Harnas.id, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap alasan dirinya sempat dipindahkan secara diam-diam dari pesawat kepresidenan Air Force One saat berada di Turki. Pemindahan itu dilakukan setelah pasukan pengawal presiden dari Dinas Rahasia Amerika Serikat menerima informasi terkait ancaman keamanan.
Trump mengatakan keputusan tersebut bukan berasal dari dirinya. Ia mengikuti arahan petugas keamanan untuk meninggalkan Air Force One dan menggunakan pesawat militer lain menuju pangkalan udara Inggris.
“Mereka ingin saya naik penerbangan berbeda, pesawat yang berbeda, keamanan yang sama. Mereka ingin saya melakukannya, jadi saya melakukannya. Saya melakukan apa yang mereka katakan,” kata Trump kepada wartawan setelah turun dari Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews, dikutip Rabu (12/8/2026).
Proses pemindahan berlangsung tanpa diketahui banyak orang. Hanya sejumlah kecil pejabat dan staf yang mengetahui bahwa Trump akan meninggalkan pesawat kepresidenan tersebut.
Situasi itu juga tidak terlihat oleh para jurnalis yang berada di dalam pesawat. Petugas meminta awak media menutup jendela sehingga proses perpindahan Trump dari satu pesawat ke pesawat lainnya tidak dapat disaksikan secara langsung.
Trump kemudian dibawa menuju pesawat militer lain menggunakan mobil katering yang biasanya digunakan untuk memasok kebutuhan makanan ke pesawat. Cara tersebut membuat proses perpindahan berlangsung tanpa menarik perhatian.
Presiden AS itu mengakui dirinya mengetahui adanya potensi ancaman, tetapi tidak banyak meminta penjelasan kepada petugas keamanan. Ia juga menyebut ancaman terhadap dirinya bukan sesuatu yang baru.
“Saya kira ada ancaman di luar sana, saya tidak terlalu banyak bertanya tentang itu. Saya sering menerima ancaman,” ujarnya.
Trump tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai bentuk maupun sifat ancaman yang dimaksud. Ia juga memilih tidak menjelaskan alasan sebagian penumpang Air Force One tetap berada di pesawat tersebut meskipun informasi ancaman telah diterima.
Sejumlah pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, tetap berada di Air Force One. Ketika ditanya mengenai kondisi tersebut, Trump justru memperkirakan pesawat yang ditumpanginya sebelumnya kemungkinan menghadapi risiko lebih besar.
“Saya tidak tahu, saya kira sebenarnya pesawat yang saya tumpangi berada dalam risiko lebih besar,” tuturnya.
Peristiwa tersebut terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Turki pada bulan sebelumnya. Dalam perjalanan tersebut, Trump menggunakan pesawat Boeing 747 yang merupakan hadiah dari Qatar.
Sebelum menaiki Air Force One untuk meninggalkan Turki, Trump sempat mengatakan dirinya akan menggunakan pesawat lama untuk menuju lokasi pengisian bahan bakar. Ia menyebut penggunaan pesawat tersebut berkaitan dengan keinginannya agar pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Inggris dapat melihat pesawat baru pemberian Qatar.
Dalam siaran televisi, Trump memang terlihat menaiki Air Force One lama dengan ciri khas warna biru-putih. Namun setelah beberapa waktu berada di dalam pesawat, ia ternyata keluar melalui sisi lain pesawat dan kemudian dibawa menggunakan mobil katering.
Trump selanjutnya dipindahkan ke pesawat C-32A milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat tersebut kemudian membawanya menuju Inggris bersama sejumlah pejabat, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Sesampainya di pangkalan udara Inggris, Trump kembali berganti pesawat. Ia kemudian masuk kembali ke Air Force One tanpa diketahui oleh banyak orang.
Rangkaian perpindahan tersebut menunjukkan bahwa prosedur keamanan presiden dapat dilakukan secara tertutup ketika aparat menilai terdapat risiko tertentu. Dalam kasus ini, Trump mengonfirmasi adanya arahan keamanan, tetapi tidak mengungkap secara rinci ancaman yang menjadi latar belakang pemindahannya.
Editor: IJS











