Harnas.id, SERAM — Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto meminta masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, menghentikan perdebatan yang berpotensi memicu persoalan baru setelah bentrokan antarkelompok warga. Menurutnya, situasi yang sudah terjadi harus segera diarahkan pada langkah pemulihan dan penyelesaian yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Bentrokan tersebut diduga berkaitan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa itu mengakibatkan 27 rumah warga terbakar dan empat orang terkena tembakan senapan angin.
Dody mengatakan, kondisi pascabentrok perlu dimitigasi bersama dengan mencari penyelesaian yang cepat dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah yang didorong adalah mempercepat pemulihan rumah warga yang terdampak.
TNI bersama masyarakat akan dilibatkan dalam proses renovasi rumah secara bertahap. Langkah gotong royong tersebut diharapkan dapat membantu warga kembali menjalani aktivitas secara normal.
“Yang sudah terjadi kita mitigasi. Sekarang kita mencari solusi yang terbaik. Kita gotong royong kembali dan dalam waktu secepatnya melaksanakan renovasi rumah yang sudah ada,” tegas Pangdam.
Dody juga mengingatkan bahwa hubungan antarwarga di wilayah tersebut telah terbangun dalam ikatan persaudaraan. Karena itu, persoalan yang terjadi tidak semestinya berkembang menjadi keretakan hubungan antarkampung maupun antarwarga.
Ia mengajak para pemuda dan seluruh elemen masyarakat mengambil peran dalam menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Menurutnya, hubungan kekeluargaan harus menjadi landasan dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Sebenarnya dari dulu kita memang bersaudara. Jangan sampai persoalan ini membuat hubungan persaudaraan menjadi rusak,” pesannya.
Untuk memastikan kondisi keamanan tetap terjaga, Pangdam menyatakan TNI bersama unsur terkait akan terus berada di tengah masyarakat. Pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan situasi sekaligus mencegah adanya pihak yang mencoba memanfaatkan keadaan dengan melakukan provokasi.
“Kita berikan garansi untuk keamanan. Kita akan menjaga dan bersama masyarakat memantau, menjaga, dan mengamankan sehingga betul-betul tidak ada provokator yang masuk,” ujarnya.
Selain aparat keamanan, Dody menilai peran para raja, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta pemangku kepentingan lainnya penting dalam proses pemulihan. Mereka diharapkan ikut membangun komunikasi yang dapat menenangkan masyarakat.
Khusus kepada para raja, Dody meminta agar persoalan yang telah terjadi tidak kembali dibesarkan untuk mencari pihak yang paling bertanggung jawab. Menurutnya, perhatian saat ini seharusnya diarahkan pada langkah penyelesaian yang dapat diterima dan dijalankan bersama.
“Kepada para raja, mari sama-sama memberikan bahasa yang sejuk kepada masyarakat. Apa yang sudah terjadi tidak perlu lagi kita bahas untuk mencari siapa yang salah. Yang perlu kita bahas sekarang adalah bagaimana solusinya,” tegasnya.
Dody menilai masyarakat membutuhkan tindakan nyata untuk memulihkan kondisi, bukan pertentangan baru. Karena itu, proses penyelesaian diarahkan pada pemulihan warga, jaminan keamanan, serta upaya mengembalikan hubungan kekeluargaan yang sempat terganggu.
Menurutnya, penyelesaian persoalan harus dilakukan melalui dialog dan kerja bersama. Musyawarah serta gotong royong dinilai menjadi jalan untuk menghindari masyarakat terus terjebak dalam persoalan yang telah berlalu.
“Mudah-mudahan ini menjadi pesan moral bagi kita semua. Intinya, solusi yang tercepat itu yang terbaik, dengan cara gotong royong, musyawarah dan kekeluargaan,” pungkas Pangdam.
Dody menegaskan, proses pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan rumah warga yang terdampak. Keamanan dan kepercayaan masyarakat juga perlu dikembalikan agar hubungan antarkelompok dapat kembali berjalan dengan baik.
Ia berharap seluruh pihak menempatkan kepentingan bersama di atas persoalan yang telah terjadi. Energi masyarakat, kata dia, lebih baik diarahkan untuk membangun kembali kondisi kehidupan warga daripada memperpanjang pertentangan.
“Bukan siapa yang paling keras bersuara yang dibutuhkan, tetapi siapa yang mau turun tangan mencari jalan keluar,” pungkas Pangdam.
Editor: IJS











