
Harnas.id, BUKITTINGGI – Ajang jalan kaki budaya wondr Pejalan Nagari Festival 2026 (wPNF 2026) sukses menarik perhatian peserta dari dalam dan luar negeri. Selama dua hari pelaksanaan, mulai Sabtu (13/6) hingga Minggu (14/6), festival ini menghadirkan perpaduan antara olahraga, wisata budaya, sejarah, dan keindahan alam yang menjadi daya tarik khas Sumatera Barat.
Sebanyak 500 peserta ambil bagian dalam kegiatan yang dimulai dari kawasan Jam Gadang, Kota Bukittinggi, dan berakhir di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara yang turut meramaikan festival berbasis sport tourism tersebut.
Mengusung tema “Welcome Home, Walk Together”, wPNF 2026 menghadirkan tiga pilihan kategori perjalanan, yakni 5 kilometer, 10 kilometer, dan 20 kilometer. Sepanjang rute, peserta diajak menyusuri berbagai titik ikonik yang menjadi identitas kawasan Bukittinggi dan Agam.

Tidak hanya melewati pusat kota, peserta juga menikmati panorama Geopark Ngarai Sianok Maninjau, kawasan Janjang Saribu atau The Great of Koto Gadang, hingga Kawasan Pusaka Koto Gadang yang dikenal dengan deretan rumah berarsitektur Indische yang masih terjaga hingga kini.
Event Director wPNF 2026, Jurian Andika, mengatakan penyelenggaraan tahun ini berhasil memenuhi target yang sebelumnya telah ditetapkan panitia, khususnya dalam menarik peserta dari luar negeri.
Menurut Jurian, salah satu indikator keberhasilan festival adalah jumlah peserta asing yang melebihi 10 orang dan keterlibatan lebih dari empat kewarganegaraan berbeda.
“Pada event ini, ada sekitar 30 peserta asing dari lima negara. Selain itu, wPNF 2026 berhasil melaksanakan event dua hari dengan dua venue berbeda yaitu Kota Bukittinggi dan Koto Gadang, Kabupaten Agam. Peserta dari mancanegara antara lain berasal dari Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Perancis, dan Spanyol,” jelas Jurian.
Ia menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa konsep wisata jalan kaki yang menggabungkan unsur budaya dan alam memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Ke depan, festival ini diharapkan berkembang menjadi agenda wisata berskala global yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sumatera Barat kepada wisatawan mancanegara.
Selain berfungsi sebagai sarana promosi destinasi, penyelenggaraan festival juga dinilai memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Dampak tersebut dirasakan mulai dari pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, pengisi acara, hingga berbagai mitra yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Salah seorang peserta dari luar Sumatera Barat, Rahajeng Kurniawatie, mengaku tertarik mengikuti festival tersebut karena ingin memperoleh pengalaman berbeda sekaligus melihat sisi lain Kota Bukittinggi yang belum banyak dikenal wisatawan.
Ia memilih kategori 20 kilometer yang menurutnya cukup menantang namun memberikan pengalaman berkesan selama perjalanan.
“Event ini bertepatan dengan perayaan 100 Tahun Jam Gadang yang membuatnya sangat meriah. Saya senang karena dapat mengunjungi hidden gem Bukittinggi. Saya akan ikut lagi tahun depan dengan mencoba kategori yang berbeda,” ujar Rahajeng.
Kesan positif juga datang dari peserta asal Malaysia, Vanessa Lim. Menurutnya, pengalaman mengikuti wPNF 2026 melampaui ekspektasi yang ia bayangkan sebelum datang ke Sumatera Barat.
“Sejujurnya, tidak ada keluhan sama sekali, yang ada hanya pujian. Sekarang saya tahu ada satu tempat di Sumatera Barat yang ingin saya kunjungi lagi. Saya sangat menyukai masyarakat lokalnya,” ungkap Vanessa.
Sementara itu, peserta asal Spanyol, Cristina Mollinedo, menjadikan festival ini sebagai pengalaman pertamanya berkunjung ke Indonesia. Ia mengaku tertarik karena konsep acara yang memadukan unsur budaya, sejarah, dan alam dalam satu rangkaian perjalanan.
“Ketika acara ini diumumkan, saya sangat terkesan dengan bagaimana acara ini menggabungkan budaya dan alam. Saya melihatnya sebagai kesempatan terbaik untuk mendapatkan pengalaman pertama saya di Indonesia. Sebuah tempat yang bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya. Pengalaman ini benar-benar unik dan otentik,” kata Cristina.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menilai festival tersebut menjadi contoh bagaimana sebuah kegiatan wisata dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi daerah. Selain memperkenalkan destinasi unggulan, kehadiran peserta dari berbagai wilayah juga ikut menggerakkan sektor ekonomi lokal.
“Festival ini memberikan dampak yang sangat baik bagi sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. Kehadiran peserta dan pengunjung dari berbagai daerah akan meningkatkan tingkat hunian hotel, kunjungan ke restoran dan pusat kuliner, serta mendorong aktivitas perdagangan di pasar dan pelaku UMKM. Semakin banyak event yang digelar, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di masyarakat,” papar Ramlan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Agam, Khasman Zaini. Ia menilai wPNF 2026 berhasil menempatkan Nagari Koto Gadang sebagai salah satu pionir pengembangan sport tourism berbasis komunitas di Sumatera Barat.

“Festival ini bukan sekadar ajang olahraga jalan kaki biasa, melainkan sebuah simfoni gerak yang memadukan kelestarian alam, edukasi sejarah, dan penguatan ekonomi riil masyarakat,” kata Khasman.
Menurutnya, nilai strategis festival ini terletak pada kemampuannya menyatukan olahraga, pelestarian lingkungan, sejarah, dan budaya dalam satu narasi promosi daerah yang utuh.
“Event ini membuktikan bahwa promosi pariwisata modern tidak harus meninggalkan akar budaya lokal,” pungkas Khasman.
Editor: IJS










