JK Dorong Blok Masela Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Maluku

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) Dorong Blok Masela Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Maluku

Harnas.id, AMBON — Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan kalangan pengusaha di Maluku untuk segera mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) serta memperkuat kapasitas industri lokal dalam menyambut pengembangan proyek gas Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

JK menegaskan, proyek strategis bernilai puluhan miliar dolar AS tersebut harus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat Maluku. Jangan sampai proyek berskala besar itu justru lebih banyak dinikmati tenaga kerja dan perusahaan dari luar daerah, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton.

“Kalau tidak disiapkan dari sekarang, orang dari luar yang akan datang bekerja. Orang Maluku tidak punya kesempatan berada pada posisi-posisi penting. Jangan sampai masyarakat Maluku hanya menjadi penonton,” tegas JK.

Pernyataan tersebut disampaikan JK saat menjadi narasumber dalam Maluku Business Forum 2026 bertajuk From Energy Potential to Sustainable Prosperity, yang berlangsung di Ballroom Hotel Santika Ambon, Minggu (1/11/2026).

Menurut JK, pengembangan Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi konstruksi sekitar 20 miliar dolar AS, dengan target produksi pada 2030. Pada tahap pembangunan, proyek tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja.

Namun, besarnya peluang tersebut tidak otomatis memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat apabila tidak diimbangi kesiapan tenaga kerja dengan keterampilan dan keahlian sesuai kebutuhan industri.

Karena itu, JK meminta pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Maluku mulai sekarang menyusun program pendidikan, pelatihan, dan pemagangan tenaga kerja, baik di dalam maupun luar negeri.

“Magangkan di Tangguh, di Kalimantan, dan di Laut Jawa. Siapkan tenaga-tenaga dari sekarang agar mereka mempunyai kemampuan dan pengalaman ketika proyek itu berjalan,” ujarnya.

JK mengingatkan bahwa pengalaman pengembangan industri gas di Aceh dapat menjadi pelajaran penting bagi Maluku. Ketidaksiapan tenaga kerja lokal saat industri berkembang berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial karena kesempatan kerja justru banyak diisi tenaga kerja dari luar daerah.

“Jangan sampai pengalaman di Aceh terulang di Maluku. Kalau tidak siap, masyarakat setempat akan kehilangan kesempatan untuk bekerja di industri yang ada di daerahnya sendiri,” katanya.

Selain kesiapan tenaga kerja, JK juga menekankan pentingnya keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai bisnis Blok Masela. Pengusaha Maluku harus dipersiapkan agar mampu mengambil peran sebagai kontraktor, subkontraktor, maupun penyedia berbagai layanan pendukung industri.

Menurutnya, pengusaha lokal perlu membangun kemitraan dengan perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi dan pengalaman industri agar dapat terlibat dalam pembangunan maupun pengoperasian fasilitas Blok Masela.

Peluang ekonomi dari proyek tersebut juga tidak terbatas pada sektor energi. Berbagai sektor lain berpotensi berkembang, mulai dari industri pupuk, petrokimia, perikanan, transportasi, perumahan, perdagangan, restoran, hingga jasa pendukung lainnya.

“Pengusaha-pengusaha harus dilatih dan disiapkan. Tanpa itu, proyek sebesar apa pun tidak akan memberikan manfaat yang maksimal bagi daerah,” jelasnya.

JK turut menyoroti pentingnya pengembangan industri hilir agar gas yang dihasilkan Blok Masela tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan industri dan menciptakan lapangan kerja baru di Maluku.

Ia menjelaskan, gas alam memiliki tiga potensi pemanfaatan utama, yakni sebagai sumber energi, bahan baku industri pupuk, dan bahan baku industri petrokimia.

Selain itu, JK menilai pemerintah daerah perlu memperjuangkan agar manfaat ekonomi pengelolaan Blok Masela dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat di seluruh wilayah Maluku, tidak hanya Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebagai lokasi fasilitas pengolahan.

“Ini perjuangan yang harus dilakukan. Bagaimana daerah-daerah lain di Maluku juga memperoleh manfaat dari kekayaan alam tersebut,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, JK juga mengingatkan sejarah panjang Maluku sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah dunia sejak ratusan tahun lalu.

Menurutnya, Maluku telah menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan internasional jauh sebelum Indonesia terbentuk. Karena itu, pengembangan Blok Masela harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali perekonomian Maluku melalui pengelolaan sumber daya alam yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bisnis bukan barang baru di Maluku. Lima abad lalu daerah ini sudah berhubungan dengan pedagang-pedagang dunia karena kekayaan rempah-rempahnya,” ungkap JK.

JK berharap seluruh pemangku kepentingan di Maluku dapat memanfaatkan waktu menjelang target produksi Blok Masela pada 2030 untuk memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kapasitas pengusaha lokal, serta mempersiapkan infrastruktur pendukung.

Ia kembali menegaskan bahwa persiapan harus dilakukan sejak dini agar masyarakat dan pelaku usaha lokal benar-benar mampu mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang akan terbuka melalui proyek tersebut.

“Sekali lagi, dari sekarang pemerintah daerah harus menyiapkan orang-orangnya, pengusaha-pengusaha harus siap. Kalau tidak, ketika proyek itu berjalan, kita tidak mampu mengambil manfaatnya,” pungkas JK.

Editor: Erk