Kotoran Sapi Jadi Energi, TEP ITS Bantu Warga Margorukun Bangun Kemandirian Energi

Menteri Transmigrasi RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA (tengah) didampingi Bupati (kanan) dan Wakil Bupati Manokwari Selatan saat menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan program. Foto: Humas ITS
Menteri Transmigrasi RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA (tengah) didampingi Bupati (kanan) dan Wakil Bupati Manokwari Selatan saat menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan program. Foto: Humas ITS

Harnas.id, MANOKWARI SELATAN — Limbah ternak yang selama ini belum banyak dimanfaatkan mulai diolah menjadi sumber energi alternatif oleh masyarakat Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat.

Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kotoran sapi diolah menggunakan reaktor biogas untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Inovasi tersebut mendapat perhatian Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA yang meninjau langsung lokasi pada Sabtu (12/9/2026).

Pemanfaatan biogas ini berangkat dari kondisi masyarakat Margorukun yang banyak memelihara sapi, sementara kebutuhan energi rumah tangga masih menghadapi kendala. Sebagian besar warga masih mengandalkan minyak tanah untuk memasak, sedangkan ketersediaannya tergolong langka.

Kondisi tersebut kemudian dilihat sebagai peluang untuk memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di sekitar masyarakat. TEP 08 ITS menghadirkan reaktor biogas yang mengolah kotoran sapi menjadi gas untuk kebutuhan memasak.

Ketua TEP 08 ITS, Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT, menjelaskan reaktor yang dibangun memiliki kapasitas 10 meter kubik. Dengan dukungan 10 ekor sapi, kapasitas tersebut dapat menghasilkan biogas untuk memenuhi kebutuhan memasak dua rumah.

Sementara jika jumlah ternak mencapai 20 ekor, biogas yang dihasilkan dapat dikembangkan untuk kebutuhan listrik. Arief menyebut energi tersebut dapat dikonversi menggunakan generator stasioner dengan daya 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah.

“Sedangkan dengan 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi listrik dengan daya 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah,” jelasnya.

Manfaat reaktor tersebut tidak berhenti pada produksi energi. Sisa proses fermentasi atau bioslurry juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga teknologi yang diterapkan dapat sekaligus mendukung kegiatan pertanian masyarakat.

Potensi tersebut dinilai relevan dengan kondisi warga Distrik Oransbari yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Pemanfaatan limbah ternak dengan demikian dapat menciptakan hubungan antara kebutuhan energi rumah tangga dan kebutuhan pendukung sektor pertanian.

“Dengan memanfaatkan limbah ternak sebagai sumber energi dan mengolah sisa fermentasinya menjadi pupuk, satu inovasi dapat menjawab lebih dari satu kebutuhan masyarakat, mulai dari energi rumah tangga hingga kebutuhan pendukung pertanian,” ujar dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS tersebut.

Mentrans Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengapresiasi langkah TEP 08 ITS dalam mengembangkan pemanfaatan potensi lokal tersebut. Menurutnya, sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat perlu diarahkan agar dapat membantu warga memenuhi kebutuhan secara lebih mandiri.

Iftitah juga meminta pemanfaatan biogas tidak berhenti pada kebutuhan memasak. Ia menilai pengembangan menuju sumber energi listrik perlu segera dilakukan agar manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan lebih luas.

“Konversi listrik harus segera direalisasikan,” tegasnya.

Bagi Iftitah, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh keberadaan teknologi atau fasilitas yang telah dibangun. Hal yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan manfaat teknologi tersebut setelah tim pendamping tidak lagi berada di lokasi.

Untuk menjaga keberlanjutan program, TEP 08 ITS membentuk Tim Kader Patriot (TKP). Tim tersebut terdiri atas masyarakat dan perangkat daerah setempat yang telah mendapatkan pembekalan pengetahuan serta keterampilan untuk melanjutkan program setelah TEP kembali ke daerah asal.

Pembentukan TKP juga diterapkan di seluruh lokasi ekspedisi TEP ITS. Mekanisme tersebut dirancang agar transfer pengetahuan dan teknologi dapat tetap berjalan melalui kader lokal.

Iftitah menilai keberadaan TKP menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program Transmigrasi Patriot yang dijalankan ITS. Menurutnya, kader lokal dapat memastikan teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai bantuan sementara.

Dengan adanya masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolanya, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi warga dalam meningkatkan kesejahteraan secara mandiri.

“Tidak hanya untuk masyarakat transmigran, tetapi juga untuk masyarakat Papua secara keseluruhan,” ujarnya.

Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan turut hadir dalam peninjauan lokasi. Ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif TEP 08 ITS yang membawa penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi langsung ke tengah masyarakat.

Menurut Bernard, kehadiran teknologi tersebut membuka kesempatan bagi warga untuk melihat kembali berbagai potensi yang selama ini tersedia di lingkungan mereka. Potensi tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Ilmu dan teknologi yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot dapat memacu masyarakat untuk berdaya,” ungkapnya.

Arief juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Transmigrasi atas pelaksanaan program Transmigrasi Patriot. Menurutnya, program tersebut memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk membawa ilmu pengetahuan dan teknologi keluar dari lingkungan kampus agar dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Melalui program ini, ilmu dan teknologi yang kami miliki mampu dihilirisasi dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pengembangan reaktor biogas di Margorukun menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus dimulai dari sumber daya baru. Kotoran ternak yang sebelumnya menjadi limbah dapat diolah menjadi energi, sementara sisa fermentasinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung pertanian.

Model tersebut sekaligus mempertemukan potensi lokal dengan kebutuhan masyarakat. Energi rumah tangga, kebutuhan pertanian, serta peningkatan kapasitas masyarakat ditempatkan dalam satu rangkaian program yang diarahkan pada kemandirian.

Inisiatif tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-11 mengenai Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan.

Aspek kemitraan juga menjadi bagian dari program tersebut melalui kolaborasi TEP 08 ITS dengan masyarakat dan pemerintah daerah. SDGs poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan turut tercermin dari upaya memastikan teknologi yang dibawa dari luar dapat diteruskan dan dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Dengan pola tersebut, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai solusi yang diberikan kepada masyarakat. Sebaliknya, pengetahuan dan kemampuan yang telah ditransfer dapat berkembang menjadi kapasitas lokal untuk mendukung kemandirian energi dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Editor: IJS