
Harnas.id, JAKARTA – Suara mesin Vespa klasik berpadu dengan obrolan para scooterist di Museum Satria Mandala, Jakarta, Sabtu (22/8/2026). Ribuan pencinta Vespa 60-an dari berbagai daerah berkumpul dalam gelaran JAM60NAS #2, membawa kendaraan kesayangan sekaligus cerita tentang persaudaraan yang tumbuh dari jalanan.
Di antara barisan Vespa klasik yang memenuhi lokasi acara, BK Scooter Indonesia (BKSI) turut hadir dan menjadi bagian dari pertemuan besar komunitas scooter tersebut.
Bagi BKSI, JAM60NAS #2 bukan sekadar agenda untuk memamerkan kendaraan atau berkumpul sesama pencinta Vespa. Lebih dari itu, pertemuan nasional tersebut menjadi kesempatan untuk menyambung silaturahmi dengan komunitas dari berbagai daerah.
“Bagi kami, Vespa bukan hanya soal kendaraan. Ada cerita, persahabatan, dan rasa persaudaraan yang tumbuh dari perjalanan bersama. Event seperti JAM60NAS menjadi ruang untuk bertemu kembali dengan saudara-saudara sesama scooterist,” demikian semangat BKSI dalam keikutsertaannya di JAM60NAS #2.

Ada alasan mengapa Vespa klasik masih memiliki tempat khusus di hati para penggemarnya.
Di tengah dominasi kendaraan modern, scooter keluaran era 1960-an justru menjadi simbol perjalanan waktu. Sebagian datang dengan Vespa yang masih mempertahankan bentuk aslinya, sementara lainnya membawa hasil restorasi yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.
Bagi pemiliknya, setiap goresan, suara mesin hingga perjalanan ratusan kilometer memiliki cerita tersendiri.
JAM60NAS #2 mempertemukan cerita-cerita tersebut dalam satu tempat.
Para scooterist tidak hanya bertemu untuk berbincang tentang mesin, spare part atau restorasi. Percakapan berkembang menjadi cerita perjalanan, pengalaman touring, hingga pertemanan yang terjalin selama bertahun-tahun.
Suasana semacam itu pula yang membuat BKSI melihat kegiatan komunitas sebagai bagian penting dari perjalanan ekosistem Vespa di Indonesia.
Kehadiran BKSI di JAM60NAS #2 menjadi bagian dari aktivitas komunitas yang selama ini mereka jalankan.
BKSI menilai kekuatan komunitas justru terletak pada hubungan antarmanusia. Vespa menjadi medium yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda dalam satu kesamaan minat.
“Yang kami cari bukan sekadar ramai-ramai. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap kegiatan bisa memperkuat silaturahmi dan membawa energi positif bagi komunitas,” ujar Kris dari BKSI.

Semangat tersebut terasa sepanjang kegiatan. Para peserta saling menyapa, bertukar cerita, melihat koleksi Vespa milik komunitas lain hingga membicarakan rencana perjalanan berikutnya.
Bagi sebagian orang, pertemuan itu mungkin hanya berlangsung sehari. Namun bagi komunitas, satu pertemuan bisa menjadi awal dari perjalanan baru.
Pemilihan Museum Satria Mandala sebagai lokasi JAM60NAS #2 juga menghadirkan suasana berbeda.
Vespa-vespa klasik yang identik dengan masa lalu hadir di tengah ruang yang menyimpan berbagai cerita sejarah Indonesia. Pertemuan dua unsur tersebut membuat suasana acara terasa seperti perjalanan melintasi waktu.
Generasi yang tumbuh bersama Vespa era 1960-an bertemu dengan generasi lebih muda yang mulai mengenal kendaraan klasik tersebut melalui komunitas.
Di situlah salah satu kekuatan JAM60NAS terlihat. Vespa tidak hanya dipertahankan sebagai benda koleksi, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari budaya komunitas kepada generasi berikutnya.
Bagi BK Scooter Indonesia, keberadaan komunitas menjadi salah satu alasan mengapa budaya Vespa tetap bertahan hingga sekarang.
Aktivitas touring, kopdar, restorasi hingga event nasional membuat hubungan antarscooterist terus terjaga. Dari jalan raya, persaudaraan kemudian berkembang menjadi jaringan komunitas yang saling mendukung.

JAM60NAS #2 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan jaringan tersebut.
BKSI pun berharap kegiatan serupa terus berkembang dan tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menghadirkan aktivitas yang positif bagi komunitas serta masyarakat.
Karena pada akhirnya, yang membuat Vespa tetap berjalan bukan hanya mesin yang dirawat, tetapi juga persaudaraan yang terus dijaga.
Satu scooter, banyak cerita. Satu perjalanan, sejuta saudara.
Editor: IJS










