Harnas.id, JAKARTA – Palang Merah Indonesia (PMI) kembali mengirim bantuan kemanusiaan untuk warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan kali ini diangkut menggunakan kapal kemanusiaan PMI dengan total muatan mencapai 258 ton.
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK) mengatakan, bantuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penanganan bencana yang dilakukan PMI. Selain pengiriman logistik, PMI juga telah menyalurkan dana bantuan hingga tiga kali dengan nilai masing-masing sekitar Rp2 miliar.
“(Hari ini) kita sudah transfer untuk ketiga kalinya dana Rp2 miliar, tambah lagi itu Rp2 miliar kira-kira. Terima kasih semua yang memberikan bantuan,” ujar JK usai melepas pengiriman bantuan kemanusiaan di Terminal IKT Domestik Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (22/8/2026).
Kapal kemanusiaan tersebut merupakan kerja sama PMI dengan Kalla Lines. JK memperkirakan kapal membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk mencapai wilayah terdampak gempa di NTT.
Selain mengirim kebutuhan dasar, PMI menempatkan personel kesehatan untuk membantu masyarakat di lokasi bencana. Tim medis tersebut berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Rumah Sakit Bogor, Surabaya, Sorong, dan Makassar.
Menurut JK, saat ini terdapat empat kelompok tim kesehatan PMI yang telah bekerja di wilayah terdampak. Jumlah personel yang terlibat sekitar 40 orang, sementara sekitar 50 personel tambahan dijadwalkan menyusul untuk menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan.
“(Di tim kesehatan PMI) ada empat grup di sana untuk membantu program kesehatan. Personelnya kira-kira 40 orang, dan sekitar 50 orang lagi akan diberangkatkan. Setiap dua minggu akan dilakukan pergantian tim,” kata JK.
Pada Sabtu (22/8/2026), PMI kembali memberangkatkan sekitar 30 personel tambahan. Mereka disiapkan untuk membantu pelaksanaan operasi kemanusiaan sekaligus memperkuat tim yang telah berada di daerah terdampak.
JK menilai pengelolaan bantuan menjadi hal penting karena penanganan bencana melibatkan banyak pihak. Bantuan yang berasal dari pemerintah, masyarakat, pemerintah daerah, maupun lembaga kemanusiaan perlu dikelola dan disalurkan berdasarkan kebutuhan warga di masing-masing wilayah.
“(Kita) memanfaatkan semua bantuan dari pemerintah, masyarakat, daerah, dan PMI. Kita minta juga agar diatur distribusinya sesuai dengan yang terdampak,” ujarnya.
PMI telah menyiapkan tim di NTT yang bertugas mengatur penyaluran bantuan. Tim tersebut akan menyesuaikan distribusi dengan kondisi lapangan dan wilayah terdampak, yang disebut mencakup lima kabupaten di NTT.
258 Ton Bantuan Dikirim ke NTT
Kapal kemanusiaan PMI membawa berbagai kebutuhan dasar dan perlengkapan pendukung penanganan bencana. Total muatan bantuan yang dikirim mencapai 258 ton.
Bantuan tersebut terdiri dari:
- 10.000 sarung
- 20.000 pakaian
- 5.000 daster
- 4.000 Al-Qur’an
- 3.000 terpal
- 2.000 air mineral
- 1.000 hygiene kit
- 1.000 dignity kit
- 500 baby kit
- 500 kitchen kit
- 1.000 matras
- 1.000 selimut
- 1.500 jerigen
- 25 unit tenda berukuran 6×12 meter
- 25 unit toilet portable
- 10 unit kendaraan tangki air
- 10 unit mobil pick up
- 7 unit kendaraan double cabin
PMI juga mengirimkan sejumlah perlengkapan pendukung lainnya untuk kebutuhan operasional di lapangan. Bantuan tersebut mencakup 1.200 lampu tenaga surya, 1.000 radio, 1.000 senter, 500 sekop, 500 gerobak sorong, 200 sprayer, serta 200 paket alat pelindung diri (APD).
Perlengkapan lainnya seperti helm dan kebutuhan untuk anak-anak turut dimasukkan dalam muatan kapal. Beragam jenis bantuan tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus operasional tim kemanusiaan selama berada di wilayah terdampak.
JK mengatakan proses pemuatan bantuan ke kapal masih berlangsung saat pelepasan dilakukan. Kapal diperkirakan baru terisi penuh hingga tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah bencana di NTT.
Pengiriman logistik dalam jumlah besar tersebut menjadi bagian dari operasi kemanusiaan PMI yang masih berlangsung. PMI menyatakan kegiatan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak gempa di NTT akan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur.
Selain memastikan ketersediaan kebutuhan dasar, pengaturan distribusi menjadi perhatian agar bantuan tidak menumpuk di satu lokasi sementara wilayah terdampak lainnya kekurangan logistik. Pendekatan tersebut diharapkan membuat bantuan yang telah dikumpulkan dari berbagai pihak dapat diterima masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan.
Editor: IJS











