Dikenal sebagai “Pak Salib” di Nduga, Iptu Motalip Litiloly Raih Hoegeng Awards 2026

Iptu Motalip Litiloly, penerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. (Dok.Polri)
Iptu Motalip Litiloly, penerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. (Dok.Polri)

Harnas.id, JAKARTA – Pengabdian panjang Iptu Motalip Litiloly di wilayah pedalaman Papua Pegunungan berbuah apresiasi nasional. Perwira yang bertugas di Kabupaten Nduga itu dinobatkan sebagai penerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman berkat pendekatan humanis yang konsisten dijalankannya selama bertahun-tahun.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas dedikasi Motalip dalam menjaga keamanan sekaligus membangun hubungan yang erat dengan masyarakat di salah satu wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang tidak sederhana. Di tengah berbagai dinamika yang ada, ia memilih membangun kepercayaan warga melalui dialog dan kedekatan, bukan sekadar pendekatan formal kepolisian.

Nama Iptu Motalip Litiloly bukan sosok baru bagi masyarakat Nduga. Sejak 2012, saat Pospol Kenyam mulai dibentuk, ia telah menjadi bagian dari perjalanan pelayanan kepolisian di daerah tersebut.

Bertugas di kawasan pegunungan dengan akses yang terbatas membuat pendekatan keamanan konvensional tidak selalu menjadi solusi utama. Karena itu, Motalip memilih cara yang lebih membumi dengan hadir langsung di tengah masyarakat, mendatangi rumah-rumah warga, berdialog secara personal, hingga mengajak masyarakat berkumpul di pos polisi untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka.

Pendekatan yang dilakukan secara konsisten itu perlahan mengubah hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat setempat. Kepercayaan yang tumbuh dari interaksi sehari-hari membuat kehadiran polisi semakin diterima sebagai bagian dari kehidupan warga.

Tak heran jika masyarakat Nduga kemudian mengenalnya dengan panggilan akrab “Pak Salib”. Sebutan tersebut bukan sekadar nama panggilan, melainkan bentuk penghormatan atas kedekatan, kepedulian, dan pengabdiannya kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang maupun kelompok tertentu.

Selain membangun komunikasi dengan warga, Iptu Motalip juga dikenal aktif terlibat dalam berbagai upaya penyelesaian konflik sosial yang terjadi di wilayah Nduga. Dalam sejumlah kesempatan, ia hadir langsung di tengah masyarakat untuk membantu menciptakan ruang dialog dan mendorong terciptanya perdamaian.

Keberaniannya turun ke lokasi konflik serta kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai pihak menjadi salah satu faktor yang membuatnya dipercaya oleh masyarakat. Ia secara rutin menjalin hubungan dengan tokoh adat, tokoh agama, serta para pemangku kepentingan lokal guna menjaga stabilitas dan ketertiban di daerah tersebut.

Di wilayah yang memiliki tantangan keamanan cukup kompleks, pendekatan berbasis kepercayaan dinilai menjadi modal penting dalam menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan aparat negara. Kiprah Iptu Motalip menunjukkan bahwa kehadiran polisi di daerah pedalaman tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga membangun rasa aman melalui kedekatan sosial.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan Hoegeng Awards diberikan kepada anggota Polri yang menunjukkan integritas, keteladanan, serta pengabdian nyata kepada masyarakat dalam menjalankan tugasnya.

Menurutnya, sosok Iptu Motalip menjadi contoh bagaimana pelayanan kepolisian dapat diterima dengan baik ketika dibangun melalui kepedulian, komunikasi, dan pendekatan kemanusiaan yang tulus.

“Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi dan keteladanan anggota Polri yang bekerja dengan hati, mengedepankan pendekatan kemanusiaan, serta menghadirkan rasa aman bagi masyarakat, termasuk di wilayah tapal batas dan pedalaman. Sosok Iptu Motalip Litiloly menunjukkan bahwa kehadiran Polri dapat diterima melalui kepercayaan, kepedulian, dan pelayanan yang tulus,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir.

Hoegeng Awards sendiri merupakan ajang penghargaan tahunan yang diberikan kepada anggota Polri yang dinilai memiliki dedikasi, integritas, inovasi, dan kepedulian tinggi dalam menjalankan tugas. Penghargaan ini menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap personel yang menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui kerja-kerja kepolisian yang profesional dan humanis.

Lebih dari sekadar penghargaan individu, kisah Iptu Motalip menjadi gambaran bahwa pelayanan publik di wilayah terpencil membutuhkan kemampuan membangun hubungan sosial yang kuat. Kepercayaan masyarakat yang diperoleh melalui komunikasi dan kepedulian sering kali menjadi fondasi penting dalam menjaga keamanan serta ketertiban di daerah pedalaman.

Penghargaan yang diterima Motalip juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan tugas kepolisian tidak selalu diukur dari angka dan statistik semata. Di banyak daerah, terutama wilayah perbatasan dan pedalaman, kehadiran polisi yang mampu diterima masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan stabilitas dan rasa aman yang berkelanjutan.

Editor: IJS