Harnas.id, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap persoalan serius di sektor ketenagakerjaan Indonesia. Jumlah masyarakat usia produktif yang putus asa mencari pekerjaan terus meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.
Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Zamroni Salim, menyebut berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah warga yang berhenti mencari pekerjaan karena putus asa tercatat 883 ribu orang pada 2019. Angka tersebut melonjak tajam menjadi 2,7 juta orang pada 2024.
“Putus asa mencari pekerjaan artinya seseorang tidak lagi aktif mencari kerja karena merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan. Dari 2019 ke 2024, angkanya naik drastis hingga 2,7 juta orang,” ujar Zamroni dalam forum Economic Outlook 2026.
Berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok paling dominan berasal dari lulusan SD atau tidak lulus SD sebesar 37,97 persen. Disusul lulusan SMA 24,86 persen, SMP 20,72 persen, SMK/MAK 10,08 persen, sarjana (S1) 4,59 persen, dan diploma 1,7 persen. Sementara lulusan S2 dan S3 hanya 0,08 persen.
Meski lulusan pendidikan dasar masih mendominasi, Zamroni menyoroti peningkatan signifikan pada lulusan SMA, diploma, dan sarjana. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan struktural dalam perekonomian nasional, terutama dalam kemampuan pasar kerja menyerap tenaga kerja terdidik.
“Lulusan SMP, SMA, hingga sarjana jumlahnya meningkat. Ini mengindikasikan ada masalah struktural dalam ekonomi kita, padahal tingkat pengangguran terbuka pada 2025 tercatat 4,8 persen,” jelasnya.
Dari sisi wilayah, mayoritas masyarakat yang putus asa mencari kerja kini berada di perkotaan dengan porsi 63,59 persen, sementara di perdesaan 36,41 persen. Angka ini berbanding terbalik dengan kondisi 2019, saat mayoritas berada di pedesaan.
Selain itu, jumlah pencari kerja aktif juga mengalami lonjakan. Pada 2019 tercatat 7,8 juta orang mencari kerja dalam satu bulan terakhir, sementara pada 2024 meningkat menjadi 11,7 juta orang, dengan kontribusi besar berasal dari lulusan SMA dan S1.
Editor: IJS











