Bukan Sekadar Kirab, 500 Meter Merah Putih Warnai Jalanan Kota Bogor di FMP ke-11

Kirab Lima Bendera Merah Putih Sepanjang 500 Meter Meramaikan FMP ke-11 di Kota Bogor. Foto: Pemkot Bogor
Kirab Lima Bendera Merah Putih Sepanjang 500 Meter Meramaikan FMP ke-11 di Kota Bogor. Foto: Pemkot Bogor

Harnas.id, Bogor – Ribuan warga memadati sejumlah ruas jalan utama Kota Bogor dalam rangkaian Festival Merah Putih (FMP) ke-11 Tahun 2026, Minggu (9/8/2026). Perhatian warga tertuju pada Kirab Bendera Merah Putih yang membentang hingga 500 meter dari kawasan Tugu Kujang menuju Pusdikzi.

Kirab tersebut mengambil rute dari Tugu Kujang, melintasi Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Jend. Sudirman, hingga berakhir di kawasan Pusdikzi, Kota Bogor. Lima bendera Merah Putih digunakan dalam kirab tersebut, masing-masing memiliki panjang 100 meter.

Lima bendera dengan panjang keseluruhan 500 meter itu tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian acara peringatan kemerdekaan. Panitia menempatkannya sebagai simbol nilai-nilai Pancasila, persatuan, serta kecintaan terhadap Tanah Air yang ingin terus ditanamkan melalui FMP.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan penyelenggaraan FMP yang telah memasuki tahun ke-11 menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah berkembang menjadi tradisi masyarakat Kota Bogor. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan menjadi salah satu cara menjaga semangat nasionalisme dan patriotisme di tengah masyarakat.

“Yang pertama, ini tradisi yang sudah dibangun dari Bogor dan sudah berlangsung yang ke-11 kali. Ini meneguhkan komitmen kita semua, warga Bogor, untuk selalu membangkitkan rasa nasionalisme, patriotisme, dan tentu saja terus membangun kecintaan kepada Tanah Air dan bangsa,” ujar Dedie Rachim.

Rangkaian FMP tahun ini juga berlangsung sejak pagi hingga sore dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Salah satunya pengibaran hingga penurunan bendera yang diikuti berbagai unsur warga Kota Bogor.

Dedie menilai keterlibatan banyak kelompok dalam kegiatan tersebut membuat FMP memiliki fungsi lain di luar perayaan kemerdekaan. Ia berharap kegiatan itu dapat menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana kebersamaan.

“Insyaallah menjadi suatu perekat bagi warga Kota Bogor untuk terus sayang dan cinta kepada Tanah Air dan bangsa,” katanya.

Menurut Dedie, FMP merupakan warisan gagasan dari para tokoh Bogor yang sejak awal memiliki perhatian terhadap penanaman nilai kebangsaan. Karena itu, keberadaan festival tersebut dinilai tidak cukup hanya dipertahankan sebagai agenda tahunan, tetapi juga harus menjadi sarana meneruskan nilai tersebut kepada generasi berikutnya.

“Artinya kita juga harus menyiapkan generasi penerus yang harus kita wariskan nilai-nilai kebangsaan ini,” ucapnya.

Di sisi lain, pelaksanaan FMP juga dinilai memberikan efek terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Keramaian yang muncul selama kegiatan membuat kawasan Kota Bogor didatangi peserta dari berbagai daerah, selain masyarakat setempat.

“Mulai dari anak kecil, pelajar, perguruan tinggi berbaur menjadi satu bersama masyarakat dari berbagai kalangan. Semuanya terlihat bergembira dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Ini juga ternyata memiliki dampak ekonomi,” jelas Dedie.

Ia menyebut sejumlah tamu dari luar Kota Bogor turut hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain berasal dari Bandung, Samarinda, hingga Medan.

“Insyaallah ini juga akan menggerakkan ekonomi,” tambahnya.

FMP ke-11 tahun ini juga memiliki perbedaan dari pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satu yang paling terlihat adalah penggunaan lima rangkaian bendera dengan panjang masing-masing 100 meter sehingga keseluruhannya mencapai 500 meter.

“FMP yang ke-11 ini spesial, karena ada lima rangkaian bendera, satu bendera panjangnya 100 meter. Panitia saja kurang lebih 3.200 orang, di luar masyarakat yang ikut serta tumpah ruah ke jalan. Jadi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaiannya lebih panjang,” ungkapnya.

Kehadiran ribuan orang tersebut menunjukkan bahwa FMP tidak hanya melibatkan unsur pemerintahan maupun panitia. Anak-anak, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat dari berbagai kelompok turut berada dalam satu rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman hadir mewakili Gubernur Jawa Barat. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bogor dan panitia yang telah mempertahankan penyelenggaraan FMP hingga memasuki tahun ke-11.

“Atas nama Gubernur Jawa Barat, kami mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Bogor dan panitia yang telah melaksanakan kegiatan keren bernama Festival Merah Putih yang ke-11,” ujarnya.

Herman menilai FMP memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar kegiatan seremonial memperingati kemerdekaan. Menurutnya, kirab tersebut menjadi cara untuk menghadirkan kembali semangat perjuangan yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

“Ini luar biasa, karena bukan hanya simbolik, tapi bagaimana kita mengkirabkan spirit perjuangan yang sudah dilakukan para pendahulu kita dulu hingga bangsa ini merdeka,” katanya.

Ia mengatakan generasi saat ini menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda dengan para pahlawan pada masa lalu. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa dan raga, kini tugas masyarakat adalah mengisi kemerdekaan dengan kerja dan kontribusi bagi bangsa.

“Kalau dulu pahlawan merebut kemerdekaan, maka sekarang tugas kita adalah mengisi kemerdekaan. Tetapi spiritnya harus sama, representasinya merah putih, spirit perjuangan, pantang menyerah untuk bertaruh. Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan,” ungkapnya.

Herman kemudian mengaitkan semangat tersebut dengan agenda pembangunan yang dihadapi pemerintah saat ini. Menurutnya, tantangan setelah kemerdekaan antara lain memastikan masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.

Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian mencakup penurunan angka kemiskinan, pengurangan pengangguran, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan. Ia menyebut persoalan tersebut menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam agenda pembangunan daerah.

“Ini menjadi konsen Gubernur Jawa Barat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju Jawa Barat istimewa,” pungkasnya.

Editor: IJS