Isu Ceramah JK Ramai, Tokoh Lintas Iman Ingatkan Agama Bukan Alat Konflik

Pertemuan tokoh lintas agama di kediaman Jusuf Kalla di Jakarta Selatan. Foto: Harnas.id
Pertemuan tokoh lintas agama di kediaman Jusuf Kalla di Jakarta Selatan. Foto: Harnas.id

Harnas.id, Jakarta — Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Jacky Manuputty menegaskan pentingnya menjaga peran agama sebagai agen perdamaian. Hal itu disampaikannya usai bersilaturahmi dengan Jusuf Kalla di kediamannya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis malam (23/4/2026).

Pertemuan ini menjadi respons atas polemik ceramah Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada yang viral di media sosial. Video yang beredar dinilai tidak utuh karena telah dipotong, sehingga memicu tafsir yang beragam di ruang publik.

Jacky menjelaskan, pemahaman menyeluruh terhadap rekaman ceramah berdurasi 43 menit menunjukkan konteks yang berbeda. Ia menilai, potongan video yang beredar justru mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan.

“Ketika kita mendengarkan secara utuh, kita bisa memahami maksudnya. Ada bagian yang mungkin dipelesetkan atau tidak tepat secara istilah, tetapi tidak menggeser substansi utama,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman konflik di Maluku menjadi pelajaran penting dalam melihat sensitivitas isu agama. Menurutnya, penggunaan agama sebagai alat konflik hanya akan memperbesar dampak kerusakan sosial.

“Agama harus kembali ditempatkan dalam panggilan mulianya sebagai agen perdamaian, bukan sebagai alat untuk membenarkan kekerasan,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir Din Syamsuddin, yang dikenal terlibat dalam proses perdamaian konflik melalui Perjanjian Malino. Kehadiran tokoh lintas agama ini mencerminkan pentingnya dialog dalam merespons isu sensitif.

Jacky menilai, penguatan komunikasi lintas iman perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di tingkat elite tetapi juga hingga masyarakat akar rumput. Upaya ini dinilai krusial untuk meredam potensi polarisasi di tengah masyarakat.

Ia juga mengimbau publik agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, klarifikasi langsung dan dialog terbuka menjadi langkah penting dalam menjaga kohesi sosial.

“Biasakan bertemu langsung, berdialog, dan melakukan klarifikasi. Jangan mudah terhasut oleh isu yang bisa memecah belah,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konflik tidak seharusnya melibatkan agama sebagai legitimasi tindakan. “Tidak mungkin manusia berkonflik lalu meminta Tuhan terlibat di dalamnya. Itu bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama,” tambahnya.

Pertemuan berlangsung tertutup dan dalam suasana akrab. Selain Jacky dan Jusuf Kalla, hadir pula sejumlah tokoh lintas agama dan organisasi, antara lain Komaruddin Hidayat, Rudiantara, serta perwakilan organisasi keagamaan dan kepemudaan.

Forum ini sekaligus menjadi ruang refleksi bersama untuk menjaga rajutan kebangsaan di tengah derasnya arus informasi digital. Para tokoh sepakat bahwa peran agama harus tetap berada pada jalur damai dan persatuan.

Editor: IJS