Nek Miming dan Al-Qur’an Besarnya

Ilustrasi muslimah lanjut usia membaca mushaf besar. Image: Canva
Ilustrasi muslimah lanjut usia membaca mushaf besar. Image: Canva

Harnas.id – Nenek berusia 84 tahun itu bernama Siti Aminah –biasa dipanggil Nek Miming oleh cucu-cucunya. Dua hari lalu saya sempat mampir ke rumahnya di kawasan Cipedak, Ciganjur, Jakarta Selatan. Ibu dari enam anak kelahiran Mampang Prapatan itu tampak sehat walafiat. Juga, tentu saja, berpuasa.

Siang itu, Nek Miming membungkuk khusyuk. Tangannya perlahan menahan lembaran-lembaran mushaf besar yang terbuka di hadapannya. Wajahnya begitu dekat dengan ayat-ayat suci, seakan ia ingin memastikan tak satu huruf pun terlewat dari pandangannya—atau mungkin dari hatinya.

Tak ada keramaian. Tak ada suara selain desah napas dan bisikan pelan yang mungkin hanya terdengar oleh dirinya dan Tuhannya.

Nek Miming bukan sedang membaca sekadar teks. Ia sedang menyelami makna. Setiap baris kalam Ilahi seolah menjadi jembatan antara langit dan bumi, antara kelemahan manusia dan kasih sayang Allah yang tak bertepi.

Di era ketika manusia berlomba mengejar dunia, pemandangan seperti ini adalah pengingat yang lembut: bahwa ada jiwa-jiwa yang memilih berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan kembali menata arah hidupnya melalui ayat-ayat-Nya.

Mushaf besar di hadapannya tampak berat—secara fisik mungkin iya. Namun yang jauh lebih berat adalah tanggung jawab memaknai dan mengamalkan isi di dalamnya. Membaca Al-Qur’an bukan hanya melafalkan huruf demi huruf, tetapi merawat cahaya yang perlahan tumbuh di dalam dada.

Kerudung yang menutup kepalanya bukan sekadar kain. Ia adalah simbol ketundukan, kesadaran, dan kehormatan dalam berdiri di hadapan Rabb-nya.

Barangkali ia datang membawa beban. Mungkin ia datang dengan doa-doa yang belum terucap. Atau mungkin ia hanya ingin menjaga kebiasaan yang telah menjadi napas hidupnya setiap hari: membaca, mengulang, menghafal, memahami.

Di saat dunia terasa bising, ada jiwa-jiwa yang memilih sunyi untuk mendengar lebih jelas. Di saat banyak orang mencari cahaya di luar, ia menemukannya di dalam lembaran-lembaran itu.

Begitulah Al-Qur’an bekerja—pelan, lembut, namun menguatkan. Ia tak selalu mengubah keadaan seketika, tetapi ia meneguhkan hati agar mampu menghadapi apa pun yang datang.

Pemandangan ini sederhana, tetapi sarat makna. Seorang nenek, sebuah mushaf, dan suasana tenang. Namun di situlah peradaban sejati dirawat: dalam kesungguhan membaca, dalam kesetiaan mengulang, dalam kerendahan hati menerima petunjuk.

Karena dari ruang-ruang sunyi seperti inilah, lahir jiwa-jiwa yang kuat, sabar, dan penuh harap. Dan mungkin, di antara setiap ayat yang dibacanya, terselip doa yang tak pernah kita dengar –namun menggema hingga ke langit.

Kalau Nek Miming selalu rutin membuka dan membaca Al-Qur’an Besarnya setiap hari, bagaimana dengan kita?

Depok, 22 Februari 2026

Nasrullah Ali Fauzi,

Penulis lepas, Depok, Jawa Barat.

nasrulalifauzi@gmail.com