Pos Logistik Halim Masih Simpan 577 Ton Bantuan untuk Korban Bencana NTT

Pos Logistik Halim Perdanakusuma Menyiapkan Bantuan untuk Wilayah Terdampak Bencana NTT. Foto: BNPB
Pos Logistik Halim Perdanakusuma Menyiapkan Bantuan untuk Wilayah Terdampak Bencana NTT. Foto: BNPB

Harnas.id, JAKARTA – Dukungan logistik untuk penanganan darurat bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bergerak dari Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma, Jakarta. Hingga Jumat (21/8/2026), hampir 890 ton bantuan telah diterima di gudang untuk selanjutnya dikirim menuju wilayah terdampak melalui Pos Logistik Labuan Bajo dan Pos Logistik Maumere.

Data Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma mencatat, total bantuan yang masuk mencapai 889.659 kilogram atau sekitar 890 ton. Bantuan tersebut berasal dari 57 donatur dan menjadi bagian dari rantai pasok yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah NTT.

Dari total bantuan yang masuk tersebut, sebanyak 312.711 kilogram atau sekitar 313 ton telah dikirim menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara sepanjang 15–21 Agustus 2026. Pengiriman melalui jalur udara itu terbagi untuk dua tujuan, yakni Labuan Bajo dan Maumere.

Rinciannya, sebanyak 175.118 kilogram atau sekitar 175 ton bantuan dikirim menuju Labuan Bajo. Sementara 137.593 kilogram atau sekitar 137,6 ton lainnya diterbangkan menuju Maumere.

Pengiriman juga dilakukan menggunakan pesawat kargo komersial dengan memanfaatkan bantuan yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB. Pada periode 17–21 Agustus 2026, jalur ini telah mengangkut 465.000 kilogram atau 465 ton bantuan.

Sebanyak 360.000 kilogram atau 360 ton bantuan melalui pesawat kargo komersial dikirim ke Labuan Bajo. Adapun 105.000 kilogram atau 105 ton lainnya diarahkan ke Maumere.

Jika digabungkan, distribusi bantuan melalui dua jalur udara tersebut hingga 21 Agustus 2026 telah mencapai 777.711 kilogram atau sekitar 777,7 ton. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan di wilayah terdampak.

Selain makanan dan kebutuhan dasar, dukungan logistik juga mencakup perlengkapan untuk kebutuhan tempat tinggal sementara. Pada Jumat (21/8), sebanyak 245 unit tenda pengungsi telah dikirim ke dua wilayah tujuan.

Dari jumlah tersebut, 201 unit tenda dikirim menuju Labuan Bajo dan 44 unit lainnya menuju Maumere. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan hunian sementara masyarakat yang terdampak bencana.

Dukungan hunian juga berupa tenda keluarga. Sebanyak 2.968 unit telah dikirim ke Labuan Bajo dan Maumere, dengan rincian 2.332 unit untuk Labuan Bajo serta 636 unit untuk Maumere.

Di tengah distribusi yang terus berjalan, Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma masih memiliki persediaan dalam jumlah besar. Per Jumat (21/8), stok bantuan yang tercatat di gudang mencapai 576.948 kilogram atau sekitar 577 ton.

Persediaan tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari kementerian dan lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, hingga pihak lainnya. Stok yang tersisa menjadi bagian dari cadangan logistik yang dapat kembali dikirim sesuai kebutuhan di lapangan.

Untuk distribusi pada Sabtu (22/8), Lanud Halim Perdanakusuma menyiapkan empat sortie penerbangan menggunakan empat pesawat TNI Angkatan Udara. Rencana penerbangan tersebut disusun berdasarkan pembaruan data hingga pukul 07.00 WIB.

Empat pesawat yang disiapkan terdiri atas satu Airbus A-4001 dan tiga pesawat Boeing. Masing-masing pesawat telah direncanakan untuk membawa bantuan menuju Labuan Bajo atau Maumere.

Rinciannya:

  • Airbus A-4001 dengan kapasitas sekitar 22 ton direncanakan terbang menuju Maumere.
  • Boeing A-7305 dengan kapasitas sekitar 10 ton direncanakan menuju Labuan Bajo.
  • Boeing A-7304 dengan kapasitas sekitar 5 ton direncanakan menuju Labuan Bajo.
  • Boeing A-7306 dengan kapasitas sekitar 10 ton direncanakan menuju Maumere.

Dengan komposisi tersebut, kapasitas bantuan yang direncanakan diangkut menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara pada 22 Agustus mencapai sekitar 47 ton. Pengiriman ini diarahkan untuk menjaga kesinambungan pasokan bantuan ke Labuan Bajo dan Maumere.

Distribusi logistik tidak hanya mengandalkan pesawat TNI Angkatan Udara. Bantuan yang bersumber dari DSP BNPB juga tetap dikirim menggunakan pesawat kargo komersial, sementara jalur laut digunakan untuk menjangkau wilayah lain yang membutuhkan dukungan logistik.

Dalam penanganan darurat bencana di NTT, kebutuhan masyarakat yang masih menjadi perhatian mencakup hunian, pangan, kesehatan dan sanitasi, serta berbagai kebutuhan nonpangan. Pemenuhan kebutuhan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di wilayah terdampak.

Untuk sektor hunian, kebutuhan antara lain:

  • Tenda pengungsi
  • Tenda keluarga
  • Terpal
  • Kasur lipat
  • Selimut
  • Matras
  • Genset

Sementara untuk kebutuhan pangan, bantuan yang diperlukan meliputi:

  • Sembako
  • Makanan siap saji
  • Air mineral
  • Beras
  • Makanan ringan

Adapun kebutuhan kesehatan dan sanitasi mencakup:

  • Obat-obatan
  • Pembalut
  • Popok bayi
  • Popok dewasa

Untuk kebutuhan logistik nonpangan, bantuan yang dibutuhkan antara lain hygiene kit. Paket tersebut mencakup sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dan handuk.

Selain itu, terdapat kebutuhan paket perlengkapan bayi yang terdiri atas sabun bayi, sampo bayi, minyak telon, dan handuk bayi. Jenis bantuan tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.

BNPB terus melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, serta berbagai pihak lainnya dalam pengelolaan bantuan. Koordinasi tersebut mencakup pengaturan penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, hingga distribusi logistik ke wilayah yang membutuhkan.

Penguatan rantai pasok dilakukan agar bantuan yang tersedia di pusat logistik dapat terus bergerak menuju daerah terdampak sesuai kebutuhan. Dengan pola distribusi melalui udara dan laut, pemerintah berupaya menjaga ketersediaan bantuan sekaligus menyesuaikan pengiriman dengan kondisi lapangan di Provinsi NTT.

Editor: IJS