Stroke Iskemik Bisa Dicegah, Dokter Eka Hospital Depok Jelaskan Solusi Intervensi Vaskular

dr. Tom Christy Adriani, Sp.B, Subsp.BVE (K), Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok saat memberikan edukasi mengenai pencegahan stroke iskemik (Dok. Eka Hospital)
dr. Tom Christy Adriani, Sp.B, Subsp.BVE (K), Dokter Spesialis Bedah Vaskular Eka Hospital Depok saat memberikan edukasi mengenai pencegahan stroke iskemik (Dok. Eka Hospital)

Harnas.id, DEPOK – Stroke iskemik masih menjadi jenis stroke yang paling banyak terjadi di dunia. Kondisi ini muncul akibat tersumbatnya aliran darah menuju otak, baik karena penumpukan plak pada pembuluh darah (aterosklerosis) maupun akibat gumpalan darah yang menghambat sirkulasi.

Data medis menunjukkan stroke iskemik mencakup sekitar 87 persen dari seluruh kasus stroke. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko kecacatan hingga kematian akibat gangguan pembuluh darah otak tersebut.

Dokter Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Konsultan Eka Hospital Depok, dr. Tom Christy Adriani, Sp.B, Subsp.BVE (K), menjelaskan bahwa pasien dengan faktor risiko tinggi maupun mereka yang pernah mengalami stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA) perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak mengalami serangan stroke berulang.

Menurutnya, salah satu metode yang kini banyak digunakan adalah intervensi vaskular, yakni tindakan medis minim invasif yang bertujuan memperbaiki aliran darah pada pembuluh yang mengalami penyempitan atau penyumbatan.

“Prosedur ini dilakukan tanpa operasi terbuka dan bertujuan membuka kembali pembuluh darah yang menyempit sehingga suplai darah ke otak dapat berjalan lebih optimal serta membantu menurunkan risiko stroke,” jelas dr. Tom.

Intervensi vaskular dilakukan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah tertentu menuju lokasi penyumbatan. Teknik ini dinilai lebih minim risiko dibandingkan tindakan bedah terbuka konvensional dan memiliki masa pemulihan yang relatif lebih cepat.

Ada beberapa jenis tindakan intervensi vaskular yang umum dilakukan untuk mencegah maupun menangani stroke iskemik.

1. Carotid Angioplasty and Stenting (CAS)

Prosedur ini dilakukan pada pasien yang mengalami penyempitan arteri karotis, yakni pembuluh darah utama yang berfungsi mengalirkan darah ke otak.

Dalam tindakan ini, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah di pangkal paha atau pergelangan tangan menuju arteri yang mengalami penyempitan. Setelah itu, balon khusus dikembangkan untuk melebarkan pembuluh darah dan dilanjutkan dengan pemasangan stent atau tabung jaring logam agar pembuluh tetap terbuka.

Dengan terbukanya kembali jalur aliran darah menuju otak, risiko terjadinya stroke dapat ditekan secara signifikan.

2. Mechanical Thrombectomy

Tindakan ini merupakan prosedur darurat yang digunakan untuk menangani stroke iskemik akut akibat penyumbatan pembuluh darah besar di otak.

Melalui kateter yang dimasukkan dari pembuluh darah di pangkal paha atau pergelangan tangan, dokter menggunakan alat khusus untuk menangkap dan mengangkat gumpalan darah yang menyumbat aliran darah ke otak.

Mechanical thrombectomy biasanya dilakukan pada pasien yang masih berada dalam periode penanganan optimal atau golden period. Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin besar peluang pasien untuk pulih dan mengurangi risiko kecacatan permanen.

Selain efektif dalam membuka kembali aliran darah, intervensi vaskular juga memiliki sejumlah keunggulan klinis dibandingkan operasi konvensional.

Beberapa keunggulan tersebut antara lain:

● Tidak memerlukan sayatan besar, hanya luka tusukan kecil beberapa milimeter.

● Risiko perdarahan lebih rendah dan meminimalkan kerusakan jaringan saraf di sekitar area tindakan.

● Masa rawat inap lebih singkat dengan proses pemulihan yang relatif lebih cepat.

Dr. Tom menambahkan bahwa pemeriksaan pembuluh darah dan tindakan intervensi vaskular sangat direkomendasikan bagi kelompok yang memiliki faktor risiko tertentu.

Kelompok yang disarankan menjalani skrining meliputi:

● Pasien dengan penyempitan arteri karotis lebih dari 60–70 persen yang terdeteksi melalui USG Doppler karotis atau CT Angiografi.

● Individu yang memiliki riwayat stroke ringan (TIA) maupun stroke iskemik berulang.

● Penderita diabetes, hipertensi kronis, dan kolesterol tinggi yang mengalami gejala gangguan aliran darah ke otak seperti pusing berputar, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau gangguan bicara mendadak.

Ia menegaskan bahwa pencegahan stroke tidak boleh menunggu hingga terjadi penyumbatan total yang menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel otak.

“Pemeriksaan dini kondisi pembuluh darah merupakan langkah penting untuk melindungi diri dari risiko stroke dan kelumpuhan. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Tom.

Untuk mendukung upaya pencegahan stroke, masyarakat dapat melakukan skrining pembuluh darah, evaluasi Digital Subtraction Angiography (DSA), hingga konsultasi dengan dokter spesialis bedah vaskular dan endovaskular guna menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Untuk mendapatkan layanan skrining stroke komprehensif, evaluasi pembuluh darah saraf melalui Digital Subtraction Angiography (DSA), hingga tindakan intervensi vaskular, masyarakat dapat berkonsultasi langsung dengan tim dokter spesialis di Eka Hospital Depok.

Masyarakat juga dapat melakukan pendaftaran atau membuat janji konsultasi melalui Appointment Center di nomor 1-500-129 atau melalui WhatsApp Center 0889-1500-129.

Editor: IJS