Harnas.id, BOGOR – Isu fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak kian sering dibicarakan di ruang publik. Namun, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Euis Sunarti, mengingatkan agar masyarakat tidak memaknai persoalan ini secara hitam-putih.
Menurutnya, fatherless bukan sekadar soal ada atau tidaknya sosok ayah di rumah. Istilah tersebut lebih merujuk pada absennya fungsi pengasuhan dan keterlibatan emosional ayah dalam kehidupan anak.
“Ada ayah yang tinggal serumah, tetapi secara emosional dan pengasuhan justru tidak hadir. Sebaliknya, ada anak tanpa ayah biologis tetapi tetap mendapatkan fungsi keayahan dari lingkungan,” ujarnya dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 mencatat sekitar 20,1 persen anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah. Angka ini dihitung dari indikator anak yang tinggal hanya bersama ibu, tinggal bersama kakek-nenek tanpa ayah, atau memiliki ayah yang bekerja lebih dari 12 jam per hari.
Prof Euis menilai, angka tersebut perlu dibaca sebagai alarm sosial, bukan vonis kegagalan keluarga. “Itu warning agar kita meningkatkan kesadaran. Jangan langsung memaknai semua kondisi itu berdampak buruk,” katanya.
Ia menegaskan, dampak fatherless sangat ditentukan oleh ada tidaknya sistem pendukung di sekitar anak. Peran ayah dalam banyak kasus dapat diisi oleh figur lain, seperti kakek, paman, guru, hingga lingkungan sosial yang positif.
Dalam sejumlah temuan lapangan, ia menyebut banyak anak yatim yang tumbuh sukses tanpa penyimpangan perilaku. Kuncinya terletak pada terpenuhinya kebutuhan emosional dan adanya komunikasi terbuka dalam keluarga.
“Banyak anak yatim yang berhasil tanpa penyimpangan perilaku karena kebutuhan emosionalnya tetap terpenuhi. Jadi bukan soal ada atau tidaknya ayah, tetapi apakah fungsi pengasuhan itu hadir,” jelasnya.
Sebaliknya, kehadiran fisik ayah tidak otomatis menjamin kualitas pengasuhan. Prof Euis mengungkapkan, ada anak yang justru mengalami luka emosional karena merasa diabaikan.
“Ada anak yang mengatakan lebih baik dimarahi daripada dicuekin. Artinya, kebutuhan perhatian itu sangat mendasar,” tambahnya.
Ia juga mengajak masyarakat memperkuat kepedulian sosial terhadap anak-anak di lingkungan sekitar. Tetangga, keluarga besar, hingga komunitas memiliki peran penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman dan suportif.
Konsep Kampung Ramah Keluarga yang ia gagas beberapa tahun terakhir dinilai semakin relevan di tengah perubahan sosial dan pola kerja orang tua. Menurutnya, membangun ekosistem pengasuhan tidak bisa hanya dibebankan pada satu individu.
Orang tua, lanjutnya, perlu menjadikan anak sebagai prioritas dengan menciptakan core memory positif melalui kebersamaan yang dirancang secara sadar. Waktu yang singkat tetap bisa bermakna jika diisi dengan interaksi berkualitas.
“Tidak selalu soal lamanya waktu. Menyapa, mendengarkan, atau membuat agenda khusus bersama anak bisa membuat kehadiran ayah benar-benar dirasakan,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Prof Euis mengingatkan agar narasi Indonesia sebagai negara dengan tingkat fatherless tinggi tidak menimbulkan stigma negatif terhadap para ayah. Data, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran kolektif.
“Gunakan data untuk meningkatkan kesadaran, bukan menyalahkan. Banyak keluarga Indonesia tetap kuat karena dukungan lingkungan dan nilai kebersamaan,” tutupnya.
Editor: IJS











