Harnas.id JAKARTA – Pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 kembali digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Sabtu (18/4/2026). Pertunjukan bertajuk “Kembang Turangga Jati” ini menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem seni pertunjukan di ibu kota.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB). Seluruh kursi yang tersedia, sebanyak 252 tempat duduk, terisi penuh oleh penonton.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menyebut pementasan ini sebagai bagian dari strategi menghidupkan ruang berkesenian yang inklusif. Ia menilai pertunjukan rutin dapat menjadi sarana edukasi sekaligus regenerasi pelaku seni.
“Sebagai upaya menciptakan dan mengembangkan ekosistem berkesenian di Jakarta, Dinas Kebudayaan menghadirkan pementasan rutin yang dapat dinikmati masyarakat dengan mudah,” ujarnya.
Menurut Miftahulloh, keberadaan seni Sunda di Jakarta tidak lepas dari sejarah panjang migrasi masyarakat Jawa Barat ke Batavia sejak masa kolonial. Budaya tersebut kemudian beradaptasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari identitas kota.
“Sejarah panjang dan keberlanjutan yang selalu terjaga, membuat budaya Sunda di Jakarta terus hidup, tumbuh, dan berkembang sebagai bagian budaya kota Jakarta hingga saat ini,” paparnya.
Sebagai kota dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa, Jakarta menjadi ruang pertemuan berbagai budaya. Kondisi ini membuat seni tradisional tetap memiliki ruang tumbuh, termasuk teater rakyat seperti Miss Tjitjih.
Kepala UP GPSB, Rinaldi, mencatat tren positif pada minat masyarakat terhadap seni pertunjukan. Hal ini terlihat dari jumlah pendaftar yang jauh melampaui kapasitas gedung.
“Tercatat 553 penonton mendaftar pada pertunjukan ini, sementara kapasitas hanya 252 kursi. Menariknya, minat ini didominasi oleh generasi muda di Jakarta,” ujarnya.
Tingginya animo tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional masih relevan di tengah masyarakat urban. Selain hiburan, pertunjukan ini juga berfungsi sebagai media edukasi budaya.
Rinaldi menambahkan, sepanjang 2026 direncanakan ada 10 kali pementasan gratis sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah. Program ini sekaligus mendukung pelestarian budaya dan memperluas akses masyarakat terhadap seni.
Cerita “Kembang Turangga Jati” sendiri mengangkat kisah perebutan pusaka sakral Karancang Bala. Pusaka tersebut diyakini membawa kekuasaan dan kemakmuran, sehingga menjadi incaran banyak pihak.
Tokoh utama, Raja Alas Bandawasa, digambarkan memiliki ambisi besar untuk menguasai pusaka tersebut. Ambisi ini memicu konflik dan intrik yang menggambarkan perebutan kekuasaan dalam sebuah kerajaan.
Secara historis, kelompok Miss Tjitjih berakar dari perjalanan seni Nyi Tjitjih yang bergabung dengan Opera Valencia pada 1926. Kelompok ini kemudian berkembang dan menetap di Jakarta sejak 1928, menjadi salah satu ikon teater tradisional.
Kini, Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 terus melanjutkan tradisi tersebut dengan dukungan pemerintah. Gedung kesenian yang ada menjadi ruang penting untuk menjaga keberlanjutan seni lintas generasi.
Dengan kombinasi sejarah panjang dan dukungan kebijakan, pementasan ini menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat. Di tengah modernisasi, teater rakyat tetap mampu menarik perhatian publik, termasuk generasi muda.
Editor: IJS











