Harnas.id, PALU – Bentrokan melibatkan kelompok warga Kelurahan Nunu dan warga Kelurahan Tatura Utara, khususnya kawasan Jalan Anoa, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar Jembatan Lalove yang menjadi titik perbatasan kedua wilayah pada Jumat (4/9/2026) dini hari.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, situasi mulai memanas setelah terdengar ledakan kembang api dari arah Jalan Kancil, Kelurahan Tatura Utara. Ledakan tersebut terjadi beberapa kali dan kemudian memicu konsentrasi warga di kawasan Jalan Anoa hingga berujung pada bentrokan di Jembatan Lalove.
Petasan atau kembang api pertama terpantau diledakkan sekitar pukul 00.30 WITA oleh orang yang belum diketahui identitasnya. Selanjutnya, ledakan kedua kembali terdengar sekitar pukul 00.59 WITA dari arah yang sama.
Sekitar pukul 01.00 WITA, warga Tatura Utara mulai berkumpul di Jalan Anoa 1. Sekitar 10 menit kemudian, kelompok warga tersebut bergerak menuju Jalan Lalove di Kelurahan Nunu dengan membawa sejumlah perlengkapan yang disebut digunakan untuk bentrokan.
Dalam perjalanan, kelompok warga tersebut sempat dihentikan dan diberikan imbauan oleh personel Polsek Palu Selatan yang melakukan pengamanan di sekitar lampu lalu lintas Jalan Emmy Saelan. Namun, imbauan tersebut tidak diindahkan dan rombongan tetap bergerak menuju kawasan Jembatan Lalove.
Sekitar pukul 01.15 WITA, personel Raimas Sat Samapta Polresta Palu kembali memberikan imbauan agar kelompok warga Jalan Anoa tidak melakukan penyerangan ke wilayah Kelurahan Nunu. Meski demikian, kelompok tersebut tetap melanjutkan perjalanan hingga mencapai Jembatan Lalove.
Setibanya di jembatan sekitar pukul 01.20 WITA, kelompok warga Anoa disebut melakukan provokasi dengan berteriak, menyalakan laser berwarna hijau, serta mengarahkan cahaya senter ke wilayah Kelurahan Nunu.
Pada saat bersamaan, sejumlah warga Nunu sebelumnya sempat mendatangi Jembatan Lalove untuk melihat kondisi setelah terdengar ledakan kembang api. Bhabinkamtibmas Kelurahan Nunu, Aipda Suyatno, bersama Aipda Arifudin Husen kemudian meminta warga tersebut meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah.
Imbauan tersebut sempat diikuti oleh warga yang berada di lokasi. Namun, setelah mengetahui kelompok warga Anoa telah berada di Jembatan Lalove, informasi tersebut kemudian disampaikan kepada warga Nunu lainnya.
Warga Nunu kemudian berdatangan dan berkonsentrasi di bawah Jembatan Lalove. Berdasarkan laporan yang diterima, sebagian warga membawa sejumlah perlengkapan yang disebut untuk menghadapi bentrokan, antara lain parang, busur panah, senjata rakitan jenis dum-dum, serta senapan angin jenis PCP.
Situasi kemudian meningkat sekitar pukul 01.30 WITA. Kedua kelompok warga berhadapan dan terlibat saling serang di atas Jembatan Lalove.
Dalam bentrokan tersebut, sejumlah benda dan senjata yang disebut digunakan antara lain busur panah, ketapel, senapan PCP, senjata rakitan jenis dum-dum, serta tameng buatan.
Petugas kepolisian kemudian melakukan upaya pembubaran untuk memisahkan kedua kelompok. Penanganan di lapangan terus dilakukan hingga situasi mulai dapat dikendalikan.
Sekitar pukul 02.30 WITA, Kapolresta Palu tiba di lokasi kejadian dan langsung memerintahkan personel Sat Samapta Polresta Palu membubarkan massa dari kedua kelompok.
Upaya pembubaran warga Kelurahan Nunu turut dibantu Pelaksana Tugas Camat Tatanga, Hisyam Baba, S.Sos., M.Adm.KP, bersama Kapolsubsektor Tatanga IPDA Welni Salenda, Bhabinkamtibmas Kelurahan Nunu, serta tokoh masyarakat setempat.
Sekitar pukul 02.51 WITA, kedua kelompok akhirnya berhasil dibubarkan. Warga dari kedua wilayah kemudian diarahkan untuk meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah masing-masing.
Bentrokan tersebut mengakibatkan dua orang warga mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Korban pertama adalah Fatur, 24 tahun, warga Jalan Anoa 1, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan. Ia saat ini menjalani perawatan di UGD RS Bhayangkara Palu.
Berdasarkan keterangan dokter, kondisi Fatur disebut normal. Namun, korban mengalami luka yang diduga akibat terkena peluru senapan angin yang masuk dari bagian perut dan bergerak ke sisi kiri perut.
Peluru tersebut belum dikeluarkan dari tubuh korban karena masih menunggu tindakan dokter spesialis.
Korban kedua adalah Faisal alias Ichal, 33 tahun, warga Jalan Anoa 1, Kelurahan Tatura Utara. Ia mendapatkan perawatan di UGD RS Budi Agung Palu setelah mengalami luka pada lutut kaki sebelah kiri yang disebut akibat terkena tembakan senapan angin.
Setelah massa dari kedua kelompok berhasil dibubarkan, kondisi di sekitar Jembatan Lalove berangsur normal. Sekitar pukul 04.00 WITA, warga dari Kelurahan Nunu maupun Tatura Utara telah meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah masing-masing.
Bentrokan tersebut diketahui berawal dari rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Ledakan kembang api dari arah Jalan Kancil memicu konsentrasi warga di Jalan Anoa, yang kemudian bergerak menuju Jembatan Lalove dan mendapat respons dari warga Kelurahan Nunu.
Aparat kepolisian telah melakukan pengamanan dan pembubaran massa untuk mencegah bentrokan berlanjut. Kondisi di sekitar Jembatan Lalove kemudian dilaporkan terkendali.
Editor: IJS











