Harnas.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang terjadi dalam periode 9 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga 10 April 2026 pukul 07.00 WIB. Sejumlah peristiwa tercatat menimbulkan korban jiwa serta kerugian materiil di berbagai wilayah.
Salah satu kejadian terjadi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Tanah longsor di Desa Bawolowalani, Kecamatan Teluk, Kamis (9/4), menyebabkan satu orang meninggal dunia.
Menurut laporan BPBD setempat, longsor terjadi di area penambangan batu. Korban telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Longsor yang terjadi pada Rabu (8/4) menyebabkan satu orang meninggal dunia dan empat orang mengalami luka-luka.
Selain itu, dua kepala keluarga atau tujuh jiwa terdampak dalam kejadian tersebut. Lokasi terdampak berada di Desa Mekar Rahayu dan Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan.
Petugas BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pembersihan material longsor. Upaya ini dilakukan untuk membuka akses dan memastikan kondisi wilayah kembali aman.
Di sektor hidrometeorologi, banjir juga melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (7/4). Bencana ini berdampak pada 1.006 kepala keluarga atau 3.223 jiwa.
Sebanyak 1.006 rumah warga sempat terendam banjir di Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun, serta Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya. Banjir dilaporkan surut pada Kamis (9/4).
Sementara itu, banjir di Kabupaten Bengkulu Tengah yang terjadi sejak Minggu (6/4) juga telah berangsur surut. Sebelumnya, bencana ini berdampak pada sembilan desa di tiga kecamatan.
Total sebanyak 231 kepala keluarga dan 231 unit rumah terdampak dalam kejadian tersebut. Kondisi wilayah kini mulai kembali normal setelah air surut.
Di Sulawesi Selatan, banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Luwu Utara. Tepatnya di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan, pada Rabu (7/4).
Bencana ini berdampak pada 186 kepala keluarga dan 79 rumah warga. Selain itu, ratusan hektare lahan pertanian, perkebunan, dan sawah ikut terendam.
BPBD setempat masih melakukan peninjauan dan penanganan darurat di lokasi terdampak. Pendataan kerusakan dan kebutuhan warga juga terus dilakukan.
Cuaca ekstrem turut memperparah kondisi di sejumlah wilayah Jawa Barat. Di Kabupaten Ciamis, hujan lebat disertai angin kencang berdampak pada 26 kepala keluarga.
Sebanyak 26 rumah mengalami kerusakan ringan di Desa Sidarahayu, Kecamatan Purwadadi. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bandung dengan total 16 kepala keluarga terdampak.
Kerusakan rumah di wilayah tersebut terdiri dari empat unit rusak berat dan 12 unit rusak ringan. Penanganan masih dilakukan secara bertahap oleh petugas di lapangan.
Di wilayah timur Indonesia, gempa bumi terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (8/4). Peristiwa ini menyebabkan 10 orang mengalami luka ringan.
Sebanyak 204 kepala keluarga terdampak dan sekitar 1.100 jiwa terpaksa mengungsi. Kerusakan tercatat pada 204 unit rumah di beberapa desa, termasuk Terong, Lamahala Jaya, dan Motonwutun.
BNPB menyebut penanganan lanjutan masih berlangsung di lokasi terdampak. Pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi dalam dua hari ke depan.
Wilayah yang berpotensi terdampak mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua. Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Menyikapi hal tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta rutin membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan.
Untuk wilayah perbukitan, masyarakat diminta mewaspadai retakan tanah serta segera melakukan evakuasi mandiri jika hujan deras berlangsung lama. Selain itu, warga diimbau menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat angin kencang.
BNPB juga mendorong pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan personel, logistik, serta jalur evakuasi. Penguatan sistem peringatan dini dinilai penting untuk meminimalkan risiko di tengah potensi cuaca ekstrem.
Editor: IJS











