Ground Breaking PSEL Kayumanis Dibidik November 2026, Pemkot Bogor Kebut Jalan Akses dan Matangkan Proyek Sampah Jadi Listrik

Persiapan pembangunan akses jalan menuju lokasi PSEL Kayumanis di Kota Bogor, Selasa (21/7/2026). (Dok Pemkot Bogor)
Persiapan pembangunan akses jalan menuju lokasi PSEL Kayumanis di Kota Bogor, Selasa (21/7/2026). (Dok Pemkot Bogor)

Harnas.id, BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mempercepat realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang persoalan sampah sekaligus sumber energi baru di wilayah Bogor Raya. Saat ini, fokus pemerintah tertuju pada dua proyek besar, yakni PSEL Galuga yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028 dan PSEL Kayumanis yang direncanakan beroperasi pada 2029.

Khusus untuk PSEL Kayumanis yang berlokasi di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, perhatian Pemkot Bogor lebih besar karena seluruh proses persiapan dilakukan di wilayah administrasi Kota Bogor. Berbeda dengan lokasi Galuga yang telah memiliki timbunan sampah sebagai bahan baku awal, lahan Kayumanis masih dalam tahap penyiapan dan pembangunan infrastruktur pendukung.

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga terus melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar. Sosialisasi dilakukan untuk menjelaskan bahwa teknologi PSEL yang akan diterapkan merupakan sistem modern yang dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan, baik dari sisi emisi udara, kebisingan maupun limbah cair.

Pada Selasa (21/7/2026), Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama jajaran perangkat daerah meninjau langsung progres persiapan pembangunan PSEL Kayumanis. Dalam kunjungan tersebut, sejumlah alat berat terlihat bekerja membuka akses jalan menuju lokasi proyek.

Pekerjaan juga mencakup pembangunan bronjong di sekitar aliran Sungai Angke sebagai bagian dari penguatan kawasan dan penataan lingkungan sekitar lokasi pembangunan.

Dedie mengatakan proyek PSEL Kayumanis merupakan hasil proses panjang yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari tingkat pusat hingga daerah.

“Dikawal Menko Pangan, Menteri LH, Mendagri, kemudian juga PLN, ESDM, Danantara, termasuk Gubernur Jawa Barat dan kita Pemkot Bogor,” kata Dedie.

Menurutnya, pembangunan PSEL Kayumanis akan menjadi gelombang kedua setelah proyek serupa yang lebih dahulu dimulai di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga.

“Jadi groundbreakingnya setelah PSEL Galuga. PSEL Galuga itu rencana awal Agustus dan untuk PSEL Bogor Raya ini bulan November,” jelasnya.

Dedie mengungkapkan pemenang lelang proyek PSEL Kayumanis telah ditetapkan. Saat ini perhatian pemerintah difokuskan pada penyelesaian akses jalan yang nantinya menjadi jalur utama menuju kawasan fasilitas pengolahan sampah tersebut.

“Akses jalannya dari mulai ujung Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), sampai kesini panjangnya 1,65 KM. Tadi kita jalan kaki, masih ada beberapa titik yang harus kita selesaikan,” ujarnya.

Dari sisi tata ruang, keberadaan PSEL Kayumanis telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Lokasi tersebut masuk dalam zona Wilayah Pelayanan (WP) C yang memang diperuntukkan bagi pengembangan program Waste to Energy.

Meski demikian, hasil evaluasi di lapangan menunjukkan masih terdapat sejumlah titik yang memerlukan penyempurnaan, terutama terkait kelancaran jalur akses menuju lokasi proyek.

“Jangan belok-belok, kalaupun harus ada pembebasan lahan sedikit-sedikit mungkin bisa dibantu oleh Pak Sekda agar bisa segera selesai,” ucap Dedie.

Untuk mempercepat pekerjaan, Pemkot Bogor menggunakan kombinasi anggaran rutin dan mekanisme penunjukan langsung dalam penyelesaian akses jalan. Tahap awal dilakukan melalui pekerjaan pemadatan, sementara tahap lanjutan akan diarahkan pada betonisasi jalan.

“Makanya kita akan adakan dua pendekatan, pertama dari anggaran rutin seperti pemadatan dan lain-lain, satu lagi kita juga akan lakukan proses untuk penunjukan langsung (PL),” kata Dedie.

Seluruh pekerjaan akses jalan ditargetkan selesai pada November 2026 bersamaan dengan agenda peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek PSEL Kayumanis.

Dedie berharap masyarakat memberikan dukungan terhadap pembangunan fasilitas tersebut karena manfaatnya dinilai tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga mendukung ketahanan energi daerah.

Menurutnya, PSEL Kayumanis nantinya membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah setiap hari untuk diolah menjadi energi listrik. Sementara PSEL Galuga diproyeksikan mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari.

“Di sini 1.000 ton di Galuga 1.500 ton. Bayangkan bagaimana kemudian kita sebagai warga bisa memanfaatkan sampah yang masih punya nilai,” terang Dedie.

Ia juga membuka peluang kerja sama regional dengan daerah sekitar, termasuk Kota Depok dan Kabupaten Bogor, untuk memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah tersebut.

“Nanti kita atur juga truknya supaya lebih bersih. Paradigma pengolahan sampahnya bukan yang lama, kita buat sekarang jadi listrik tidak ada polusi tapi malah menghasilkan barang yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Tak hanya membangun fasilitas pembangkit listrik dari sampah, kawasan PSEL Kayumanis juga akan dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) skala kota. Selain itu, residu hasil pembakaran insinerator akan diolah kembali agar memiliki nilai tambah.

“Kita jadikan sebagai FABA (Fly ash dan bottom ash) Plant namanya. Sisanya bisa dijadikan kanstin, paving block bisa dijadikan macam-macam produk yang bisa memiliki manfaat atau nilai ekonomi,” jelas Dedie.

Secara nasional, pembangunan PSEL menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Saat ini kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 700 ribu barel per hari.

Kondisi tersebut membuat Indonesia masih harus menutup kekurangan pasokan melalui impor. Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu agenda penting yang terus didorong pemerintah pusat.

Saat ini pemerintah menargetkan pembangunan 32 unit PSEL di berbagai daerah. Setiap fasilitas diproyeksikan mampu mengolah 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 34 megawatt (MW).

Teknologi pembakaran modern yang digunakan pada PSEL diklaim mampu menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibanding pembangkit berbahan bakar fosil. Karena itu, pengembangan fasilitas serupa dipandang sebagai langkah strategis dalam mendukung transisi energi nasional.

Bagi Kota Bogor, keberadaan PSEL menjadi semakin penting mengingat volume sampah harian terus meningkat. Saat ini armada pengangkut sampah hanya mampu membawa sekitar 700 hingga 800 ton sampah per hari menuju tempat pembuangan akhir.

Sementara sekitar 300 ton sampah lainnya berpotensi tidak tertangani secara optimal dan berisiko dibakar secara liar, dibuang ke sungai atau menumpuk di lahan kosong. Oleh sebab itu, sistem PSEL diharapkan terintegrasi dengan TPS 3R dan budaya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Keberhasilan pengelolaan sampah berbasis energi telah diterapkan di Tokyo, Jepang. Kota tersebut memiliki 22 unit PSEL yang beroperasi dengan dukungan disiplin masyarakat dalam menerapkan konsep reduce, reuse, recycle (3R).

Untuk menangani timbunan sampah lama yang telah menumpuk selama bertahun-tahun, akan digunakan kombinasi teknologi pirolisis, controlled landfill dan gasifikasi. Sedangkan sampah baru yang masuk setiap hari diarahkan seluruhnya ke fasilitas PSEL.

Selain menghasilkan listrik, residu hasil pengolahan juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku road base, paving block, batako hingga campuran semen.

Di sisi lain, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, memastikan kebutuhan air untuk operasional PSEL telah menjadi perhatian serius. Pihaknya menyiapkan sejumlah skenario agar pasokan air industri tetap tersedia tanpa mengurangi layanan kepada masyarakat.

Rino menjelaskan setiap satu ton sampah yang diolah membutuhkan sekitar satu meter kubik air. Dengan kapasitas pengolahan antara 1.000 hingga 1.500 ton per hari, kebutuhan air operasional diperkirakan mencapai 1.000 sampai 1.500 meter kubik setiap hari.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Perumda Tirta Pakuan menyiapkan tiga opsi.

  • Memanfaatkan jaringan distribusi eksisting dengan kuota khusus.
  • Menggunakan sistem sirkulasi air industri yang dapat dipakai berulang.
  • Membangun intake dan Water Treatment Plant (WTP) mandiri dari sumber sungai sekitar lokasi proyek.

“Kami harus memastikan kebutuhan air industri ini tidak mengganggu pasokan air bersih masyarakat. Kepastian suplai sangat penting karena jika boiler berhenti, biaya pemanasan ulang sangat besar,” jelas Rino.

Menurutnya, kehadiran PSEL juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi Perumda Tirta Pakuan melalui bertambahnya pelanggan sektor industri.

Saat ini pelanggan industri hanya sekitar tiga persen dari total pelanggan, namun berkontribusi hingga 25 persen terhadap pendapatan perusahaan.

“Tambahan pelanggan industri seperti PSEL akan memperkuat pendapatan perusahaan. Keuntungannya bisa digunakan untuk subsidi silang sehingga tarif pelanggan rumah tangga tetap terjaga,” katanya.

Editor: IJS