Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengintai, Polda Lampung Siapkan Tim hingga Rumah Sakit Rujukan

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Isawandari Yuyun. Foto: Polda Lampung
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Isawandari Yuyun. Foto: Polda Lampung

Harnas.id, LAMPUNG – Polda Lampung menyiapkan langkah mitigasi kesehatan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Persiapan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan paparan abu vulkanik, baik terhadap personel yang bertugas maupun masyarakat di wilayah terdampak.

Melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), sejumlah kebutuhan penanganan mulai disiapkan. Langkah tersebut mencakup distribusi masker, kesiapan layanan kesehatan, hingga koordinasi dengan fasilitas kesehatan apabila dampak erupsi meningkat.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Isawandari Yuyun mengatakan mitigasi kesehatan menjadi bagian dari kesiapsiagaan kepolisian menghadapi potensi dampak erupsi. Perlindungan terhadap personel yang berada di lapangan juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.

“Polda Lampung mengedepankan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan. Personel yang bertugas di lapangan juga kami pastikan mendapatkan perlindungan, termasuk masker,” kata Yuni, Sabtu (5/9/2026).

Pembagian masker tidak hanya ditujukan kepada anggota kepolisian yang menjalankan patroli. Biddokkes Polda Lampung juga membagikan masker kepada masyarakat di sekitar kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung.

Masyarakat yang berada di wilayah yang berpotensi terkena sebaran abu vulkanik diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga juga dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kondisi udara mulai terpapar abu.

“Jika abu vulkanik mulai terpapar di lingkungan masyarakat, kami mengimbau warga menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” ujar Yuni.

Antisipasi tidak berhenti pada pembagian alat pelindung. Biddokkes Polda Lampung juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan guna memastikan tim tanggap darurat dapat segera digerakkan apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Koordinasi tersebut meliputi kesiapan mobilisasi tim untuk kebutuhan evakuasi, pelayanan kesehatan, serta fasilitas kesehatan rujukan. Jenjang layanan yang disiapkan mencakup puskesmas hingga rumah sakit tipe A.

Menurut Yuni, kesiapan sejak awal diperlukan agar respons kesehatan tidak baru dilakukan ketika dampak erupsi sudah meningkat. Dengan koordinasi antarlembaga, proses evakuasi maupun pelayanan medis diharapkan dapat segera dijalankan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Koordinasi lintas sektor terus dilakukan. Kami ingin memastikan apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi atau pelayanan kesehatan, seluruh unsur sudah siap bergerak,” katanya.

Biddokkes Polda Lampung juga menjalin koordinasi dengan para direktur rumah sakit melalui Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Koordinasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Sistem tersebut disiapkan sebagai bagian dari antisipasi apabila terjadi situasi yang membutuhkan pelayanan kesehatan dalam jumlah besar. Termasuk apabila muncul kondisi dengan jumlah korban yang membutuhkan penanganan secara bersamaan atau korban massal.

Di sisi lain, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih menjadi perhatian. Berdasarkan laporan khusus Badan Geologi, gunung api tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Sejak 2 Juli 2026, Anak Krakatau tercatat terus mengalami seri erupsi tipe Strombolian. Aktivitas tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Dari pos pengamatan, terlihat semburan berwarna merah menyala yang teramati menyerupai fenomena lava fountain.

Badan Geologi mengingatkan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki agar tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Kewaspadaan juga diperlukan terhadap sejumlah potensi bahaya, mulai dari lava, lontaran batu pijar hingga hujan abu dengan intensitas lebat.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap memperhatikan perkembangan resmi mengenai aktivitas gunung api. Informasi dari pemerintah dan petugas menjadi rujukan penting, terutama bagi warga yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, tetapi jangan mengabaikan peringatan. Ikuti informasi resmi dan apabila berada di wilayah terdampak abu vulkanik, gunakan masker serta kurangi aktivitas di luar ruangan,” tegasnya.

Editor: IJS