tinggi. Menariknya, penonton didominasi oleh generasi muda,” ujar Rinaldi.
Ia menjelaskan jumlah pendaftar pertunjukan “Tumbal” meningkat drastis dibanding pementasan sebelumnya pada April 2026.
“Sebanyak 1.358 orang mendaftar secara online, mengalami peningkatan sebesar 145 persen dari pendaftar pada pertunjukan sebelumnya bulan April lalu, yakni 553 pendaftar. Sementara, tiket pertunjukan hanya untuk 252 penonton, sesuai kapasitas gedung,” jelasnya.
Pendaftaran pertunjukan sendiri dilakukan secara daring melalui tautan resmi yang disediakan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928.
Tingginya minat masyarakat dinilai menjadi bukti bahwa seni pertunjukan tradisional tidak sekadar bertahan, tetapi juga mulai menemukan kembali ruangnya di tengah masyarakat perkotaan. Selain menjadi hiburan, pertunjukan tersebut juga dianggap berfungsi sebagai media edukasi budaya sekaligus ruang pelestarian tradisi lintas generasi.
Pemprov DKI Jakarta sendiri terus mempertahankan keberlangsungan pementasan ini sebagai bagian dari komitmen menjaga keberagaman budaya yang tumbuh di ibu kota.
Komitmen itu juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang memberi kewenangan khusus di bidang kebudayaan, termasuk pemajuan budaya Betawi dan budaya lain yang berkembang di Jakarta.
“Direncanakan sepanjang tahun 2026, terdapat 10 kali pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis,” pungkas Rinaldi.
Lakon “Tumbal” Angkat Kisah Gelap Perjanjian Mistis
Dalam pementasan kali ini, kelompok teater Miss Tjitjih menghadirkan lakon berjudul “Tumbal”.
Cerita tersebut mengangkat sosok Mardi, seorang pria yang memilih jalan kelam demi memenuhi ambisi kekuasaan dan pengakuan sosial di lingkungannya.
Mardi kemudian membuat perjanjian dengan makhluk gaib Genderuwo yang berujung pada kutukan panjang bagi dirinya dan keturunannya. Perjanjian tersebut perlahan memakan korban dan menyeret keluarganya dalam situasi penuh teror.
Tokoh Rati yang merupakan istri Mardi digambarkan harus menghadapi pilihan berat antara mempertahankan suaminya atau menghentikan perjanjian mistis tersebut. Namun demi menyelamatkan Mardi, Rati justru memilih mengorbankan hidupnya sendiri.
Konflik semakin memuncak ketika kutukan perjanjian itu mulai mengancam anak mereka dan terus berpindah dari satu korban ke korban lain.
Jejak Panjang Miss Tjitjih di Jakarta
Nama Gedung Kesenian Miss Tjitjih diambil dari sosok seniwati asal Sumedang, Jawa Barat, bernama Nyi Tjitjih. Kariernya di dunia sandiwara dimulai saat bergabung dengan Grup Opera Valencia pada tahun 1926 ketika usianya masih 18 tahun.
Kelompok tersebut kemudian berganti nama menjadi Sandiwara Miss Tjitjih dan berkembang pesat hingga hijrah ke Jakarta pada 1928.
Pada era 1950-an, kelompok sandiwara ini mencapai masa kejayaan setelah menetap di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Pementasan mereka kala itu hampir digelar setiap hari dan berhasil menarik penonton dari berbagai daerah.
Setelah sempat berpindah lokasi dan mengalami penggusuran pada 1987, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya membangun Gedung Kesenian Miss Tjitjih di kawasan Cempaka Baru, Kemayoran.
Kini gedung tersebut berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan rutin digunakan untuk berbagai kegiatan seni pertunjukan serta latihan teater.
Eksistensi Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 hingga hari ini dinilai menjadi salah satu contoh pelestarian budaya yang diwariskan lintas generasi di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Editor: IJS










