Patung Macan Putih di Balongjeruk Viral, dari Dihujat hingga Dongkrak UMKM Warga

Tangkapan layar video TikTok @shnlrni yang memperlihatkan keramaian pengunjung di sekitar Patung Macan Putih Balongjeruk. Video: Istimewa.

Harnas.id, KEDIRI – Patung Macan Putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mendadak menjadi perbincangan luas publik sejak akhir Desember 2025 hingga awal 2026. Patung tersebut viral di media sosial setelah warganet ramai menyoroti bentuk visualnya yang dinilai tidak lazim dan jauh dari representasi macan pada umumnya.

Beragam komentar bernada kritik hingga ejekan bermunculan. Sebagian netizen menyebut patung tersebut lebih menyerupai kuda nil, zebra, bahkan capibara. Namun, di tengah cibiran itu, Patung Macan Putih justru menjelma menjadi fenomena tersendiri yang mengundang rasa penasaran masyarakat.

Alih-alih ditinggalkan, patung tersebut kini menjadi magnet kunjungan warga dari berbagai daerah. Kawasan Balongjeruk yang sebelumnya relatif sepi, berubah menjadi ruang berkumpul baru. Pengunjung berdatangan untuk berfoto, membuat konten media sosial, sekaligus menikmati suasana desa yang mendadak ramai.

Lonjakan kunjungan tersebut membawa dampak nyata bagi perekonomian warga. UMKM lokal tumbuh pesat di sekitar lokasi patung. Pedagang makanan dan minuman bermunculan, disusul penjualan suvenir bertema Macan Putih seperti kaos, balon karakter, hingga berbagai merchandise yang diminati pengunjung. Sejak viral, penjualan produk-produk tersebut meningkat signifikan.

Fenomena ini menjadi semakin menarik karena biaya pembuatan patung tergolong sangat sederhana. Berdasarkan keterangan pembuatnya, total anggaran pembuatan patung Macan Putih hanya sekitar Rp3,5 juta, mencakup bahan dan proses pengerjaan. Namun siapa sangka, karya tersebut justru pernah mendapat tawaran hingga Rp180 juta dari pihak luar daerah.

Meski demikian, tawaran bernilai ratusan juta rupiah itu ditolak. Pembuat patung dan warga sepakat mempertahankan Macan Putih tetap berada di Balongjeruk. Bagi mereka, patung tersebut telah menjadi ikon kebersamaan sekaligus penggerak ekonomi warga, bukan sekadar objek bernilai jual.

Di balik polemik visual dan viralitas, Patung Macan Putih juga menyimpan makna budaya yang kuat. Dalam tradisi Jawa, macan putih kerap dimaknai sebagai simbol penjaga, pelindung, serta kekuatan spiritual desa. Nilai inilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan patung, sekaligus memperkaya narasi di balik fenomena yang kini dikenal luas publik.

Kisah Patung Macan Putih Balongjeruk menjadi contoh bagaimana sebuah karya sederhana yang sempat dihujat, justru mampu bertransformasi menjadi identitas baru desa, penggerak UMKM, dan simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Editor: IJS