Eskalasi Timur Tengah Jadi Alarm, JK Ingatkan Risiko Energi hingga Ekspor RI

Pernyataan Pers Bapak Jusuf Kalla menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah atas Serangan USA - ISRAEL kepada IRAN. Foto: Harnas.id
Pernyataan Pers Bapak Jusuf Kalla menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah atas Serangan USA - ISRAEL kepada IRAN. Foto: Harnas.id

Harnas.id, JAKARTA – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menyampaikan keprihatinannya terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas. Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan di kediamannya di Jakarta, Minggu (1/3/2026), bertepatan dengan momentum Ramadan.

Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK menilai situasi geopolitik saat ini mengkhawatirkan, terutama karena ketegangan meningkat di tengah proses perundingan. Ia menyoroti dinamika konflik yang melibatkan sejumlah negara, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

“Dari segi etik, jika sedang berunding seharusnya tidak ada serangan. Ini keadaan yang sangat memprihatinkan bagi kita semua,” ujar JK.

Menurutnya, serangan yang terjadi saat diplomasi masih berjalan justru memperkeruh suasana dan memperpanjang konflik. Dalam pandangannya, etika hubungan internasional seharusnya menjunjung komitmen dialog, bukan aksi militer.

JK juga menyinggung situasi politik internal Iran pascawafatnya pemimpin tertinggi negara tersebut. Ia melihat adanya dinamika kelompok-kelompok kepentingan di dalam negeri yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan luar negeri, sehingga membuat stabilitas kawasan semakin kompleks.

Konflik Timur Tengah, lanjut JK, bukan satu-satunya tantangan dunia Islam. Ia menyebut sejumlah negara seperti Afghanistan, Pakistan, Suriah, hingga Yaman masih bergulat dengan konflik berkepanjangan yang berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi kawasan.

Dalam konteks itu, JK mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan dan stabilitas nasional. Ia menilai Indonesia patut bersyukur karena kondisi keamanan relatif terkendali dibandingkan sejumlah negara lain.

“Kita bersyukur Indonesia aman dibandingkan banyak negara Islam lain. Karena itu harus kita jaga, jangan sampai terjadi konflik di antara kita,” katanya.

Ia juga mengingatkan pemerintah agar terus menjaga prinsip keadilan dalam kebijakan publik. Ketimpangan sosial dan ketidakadilan, menurutnya, bisa menjadi pemicu gejolak jika tidak dikelola secara bijak.

Dari sisi ekonomi, JK memprediksi konflik di Timur Tengah berpotensi berdampak langsung terhadap Indonesia. Sektor energi menjadi perhatian utama, mengingat ketergantungan Indonesia pada impor minyak dari kawasan tersebut.

“Pertama tentu harga akan naik. Logistik antara Timur Tengah dan Indonesia bisa terputus,” ujarnya.

Jika jalur distribusi terganggu, risiko kenaikan harga energi hingga potensi kelangkaan bahan bakar tidak bisa diabaikan. JK mengingatkan bahwa rata-rata cadangan energi nasional hanya cukup untuk sekitar tiga minggu, sehingga gangguan pasokan dapat menimbulkan tekanan dalam waktu relatif singkat.

Selain energi, ketidakpastian global juga berpotensi memengaruhi ekspor Indonesia, khususnya ke pasar Eropa. Gangguan jalur perdagangan dan meningkatnya risiko keamanan dapat memperlambat distribusi barang dan memicu biaya logistik lebih tinggi.

Di akhir pernyataannya, JK berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama dan dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi yang adil dan berkelanjutan.

“Mudah-mudahan cepat selesai,” katanya.

Editor: IJS