
Harnas.id, JAKARTA – Sintesa Strategi Indonesia (SSI) merilis hasil penelitian terbaru mengenai persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto di ruang digital. Kajian tersebut dilakukan melalui pemantauan media sosial dan media online selama periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026, dengan menganalisis lebih dari 231 juta paparan kontenserta sekitar 1,07 juta percakapan yang berkaitan dengan kata kunci Prabowo Subianto.
Direktur SSI, Ikrama Masloman, mengatakan penelitian tersebut bertujuan memetakan bagaimana citra Presiden terbentuk di internet, sekaligus melihat sejauh mana Wakil Presiden, para menteri, hingga institusi pemerintah berkontribusi terhadap pembentukan sentimen positif maupun negatif terhadap Presiden. Menurut SSI, kajian ini berangkat dari adanya persepsi bahwa komunikasi pemerintahan masih sangat bertumpu pada figur Presiden.
Dalam penelitian tersebut, SSI menggunakan metode keyword-based crawling terhadap platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online. Data kemudian diproses melalui seleksi relevansi, penghapusan duplikasi, klasifikasi otomatis berbasis kecerdasan artifisial, hingga validasi oleh tim peneliti.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Presiden Prabowo lebih banyak berlangsung di media sosial dibandingkan media online. SSI mencatat sekitar 71 persen percakapan berasal dari media sosial, sedangkan 29 persenberasal dari pemberitaan media daring. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap Presiden lebih banyak terbentuk melalui interaksi di platform digital.
Dari sisi sentimen, penelitian SSI mencatat percakapan bernada positif mencapai 41,5 persen, sementara sentimen negatif berada di angka 13,8 persen. Adapun sisanya merupakan percakapan yang bersifat netral. Meski sentimen positif menjadi yang terbesar, SSI menilai angkanya masih berada di bawah 50 persen sehingga belum dapat dikategorikan sebagai mayoritas absolut.
SSI juga mengamati dinamika percakapan publik sepanjang periode penelitian. Pada fase awal, sentimen netral hingga negatif lebih dominan seiring pembahasan sejumlah isu nasional, seperti RUU Polri dan RAPBN. Memasuki pertengahan hingga akhir periode, sentimen positif mulai meningkat setelah muncul berbagai pemberitaan mengenai investasi nasional, serta agenda Presiden Prabowo menghadiri Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo dan membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026.
Salah satu temuan utama SSI adalah komunikasi pemerintahan yang dinilai masih terpusat pada Presiden. Dari total lebih dari 231 juta paparan konten mengenai Prabowo, kurang dari 20 persen yang berkaitan langsung dengan nama Wakil Presiden maupun anggota kabinet, khususnya 10 tokoh dengan tingkat eksposur tertinggi.
Berdasarkan tingkat keterpaparan, SSI membagi anggota kabinet ke dalam tiga kelompok. Kelompok Tier 1 (Dominan) terdiri atas Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik (Deyang), Letkol Teddy, dan Purbaya. Sementara kelompok Tier 2 (Menengah) diisi Qodari, Amran Sulaiman, Fadli Zon, Prasetyo Hadi, dan AHY, sedangkan mayoritas anggota kabinet lainnya masuk kategori dengan tingkat eksposur yang relatif rendah.
Dalam analisis sentimen terhadap kelompok Tier 1, SSI mencatat Bahlil Lahadalia sebagai tokoh yang memberikan kontribusi sentimen positif terbesar terhadap Presiden dengan angka 40,1 persen, disusul Gibran Rakabuming Rakasebesar 31,5 persen, dan Letkol Teddy sebesar 24,1 persen. Di sisi lain, pada aspek sentimen negatif, Gibran Rakabuming Raka tercatat memiliki proporsi tertinggi sebesar 25,9 persen, diikuti Letkol Teddy sebesar 15,2 persen, dan Purbaya sebesar 9,5 persen.
Untuk kelompok Tier 2, SSI mencatat Qodari sebagai figur dengan kontribusi sentimen positif tertinggi sebesar 73,3 persen. Sementara itu, percakapan terkait tokoh-tokoh pada kelompok ini lebih banyak didominasi sentimen positif dan netral, tanpa temuan sentimen negatif yang dinilai signifikan.
Penelitian tersebut juga memotret sentimen terhadap institusi penegak hukum yang berkaitan dengan Presiden. SSI mencatat Polri memperoleh proporsi sentimen positif tertinggi sebesar 72,3 persen, sementara Kejaksaan RImencatat 38,1 persen, dan KPK sebesar 26,3 persen, dengan dua institusi terakhir masih didominasi percakapan bernada netral.
SSI menegaskan bahwa hasil penelitian ini merupakan pemantauan percakapan digital selama periode penelitian dan dimaksudkan untuk memotret dinamika opini publik di ruang digital. Hasil tersebut bukan merupakan survei elektoral maupun representasi keseluruhan pandangan masyarakat Indonesia. SSI juga menyatakan siap membuka sumber data, termasuk data mentah, kepada asosiasi atau kelompok yang kredibel selama dua hari sejak rilis diterbitkan sebagai bentuk pertanggungjawaban penelitian.
Editor: IJS










