
Harnas.id, MAKKAH – Perjalanan ke Tanah Suci bagi setiap Muslim selalu menyimpan kisah yang berbeda. Bagi Ferdi Setiawan, perjalanan haji tahun 2026 bukan sekadar memenuhi panggilan Allah SWT atau menjalankan amanah sebagai Petugas Media Center Haji Daerah Kerja Bandara. Di balik tugas melayani ribuan jemaah Indonesia, ia juga harus menghadapi ujian paling berat dalam hidupnya, kehilangan sang ibu ketika masih berada di Arab Saudi.
Ferdi, yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV dan Sinpo.id, mengaku momen pertama menginjakkan kaki di Bandara Internasional King Abdul Aziz menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Tanah Suci mengingatkannya pada perjalanan umrah yang ia jalani bersama putra sulungnya pada akhir 2024.
Saat itu, di hadapan Multazam, ia memanjatkan doa agar suatu hari Allah kembali memanggilnya ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Doa yang semula hanya menjadi harapan, dua tahun kemudian benar-benar menjadi kenyataan.
“Rasanya seperti tidak percaya. Saya hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah. Allah benar-benar mengabulkan doa yang pernah saya panjatkan,” kenangnya.
Ia juga teringat sahabatnya sesama jurnalis, Aiman Witjaksono, yang kala itu turut mendoakannya di Multazam agar segera mendapat kesempatan berhaji. Menurut Ferdi, doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar yang akhirnya dikabulkan Allah SWT melalui jalan yang tak pernah ia bayangkan.
Bukan sebagai jemaah reguler, melainkan sebagai petugas haji yang mendapat amanah melayani para tamu Allah.
Perjalanan menuju Tanah Suci sebenarnya telah lama ia upayakan. Bersama sang istri, Ferdi telah mendaftar haji sejak 2018 dengan estimasi keberangkatan pada 2034.
Di sela menunggu antrean, ia beberapa kali mencoba mendaftar sebagai petugas haji ketika masih bekerja di Metro TV. Namun kesempatan itu belum berpihak kepadanya.
Baru pada musim haji 2026, jalan itu benar-benar terbuka ketika dirinya dipercaya menjadi Petugas Media Center Haji mewakili Sinpo TV.
Bagi Ferdi, kesempatan tersebut bukan sekadar penugasan jurnalistik. Ia memaknainya sebagai jawaban atas doa panjang yang dipanjatkan selama bertahun-tahun.
Momen paling emosional berikutnya datang ketika ia pertama kali menatap Ka’bah.

Di tengah lautan manusia yang bertawaf, air matanya tak terbendung. Ia merasa menjadi manusia yang sangat kecil di hadapan kebesaran Allah SWT.
Di depan Ka’bah, doa pertama yang keluar bukan untuk dirinya sendiri.
Ferdi justru memohon kesembuhan bagi ibunya yang saat itu tengah menjalani perawatan intensif di Indonesia.
Ia mengaku berangkat ke Tanah Suci dengan hati yang tidak sepenuhnya tenang. Kondisi kedua orang tuanya yang sama-sama sakit menjadi beban batin yang terus ia bawa selama menjalankan tugas.
Sang ayah mengalami gangguan kesehatan akibat faktor usia, sementara ibunya harus terbaring lemah karena komplikasi penyakit.
Meski demikian, Ferdi memilih tetap berangkat setelah menitipkan kedua orang tuanya kepada keluarga dan berserah diri kepada Allah SWT.
“Saya percaya, kalau Allah yang memanggil, Allah juga yang menjaga semuanya,” ujarnya.
Ujian terberat datang ketika puncak ibadah haji berlangsung.
Saat jutaan umat Islam menjalani wukuf di Arafah, Ferdi menerima panggilan video dari keluarganya di Indonesia.
Di layar telepon genggam, ia melihat kondisi ibunya yang sudah kritis.
Seluruh keluarga telah berkumpul di rumah sakit dan meminta dirinya mengikhlaskan sang ibu.
Momen itu membuatnya seolah kehilangan tenaga.
Ia hanya mampu menatap wajah ibunya melalui layar sambil terus melafalkan istigfar, tahlil, dan doa.
Dalam tangisnya, Ferdi memohon satu keajaiban kepada Allah SWT agar ibunya diberi kesempatan bertahan hingga dirinya kembali ke Indonesia.
Namun takdir berkata lain.
Pada 20 Juni 2026, ketika masih bertugas melayani jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, kabar duka itu datang.
Ibunya wafat.
Ferdi tidak dapat pulang.
Ia juga tidak bisa mengantarkan sang ibu ke tempat peristirahatan terakhir.
Sebagai petugas haji, ia memilih menuntaskan amanah melayani para tamu Allah.
Keputusan itu menjadi salah satu ujian terberat yang pernah ia jalani.
“Saya sangat terpukul. Tetapi saya yakin Allah telah menyiapkan tempat terbaik untuk ibu saya,” tuturnya.
Di balik kesedihan tersebut, Ferdi mengaku justru menemukan makna baru tentang ibadah haji.
Menurutnya, perjalanan spiritual bukan hanya soal kekuatan fisik menghadapi cuaca ekstrem atau padatnya aktivitas ibadah, melainkan kemampuan menjaga hati tetap ikhlas ketika menghadapi ujian yang datang bersamaan.
Selama bertugas, ia juga menyaksikan langsung bagaimana jutaan manusia dari berbagai negara berdiri sejajar tanpa membedakan status sosial, jabatan maupun kekayaan.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT hanya dengan membawa amal perbuatannya.
Ferdi mengatakan sepulang dari Tanah Suci, ia ingin memulai kembali kehidupannya dengan semangat yang berbeda.
Ia bertekad memperbaiki kualitas ibadah, lebih menghargai waktu, lebih dekat dengan keluarga, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai bagian dari ibadah.
Baginya, gelar haji bukan sekadar penyematan nama di depan identitas seseorang, melainkan amanah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga meyakini bahwa semua perjalanan hidup, termasuk kehilangan sang ibu di tengah menjalankan tugas negara, merupakan bagian dari rencana Allah SWT yang tidak selalu dapat dipahami manusia.
“Saya datang ke Tanah Suci bukan untuk menjadi orang yang lebih hebat, tetapi untuk pulang sebagai hamba yang lebih baik,” ucap Ferdi.
Perjalanan haji tahun 2026 mungkin menjadi salah satu episode paling berat dalam hidupnya. Namun di balik air mata, kehilangan, dan pengabdian, Ferdi menemukan satu keyakinan bahwa setiap doa, setiap amanah, dan setiap ujian selalu memiliki jawaban terbaik menurut kehendak Allah SWT.
Editor: IJS










