Ketua KPK Firli Bahuri | ANTARA FILES

HARNAS.ID – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menjadi bulan-bulanan warganet di ranah media sosial Twitter. Hal ini dipicu oleh pernyataan Firli yang ikut berkomentar tentang unggahan foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di media sosial sedang membaca buku How Democracies Dies. Unggahan foto Anies ini kemudian viral.

Firli mengaku sudah membaca buku yang dibaca Anies itu pada tahun 2002 lalu.

“Jadi, kalau kemarin saya lihat ada di media, Pak Anies membaca How Democracies Dies. Sebelumnya ada bukunya Why Nations Fail. Itu sudah lama saya baca, pada tahun 2002 sudah baca buku itu. Kalau ada yang baru baca sekarang, banyak yang mengkritisi ‘kan, sudah lama buku itu,” kata Firli dikutip Antara, dalam acara “Serah Terima Barang Rampasan dari KPK” yang disiarkan akun YouTube KPK, Selasa (24/11/2020).

Di luar dugaan, pernyataan Firli itu kemudian ramai dibahas di Twitter. Hashtag #KetuaKPK pun sempat menjadi trending topic Twitter. Pasalnya, warganet menyebut Firli salah lantaran buku How Democracies Dies yang dibaca Anies baru terbit pada 2018. Sementara buku Why Nations Fail  terbitan tahun 2012. Tak ayal warganet pun menyindir Firli,

“Why Nations Fail published on March 2012, How Democracies Die published 2018, yang dibaca tahun 2002 itu buku apa?” tulis akun @zarazettirazr.

Sementara akun @marlina_idha mengatakan,” Firli ngaku tahun 2002 sudah baca buku yang diposting Anies, ternyata buku terbit pertama tahun 2018. Ketua KPK ya?”

“Ketua @KPK_RI mah org sakti mandraguna, buku yang dibaca @aniesbaswedan itu terbitan pertamanya aja thn 2018 dia dah baca buku itu tahun 2002 silam,” kata akun @RestyResseh.

Tidak sedikit pula warganet yang menyarankan Firli fokus memburu buron KPK Harun Masiku. Hal ini antara lain diungkapkan akun @inisifani.

“Yang jadi pertanyaan itu apa urgensi seorang Ketua KPK pertanyakan bacaan orang? Salah pulak Mending pertanyakan kok sampai sekarang Harun Masiku  gak ketemu, apa masih hidup??atau jangan2 sudah oplas.”

Editor: Aria Triyudha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini